*Wanita Terbaik*
Dalam Surat Attahrim 11-12 Allah memberi _perumpamaan_ wanita terbaik yg bisa menjadi teladan bagi orang orang beriman, yaitu Asiyah istri Fir'aun dan Maryam ibunda Nabi Isa as sbb
_Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika istri Fir’aun berkata: “Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim.” (Perumpamaan yang lain bagi orang-orang beriman adalah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (At-Tahrim: 11-12)_
Asiyah adalah istri Fir'aun, tapi tetap teguh menjaga keimanan nya pada Allah.Dia tidak terpengaruh dengan kekafiran Fir'aun suami nya sendiri.
Karena keteguhan iman nya, dia rela dihukum dan ketika menjalani hukuman, Asiyah berdoa : _"Ya Allah bangunkan aku sebuah rumah di surga"_
Bagi para wanita muslimah yang kurang beruntung, atau memiliki suami yang yang berakhlak buruk penting kiranya meneladani kisah Asiyah . Agar, kondisi demikian tidak membuatnya lemah, dan semakin jauh dari agama, akan tetapi sebaliknya, Ia malah lebih menjadi kokoh dan teguh pendirian.
Maryam, adalah Ibunda Nabi Isa as, Maryam disebut dalam Al quran sebagai wanita yang menjaga kehormatannya, dan taat beribadah.Maryam lebih suka berdiam diri mendekatkan diri pada Allah dibanding perempuan lain di masanya.
_Siapa wanita terbaik lainnya?_
Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam dalam sebuah hadits dari Imam Ahmad, menceritakan bahwa, Nabi membuat suatu garis di tanah sebanyak empat garis, lalu bertanya, "Tahukah kalian apakah ini?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: (ini menggambarkan)wanita-wanita ahli surga yang paling utama.(yaitu) Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim bekas istri Fir’aun.
Dari hadits diatas disebutkan wanita terbaik lainnya adalah Khadijah dan Fatimah
Khadijah adalah wanita pertama yg beriman pada Nabi, sekaligus dengan suka cita mendukung perjuangan suaminya memberikan harta dan jiwanya untuk perjuangan dakwah Nabi.
Fatimah, adalah putri Nabi, dikisahkan Fatimah adalah wanita yg taat beribadah dan suka bersedekah, meski Putri seorang Nabi, hidupnya sangatlah sederhana.
_Bagaimana dengan Aisyah?_
Dalam Hadits berikut Nabi bersabda
"كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيلد، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيد عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ"
Banyak dari kaum lelaki yang mencapai kesempurnaan, tetapi tiada yang mencapai kesempurnaan dari kaum wanita selain Asiah binti Muzahim bekas istri Fir’aun, Maryam binti Imran, dan Khadijah binti Khuwalid. Dan sesungguhnya _keutamaan Aisyah_ di atas kaum wanita sama dengan keutamaan makanan Sarid di atas makanan lainnya.
Aisyah
Aisyah juga seorang wanita terbaik yg bisa menjadi teladan bagi kaum wanita muslim
Keunggulan Aisyah selain cerdas, menguasai ilmu kedokteran, syair dan fiqih juga banyak meriwayatkan hadits, Aisyah juga sederhana dan banyak bersedekah.
Apa makna Allah memberi perumpamaan diatas?
Allah hendak menyampaikan kepada hamba hamba nya yg percaya, bahwa jika ingin mencontoh wanita terbaik, bukan dilihat dari kecantikan fisik atau dari harta, lihatlah dari segi _keimanan dan ketaqwaan_ nya kepada Allah.Wanita terbaik dalam pandangan Allah adalah wanita yg bisa menjaga kehormatannya, taat beribadah, memiliki hubungan yg baik dengan Allah ,d sabar, dan banyak
beramal sholeh untuk mencari keridhoan Allah semata.
Kultum 22 Juni 2020
Wallahu a'lam bishawab
22 Juni, 2020
20 Juni, 2020
*Cara Allah Menghidupkan Hati yang Mati*
Kultum oleh Nadia Hisyam
_Mulailah memperbaiki kualitas diri dengan memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan Alquran, karena dari situ, kita dapat menjadi pribadi yang baik, yang mampu menebar kebaikan bagi umat manusia._
QS Fusshilat: 39
_Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu._
♦️ Ayat tersebut sebagai penjelas (fusshilat) kepada orang-orang yang belum meyakini bahwa Allah dapat menghidupkan kembali nyawa yang telah mati dan manusia kelak akan dibangkitkan kembali.
Contoh: Allah berkuasa menyuburkan kembali tanaman-tanaman pada musim panas, yang sebelumnya mati pada musim dingin.
♦️ Allah menjelaskan tentang orang-orang yang tidak mau beriman, tidak mendapatkan nur, hatinya telah mati dan mereka menghadapi pertanggungjawaban di hadapan Allah. Mulut, pendengaran, penglihatan, dan hati mereka bersaksi langsung kepada Allah tentang segala kesia-siaan yang mereka perbuat.
Allah juga mendeskripsikan tentang kondisi orang-orang yang beriman di hari kiamat, yang sangat bercahaya dan percaya diri terhadap apa yang telah diperbuat selama di dunia, segala yang telah diperjuangkan demi beribadah dan membela agama Allah.
♦️ Sebagaimana nyawa yang dapat dihidupnya dengan kuasa-Nya, tanah dan tanaman yang mengering dan subur kembali, begitu pula segala bagian tubuh manusia akan dihidupkan dan bersaksi atas apa yang diperbuat oleh pemiliknya selama ia hidup.
QS Al Kahfi: 45
_Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu._
♦️ Hati manusia seperti tanah yang disirami oleh hujan. Hujan dari Allah untuk tanah yang kering, sebagaimana ayat-ayat Alquran untuk hati manusia supaya hati itu hidup, baik, bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.
♦️ Hati yang disirami dengan Alquran hanya setahun sekali (saat ramadhan), sebulan sekali, atau kadang-kadang saja, tentu akan berbeda kualitasnya dengan hati yang selalu rutin diisi dengan Alquran. Maka, hidupkanlah hati dengan Alquran setiap saat.
♦️ Mari berdoa supaya hati kita selalu subur, terisi penuh oleh firman-firman Allah, ilmu, dan petunjuk untuk selalu beribadah dan berada di jalan-Nya.
_"Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)._
16 Juni, 2020
PENDIDKAN NALAR DAN KARAKTER
Kultum Subuh oleh Abduh Hisyam
Ahad, 15/06/2020
Saya beranggapan bahwa ke(tidak)tertiban masyarakat dalam kehdiupan sehari-hari terkait dengan pendidikan yang ia dapatkan di masa kanak-kanak. Jika seseorang dididik berdisiplin sejak kecil, di masa dewasa ia akan menjadi seorang yang sangat berdisiplin. Hasil dari sebuah pendidikan tidak dapat dilihat dalam jangka waktu setahun atau sepuluh tahun. Hasil pendidikan seseorang konon akan tampak setelah empatpuluh tahun. Keadaan orang-orang dewasa saat ini dibentuk oleh pendidikan yang mereka terima, yaitu saat mereka di sekolah.
Bupati Kebumen mendeklarasikan new normal, dan mengumumkan bahwa Kebumen telah zero covid-19. Bupati dan ketua DPRD mengajak beberapa orang pejabat pemkab secara demonstratif mencukur gundul kepala mereka. Masyarakat memandang bahwa Kebumen telah bebas dari pandemic sehingga mereka keluar rumah tanpa memperhatiakn protokol kesehatan. Tempat-tempat wisata dibuka, demikian pula tempat-tempat ibadah. Warga membludak di tempat-tempat wisata. Dua hari kemudian, kasus paparan virus kembali meningkat.
Masyarakat yang sadar kesehatan tentu bertanya-tanya, apa alasan sang bupati sehingga ia berani mengatakan bahwa Kebumen telah terbebas dari pandemic covid-19, padahal virus masih tersebar dan tidak ada jaminan tidak menulari warga. Sebuah keputusan yang diambil tanpa landasan ilmiah. Secara akal sehat diketahui bahwa virus corona tidak akan hilang, apalagi saat vaksin penangkalnya belum ditemukan. Keputusan bahwa Kebumen bebas covid-19 diambil berdasarkan nalar ataukah nafsu belaka? Jangan-jangan para pejabat kabupaten ini tidak punya nalar.
Tanpa pernyataan bahwa Kebumen zero-covid-19 pun, masyarakat sangat abai terhadap protokol kesehatan. Mereka tidak peduli dengan physical distancing, dan sama sekali tidak mengenakan alat pelindung diri (APD). Saat melihat seorang pekerja di pabriknya tidak mengenakan masker, ibu saya bertanya kepada sang pekerja, dan dijawab dengan enteng bahwa virus corona sudah hilang. Persepsi bahwa virus telah hilang di Kebumen ini banyak dipegang warga. Akibatnya sia-sia segala upaya yang telah dilakukan selama tiga bulan. Pandemi bukan semakin reda namun semakin marak.
Sebagai pengamat pendidikan dan masyarakat, saya melihat bahwa kejadian di Kebumen adalah cermin dari pendidikan di sekolah-sekolah selama ini. Sekolah belum mampu membuat masyarakat bernalar. Saya teringat hasil PISA yang dicapai para pelajar Indonesia tahun 2018. Dari 76 negara yang diteliti, nilai para pelajar Indonesia adalah di peringkat 66. Para pelajar kita menempati sepuluh besar paling jeblok. Nilai-nilai mereka jeblok di bidang membaca (371), matematika (379), dan sains (396).
Matematika adalah pelajaran untuk melatih para siswa bernalar. Jika nilai matematika rendah, berarti kemampuan mereka dalam bernalar rendah pula. Itu tercermin dalam tindakan
pejabat pemerintahan. Mereka bekerja tanpa nalar. Padahal bernalar adalah perintah alquran:
أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
Apakah kamu tidak berfikir (Alan’am/6: 50)
أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
Apakah kamu tidak bernalar (Albaqarah/2:44)
Sains adalah pelajaran untuk melatih para siswa mengamati fenomena alam. Para siswa dilatih agar senantiasa menggunakan data empiris dalam memutuskan sesuatu. Jika seseorang tidak terbiasa memperhatikan data-data ilmiah maka keputusan yang ia ambil akan keliru, termasuk memutuskan Kebumen bebas covid-19. Sebuah keputusan tanpa dasar ilmiah sama sekali.
Memperhatikan fenomena alam adalah kewajiban agama, sebagaimana disebut dalam alquran:
أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلۡإِبِلِ كَيۡفَ خُلِقَتۡ ١٧
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan (Alghasyiyah/88:17)
وَإِلَى ٱلسَّمَآءِ كَيۡفَ رُفِعَتۡ ١٨
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan (Aghasyiyah/88:18)
وَإِلَى ٱلۡجِبَالِ كَيۡفَ نُصِبَتۡ ١٩
Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan (Alghasyiyah/88:19)
Slogan Kebumen adalah Beriman: bersih, indah, aman. Beriman berarti mendasari segala tindakan atas nilai-nilai agama: adil, ihsan, menggunakan nalar.
Kita melihat masyarakat di masa pandemi ini banyak tidak mengikuti protokol kesehatan. Mereka tidak mengenakan masker, berkerumun dan saling berjabat tangan, seoalah mereka steril dari virus. Saya melihat ketidaktertiban ini adalah hasil dari pendidikan di negeri ini yang tidak pernah mengajari para siswa untuk bersikap tertib. Di jalanan tidak tertib, juga di rumah dan di sekolah.
Penanaman agar para siswa tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan, dan berperilaku sopan adalah hal-hal yang berperan penting dalam kehidupan. Namun saya khawatir itu semua tidak pernah ditanamkan oleh para guru kepada anak-anak didiknya. Jika kini terjadi polusi di sungai, laut, dan udara, itu karena di sekolah tidak pernah ada pendidikan membuang sampah pada tempatnya.
Pembentukan karakter dan budi pekerti luhur mesti dimulai sejak dini. Jika sudah jadi pejabat, sudah terlambat.
Kultum Subuh oleh Abduh Hisyam
Ahad, 15/06/2020
Saya beranggapan bahwa ke(tidak)tertiban masyarakat dalam kehdiupan sehari-hari terkait dengan pendidikan yang ia dapatkan di masa kanak-kanak. Jika seseorang dididik berdisiplin sejak kecil, di masa dewasa ia akan menjadi seorang yang sangat berdisiplin. Hasil dari sebuah pendidikan tidak dapat dilihat dalam jangka waktu setahun atau sepuluh tahun. Hasil pendidikan seseorang konon akan tampak setelah empatpuluh tahun. Keadaan orang-orang dewasa saat ini dibentuk oleh pendidikan yang mereka terima, yaitu saat mereka di sekolah.
Bupati Kebumen mendeklarasikan new normal, dan mengumumkan bahwa Kebumen telah zero covid-19. Bupati dan ketua DPRD mengajak beberapa orang pejabat pemkab secara demonstratif mencukur gundul kepala mereka. Masyarakat memandang bahwa Kebumen telah bebas dari pandemic sehingga mereka keluar rumah tanpa memperhatiakn protokol kesehatan. Tempat-tempat wisata dibuka, demikian pula tempat-tempat ibadah. Warga membludak di tempat-tempat wisata. Dua hari kemudian, kasus paparan virus kembali meningkat.
Masyarakat yang sadar kesehatan tentu bertanya-tanya, apa alasan sang bupati sehingga ia berani mengatakan bahwa Kebumen telah terbebas dari pandemic covid-19, padahal virus masih tersebar dan tidak ada jaminan tidak menulari warga. Sebuah keputusan yang diambil tanpa landasan ilmiah. Secara akal sehat diketahui bahwa virus corona tidak akan hilang, apalagi saat vaksin penangkalnya belum ditemukan. Keputusan bahwa Kebumen bebas covid-19 diambil berdasarkan nalar ataukah nafsu belaka? Jangan-jangan para pejabat kabupaten ini tidak punya nalar.
Tanpa pernyataan bahwa Kebumen zero-covid-19 pun, masyarakat sangat abai terhadap protokol kesehatan. Mereka tidak peduli dengan physical distancing, dan sama sekali tidak mengenakan alat pelindung diri (APD). Saat melihat seorang pekerja di pabriknya tidak mengenakan masker, ibu saya bertanya kepada sang pekerja, dan dijawab dengan enteng bahwa virus corona sudah hilang. Persepsi bahwa virus telah hilang di Kebumen ini banyak dipegang warga. Akibatnya sia-sia segala upaya yang telah dilakukan selama tiga bulan. Pandemi bukan semakin reda namun semakin marak.
Sebagai pengamat pendidikan dan masyarakat, saya melihat bahwa kejadian di Kebumen adalah cermin dari pendidikan di sekolah-sekolah selama ini. Sekolah belum mampu membuat masyarakat bernalar. Saya teringat hasil PISA yang dicapai para pelajar Indonesia tahun 2018. Dari 76 negara yang diteliti, nilai para pelajar Indonesia adalah di peringkat 66. Para pelajar kita menempati sepuluh besar paling jeblok. Nilai-nilai mereka jeblok di bidang membaca (371), matematika (379), dan sains (396).
Matematika adalah pelajaran untuk melatih para siswa bernalar. Jika nilai matematika rendah, berarti kemampuan mereka dalam bernalar rendah pula. Itu tercermin dalam tindakan
pejabat pemerintahan. Mereka bekerja tanpa nalar. Padahal bernalar adalah perintah alquran:
أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
Apakah kamu tidak berfikir (Alan’am/6: 50)
أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
Apakah kamu tidak bernalar (Albaqarah/2:44)
Sains adalah pelajaran untuk melatih para siswa mengamati fenomena alam. Para siswa dilatih agar senantiasa menggunakan data empiris dalam memutuskan sesuatu. Jika seseorang tidak terbiasa memperhatikan data-data ilmiah maka keputusan yang ia ambil akan keliru, termasuk memutuskan Kebumen bebas covid-19. Sebuah keputusan tanpa dasar ilmiah sama sekali.
Memperhatikan fenomena alam adalah kewajiban agama, sebagaimana disebut dalam alquran:
أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلۡإِبِلِ كَيۡفَ خُلِقَتۡ ١٧
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan (Alghasyiyah/88:17)
وَإِلَى ٱلسَّمَآءِ كَيۡفَ رُفِعَتۡ ١٨
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan (Aghasyiyah/88:18)
وَإِلَى ٱلۡجِبَالِ كَيۡفَ نُصِبَتۡ ١٩
Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan (Alghasyiyah/88:19)
Slogan Kebumen adalah Beriman: bersih, indah, aman. Beriman berarti mendasari segala tindakan atas nilai-nilai agama: adil, ihsan, menggunakan nalar.
Kita melihat masyarakat di masa pandemi ini banyak tidak mengikuti protokol kesehatan. Mereka tidak mengenakan masker, berkerumun dan saling berjabat tangan, seoalah mereka steril dari virus. Saya melihat ketidaktertiban ini adalah hasil dari pendidikan di negeri ini yang tidak pernah mengajari para siswa untuk bersikap tertib. Di jalanan tidak tertib, juga di rumah dan di sekolah.
Penanaman agar para siswa tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan, dan berperilaku sopan adalah hal-hal yang berperan penting dalam kehidupan. Namun saya khawatir itu semua tidak pernah ditanamkan oleh para guru kepada anak-anak didiknya. Jika kini terjadi polusi di sungai, laut, dan udara, itu karena di sekolah tidak pernah ada pendidikan membuang sampah pada tempatnya.
Pembentukan karakter dan budi pekerti luhur mesti dimulai sejak dini. Jika sudah jadi pejabat, sudah terlambat.
12 Juni, 2020
Kultum Subuh
12/6/2020
Navi Agustina
*Keutamaan Sifat Tawadhu*
Allah SWT berfirman, *Dan berendah hati lah (tawadhu) kamu terhadap orang-orang yang beriman,"*
(QS 15: 88).
Dalam Ihya' Ulumuddin, diriwayatkan bahwa suatu ketika Yunus bin 'Ubaid, Ayyub As-Sakhtiani dan al-Hasan al- Basri mendiskusikan arti tawadhu.
Hasan berkata, "Tahukah kamu apa itu tawadhu? Tawadhu ialah saat kamu keluar dari rumah dan menjumpai seorang Muslim lalu kamu melihat bahwa orang tersebut memiliki kelebihan daripada dirimu sendiri."
Manfaat Sifat Tawadhu
1. Mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.
2. Menjadikan adil, disayangi orang2 di bumi
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ /rendah hati , melainkan Allah akan meninggikannya.”
(HR. Muslim no. 2588).
Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat.
Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia.
Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 142)
Tawadhu’ juga merupakan akhlak mulia dari para nabi.
Nabi Musa ‘ membantu memberi minum pada hewan ternak dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta.
Sifat tawadhu’ Nabi Isa ditunjukkan dalam perkataannya dalam Al quran
وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا
“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”
(QS. Maryam: 32).
Lihatlah sifat mulia para nabi tersebut. Karena sifat tawadhu’, mereka menjadi mulia di _dunia dan di akhirat_
Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi kita. Beliau pernah bersabda,
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.”
(HR. Muslim no. 2865).
Nabi Muhammad.saw sendiri suka memberi salam pada anak anak kecil juga kepada para hamba sahaya, dan menyapa mereka.
Nabi Muhammad juga tidak sungkan untuk membantu pekerjaan istrinya, memperbaiki sepatu, manjahit ,.mengangkut air dll.
Pernah seorang sahabat ketika shalat dan membaca samiallahu liman hamidah rabbana wa lakal hamdu si sahabat berdoa hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiihi
Lalu Nabi menyanpaikan kan bahwa ketika dia berdoa dg lafal tersebut para Malaikat mengerumuninya.
Disini Nabi menyampaikan kebenaran meski itu datang dari orang yg ilmunya di bawah Nabi. itulah sifat Tawadhu
Para Nabi adalah orang orang yang dekat dengan orang miskin.
Ketika Raja Heraklius menanyakan kepada Abu Sufyan bagaimana sifat Nabi, Abu Sufyan menjawab, Nabi menyuruh shalat lima waktu, membayar zakat, silaturahmi dan Nabi dekat dengan orang miskin.
Begitu mendengar jawaban Abu Sufyan Heraklius menjawab...
Berarti memang Muhammad adalah sorang Nabi.
Lawan sifat tawadhu adalah sombong.
Sombong adalah tidak mau menerima kebenaran dan meremehkan manusia.
Firaun, Namrud , Qarun, adalah orang orang yg sombong karena _menolak kebenaran dan meremehkan manusia_ .Mereka meremehkan peringatan para Nabi, bahkan para Nabi dimusuhi.
Nasehat bagus dari beliau Sufyan bin ‘Uyainah yang mengatakan
_“Siapa yang maksiatnya karena syahwat_ maka taubat akan membebaskan dirinya.
Buktinya saja Nabi Adam ‘alaihis salam bermaksiat karena nafsu syahwatnya, lalu ia bersitighfar (memohon ampun pada Allah), Allah pun akhirnya mengampuninya.
Namun, jika siapa yang _maksiatnya karena sifat sombong_
(lawan dari tawadhu’), khawatirlah karena laknat Allah akan menimpanya.
Ingatlah bahwa Iblis itu bermaksiat karena sombong (takabbur), lantas Allah pun melaknatnya.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
*Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu. (HR. Muslim)*
Kultum 12/6/2020
Sumber : Kitab Riyadushalihin
Republika
Muslim or id
12/6/2020
Navi Agustina
*Keutamaan Sifat Tawadhu*
Allah SWT berfirman, *Dan berendah hati lah (tawadhu) kamu terhadap orang-orang yang beriman,"*
(QS 15: 88).
Dalam Ihya' Ulumuddin, diriwayatkan bahwa suatu ketika Yunus bin 'Ubaid, Ayyub As-Sakhtiani dan al-Hasan al- Basri mendiskusikan arti tawadhu.
Hasan berkata, "Tahukah kamu apa itu tawadhu? Tawadhu ialah saat kamu keluar dari rumah dan menjumpai seorang Muslim lalu kamu melihat bahwa orang tersebut memiliki kelebihan daripada dirimu sendiri."
Manfaat Sifat Tawadhu
1. Mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.
2. Menjadikan adil, disayangi orang2 di bumi
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ /rendah hati , melainkan Allah akan meninggikannya.”
(HR. Muslim no. 2588).
Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat.
Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia.
Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 142)
Tawadhu’ juga merupakan akhlak mulia dari para nabi.
Nabi Musa ‘ membantu memberi minum pada hewan ternak dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta.
Sifat tawadhu’ Nabi Isa ditunjukkan dalam perkataannya dalam Al quran
وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا
“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”
(QS. Maryam: 32).
Lihatlah sifat mulia para nabi tersebut. Karena sifat tawadhu’, mereka menjadi mulia di _dunia dan di akhirat_
Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi kita. Beliau pernah bersabda,
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.”
(HR. Muslim no. 2865).
Nabi Muhammad.saw sendiri suka memberi salam pada anak anak kecil juga kepada para hamba sahaya, dan menyapa mereka.
Nabi Muhammad juga tidak sungkan untuk membantu pekerjaan istrinya, memperbaiki sepatu, manjahit ,.mengangkut air dll.
Pernah seorang sahabat ketika shalat dan membaca samiallahu liman hamidah rabbana wa lakal hamdu si sahabat berdoa hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiihi
Lalu Nabi menyanpaikan kan bahwa ketika dia berdoa dg lafal tersebut para Malaikat mengerumuninya.
Disini Nabi menyampaikan kebenaran meski itu datang dari orang yg ilmunya di bawah Nabi. itulah sifat Tawadhu
Para Nabi adalah orang orang yang dekat dengan orang miskin.
Ketika Raja Heraklius menanyakan kepada Abu Sufyan bagaimana sifat Nabi, Abu Sufyan menjawab, Nabi menyuruh shalat lima waktu, membayar zakat, silaturahmi dan Nabi dekat dengan orang miskin.
Begitu mendengar jawaban Abu Sufyan Heraklius menjawab...
Berarti memang Muhammad adalah sorang Nabi.
Lawan sifat tawadhu adalah sombong.
Sombong adalah tidak mau menerima kebenaran dan meremehkan manusia.
Firaun, Namrud , Qarun, adalah orang orang yg sombong karena _menolak kebenaran dan meremehkan manusia_ .Mereka meremehkan peringatan para Nabi, bahkan para Nabi dimusuhi.
Nasehat bagus dari beliau Sufyan bin ‘Uyainah yang mengatakan
_“Siapa yang maksiatnya karena syahwat_ maka taubat akan membebaskan dirinya.
Buktinya saja Nabi Adam ‘alaihis salam bermaksiat karena nafsu syahwatnya, lalu ia bersitighfar (memohon ampun pada Allah), Allah pun akhirnya mengampuninya.
Namun, jika siapa yang _maksiatnya karena sifat sombong_
(lawan dari tawadhu’), khawatirlah karena laknat Allah akan menimpanya.
Ingatlah bahwa Iblis itu bermaksiat karena sombong (takabbur), lantas Allah pun melaknatnya.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
*Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu. (HR. Muslim)*
Kultum 12/6/2020
Sumber : Kitab Riyadushalihin
Republika
Muslim or id
*Do Not Let Me To Myself*
Kultum Oleh Nadia Hisyam
Nasihat seorang ayah (manusia terbaik: Rasulullah) kepada putrinya (perempuan pemuka surga: Fatimah), untuk membaca sebuah doa tiap pagi dan petang, yaitu:
_Ya hayyu ya qayyum birahmatika astaghistu aslihli sya'ni kullahu wala taqilni ila nafsi tharfata 'ain_
1. Sebutan yang komprehensif
_Ya hayyu_: wahai Rabb Yang Maha Hidup
-Allah adalah sumber kehidupan yang selalu hidup (yang mengawali, mengakhiri, dan membangkitkan)
_Ya qayyum_: wahai Rabb yang berdiri sendiri, tidak butuh segala sesuatu
•Allah bukan hanya menghidupkan, tapi juga mengontrol dan memelihara setiap saat. Semua rezeki makhluk diatur oleh Allah.
•_Ya hayyu ya qayyum_ ada di ayat kursi dan surat thaha. Jika berdoa dengan menyebut nama tersebut akan langsung diijabah (diriwayatkan oleh Anas)
2. Kekuasaan yang komprehensif
_Bi rahmatika astaghistu_: dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan
•Rahmat Allah meliputi segala sesuatu (surga, ampunan, dan pertolongan dunia & akhirat).
3. Permohonan yang komprehensif
_Aslihli sya'ni kullahu_: perbaiki semua urusanku
•Kita meminta agar semua urusan kita diperbaiki baik itu agama, dunia, dan akhirat.
4. Tenang dan menerima
_Wala taqilni ila nafsi tharfata 'ain_: dan jangan serahkan kepadaku sekalipun sekejap mata
•Kenapa kita serahkan semua pada Allah? Karena ada hal di luar kuasa kita yang kita tidak mampu atur. Urusan mengedipkan mata setiap detik, detak jantung, tarikan nafas, aliran darah, seluruhnya sama sekali di luar kendali kita dan kita tidak bisa mengaturnya sendiri. Apalagi hal-hal yang di luar kendali. Maka kita tenang dan yakin bahwa Allah, yang Maha Bijaksana, tahu yang terbaik untuk kita karena ilmu kita tidak ada apa-apanya. Percaya bahwa Allah punya ketetapan terbaik, lebih sempurna dibanding apa yang kita anggap baik. Maka yang harus kita lakukan adalah memaksimalkan/berikhtiar pada hal-hal yang bisa kita kontrol.
•Taat dan menerima dengan melaksanakan yang bisa kita kontrol, adalah bentuk ibadah juga. Pondasi tawakkal menurut Hatim Al Assam:
1. rezeki tidak mungkin tertukar, maka aku merasa aman
2. amalan kita tidak mungkin dilakukan orang lain, maka aku harus sibuk mengerjakannya
3. kematian yang datang tiba-tiba mengharuskan aku harus bersegera beribadah
4. Allah selalu mengawasi, maka aku selalu merasa malu.
Kultum Oleh Nadia Hisyam
Nasihat seorang ayah (manusia terbaik: Rasulullah) kepada putrinya (perempuan pemuka surga: Fatimah), untuk membaca sebuah doa tiap pagi dan petang, yaitu:
_Ya hayyu ya qayyum birahmatika astaghistu aslihli sya'ni kullahu wala taqilni ila nafsi tharfata 'ain_
1. Sebutan yang komprehensif
_Ya hayyu_: wahai Rabb Yang Maha Hidup
-Allah adalah sumber kehidupan yang selalu hidup (yang mengawali, mengakhiri, dan membangkitkan)
_Ya qayyum_: wahai Rabb yang berdiri sendiri, tidak butuh segala sesuatu
•Allah bukan hanya menghidupkan, tapi juga mengontrol dan memelihara setiap saat. Semua rezeki makhluk diatur oleh Allah.
•_Ya hayyu ya qayyum_ ada di ayat kursi dan surat thaha. Jika berdoa dengan menyebut nama tersebut akan langsung diijabah (diriwayatkan oleh Anas)
2. Kekuasaan yang komprehensif
_Bi rahmatika astaghistu_: dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan
•Rahmat Allah meliputi segala sesuatu (surga, ampunan, dan pertolongan dunia & akhirat).
3. Permohonan yang komprehensif
_Aslihli sya'ni kullahu_: perbaiki semua urusanku
•Kita meminta agar semua urusan kita diperbaiki baik itu agama, dunia, dan akhirat.
4. Tenang dan menerima
_Wala taqilni ila nafsi tharfata 'ain_: dan jangan serahkan kepadaku sekalipun sekejap mata
•Kenapa kita serahkan semua pada Allah? Karena ada hal di luar kuasa kita yang kita tidak mampu atur. Urusan mengedipkan mata setiap detik, detak jantung, tarikan nafas, aliran darah, seluruhnya sama sekali di luar kendali kita dan kita tidak bisa mengaturnya sendiri. Apalagi hal-hal yang di luar kendali. Maka kita tenang dan yakin bahwa Allah, yang Maha Bijaksana, tahu yang terbaik untuk kita karena ilmu kita tidak ada apa-apanya. Percaya bahwa Allah punya ketetapan terbaik, lebih sempurna dibanding apa yang kita anggap baik. Maka yang harus kita lakukan adalah memaksimalkan/berikhtiar pada hal-hal yang bisa kita kontrol.
•Taat dan menerima dengan melaksanakan yang bisa kita kontrol, adalah bentuk ibadah juga. Pondasi tawakkal menurut Hatim Al Assam:
1. rezeki tidak mungkin tertukar, maka aku merasa aman
2. amalan kita tidak mungkin dilakukan orang lain, maka aku harus sibuk mengerjakannya
3. kematian yang datang tiba-tiba mengharuskan aku harus bersegera beribadah
4. Allah selalu mengawasi, maka aku selalu merasa malu.
06 Juni, 2020
Hadits Seputar Shalat
HADITS SEPUTAR SALAT
Kultum oleh Hasan Bayuni
6/06/2020
ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ
"bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an" (Almuzamil/73:20)
Apa yang dimaksud dengan "yang mudah"?
Surat atau ayat apakah yang mudah dibaca? Tidak ada penjalasan. Ada beberapa hadits yang mengisahkan kepda kita apa saja yang dibaca Rasulullah tiap-tiap salat.
Fakta yang didapat dari hadits berbeda-beda. Penyampai hadits pun dapat keliru baik disengaja atau tidak disengaja.
Ada hadits yang mengisahkan kepada kita bahwa pada waktu mengimami salat Id dan salat Jumat nabi membaca surat "Al A'la" di rakaat pertama dan "alghasyiyah" di rakaat kedua.
Di dalam hadits dikatakan bahwa Nabi membaca: "sabih isma rabbika al 'ala"
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
(Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi)
dan "hal ataka haditsul ghasyiyah."
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ
(Sudah sampaikah kepadamu berita tentang hari kiamat)
Di masa Rasulullah surat-surat belum diberi nama sebagaimana Kita kenal sekarang.
Dari Abdullah ibn Umar, "Umar pernah bertanya kepada seorang sahabat bernama Al-Laitsi. Apa yang dibaca Rasulullah saat salat Idul Fitri. Ia menjawab: "Qaf Wal Quran almajid."
ق ۚ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ
(Qaaf. Demi Al-Qur'an yang mulia)
Maksudnya Surat Qaf/50.
Serta "iqtarabat as sa'ah wa insyaqqal qamar." Yang dimaksud adalah Surat Alqamar/54.
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah.
Ada hadits lain yang mengisahkan bahwa nabi saat salat Subuh membaca "iza syamsu kuwirat."
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
(Apabila matahari digulung)
Yang dimaksud adalah Surat Attakwir/81.
Tidak ada kewajiban untuk membaca surat tertentub dalam salat. Surat yang dibaca Nabi berbeda-beda dalam mengerjakan salat.
Salat jamaah adalah bagaikan model sebuah kepemimpinan. Nabi diriwayatkan usai mengakhir salat dengan salam segera berbalik untuk melihat keadaan makmum. Beliau ingin tahu siapa anggota jamaah yang tidak hadir. Adakah orang asing (musafir) yang ikut salat berjamaah.
Apa yang dilakukan Nabi adalah sebuah kepedulian. Seorang pemimpin, apakah itu raja, president atau walikota harus sering melihat keadaan rakyatnya.
Imam yang baik, jika tahu ada salah seorang jamaahnya sedang tidak enak badan akan mempercepat gerakan salat dan membaca surat pendek agar tidak memberatkan makmum yang sakit.
Demikian beberapa hadits yang menjelaskan tentang ayat ke 19 dari surat Almuzamil/73, "faqrau ma tayassara min Alquran."
Kultum oleh Hasan Bayuni
6/06/2020
ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ
"bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an" (Almuzamil/73:20)
Apa yang dimaksud dengan "yang mudah"?
Surat atau ayat apakah yang mudah dibaca? Tidak ada penjalasan. Ada beberapa hadits yang mengisahkan kepda kita apa saja yang dibaca Rasulullah tiap-tiap salat.
Fakta yang didapat dari hadits berbeda-beda. Penyampai hadits pun dapat keliru baik disengaja atau tidak disengaja.
Ada hadits yang mengisahkan kepada kita bahwa pada waktu mengimami salat Id dan salat Jumat nabi membaca surat "Al A'la" di rakaat pertama dan "alghasyiyah" di rakaat kedua.
Di dalam hadits dikatakan bahwa Nabi membaca: "sabih isma rabbika al 'ala"
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
(Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi)
dan "hal ataka haditsul ghasyiyah."
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ
(Sudah sampaikah kepadamu berita tentang hari kiamat)
Di masa Rasulullah surat-surat belum diberi nama sebagaimana Kita kenal sekarang.
Dari Abdullah ibn Umar, "Umar pernah bertanya kepada seorang sahabat bernama Al-Laitsi. Apa yang dibaca Rasulullah saat salat Idul Fitri. Ia menjawab: "Qaf Wal Quran almajid."
ق ۚ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ
(Qaaf. Demi Al-Qur'an yang mulia)
Maksudnya Surat Qaf/50.
Serta "iqtarabat as sa'ah wa insyaqqal qamar." Yang dimaksud adalah Surat Alqamar/54.
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah.
Ada hadits lain yang mengisahkan bahwa nabi saat salat Subuh membaca "iza syamsu kuwirat."
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
(Apabila matahari digulung)
Yang dimaksud adalah Surat Attakwir/81.
Tidak ada kewajiban untuk membaca surat tertentub dalam salat. Surat yang dibaca Nabi berbeda-beda dalam mengerjakan salat.
Salat jamaah adalah bagaikan model sebuah kepemimpinan. Nabi diriwayatkan usai mengakhir salat dengan salam segera berbalik untuk melihat keadaan makmum. Beliau ingin tahu siapa anggota jamaah yang tidak hadir. Adakah orang asing (musafir) yang ikut salat berjamaah.
Apa yang dilakukan Nabi adalah sebuah kepedulian. Seorang pemimpin, apakah itu raja, president atau walikota harus sering melihat keadaan rakyatnya.
Imam yang baik, jika tahu ada salah seorang jamaahnya sedang tidak enak badan akan mempercepat gerakan salat dan membaca surat pendek agar tidak memberatkan makmum yang sakit.
Demikian beberapa hadits yang menjelaskan tentang ayat ke 19 dari surat Almuzamil/73, "faqrau ma tayassara min Alquran."
Teladan Keluarga 1
TELADAN KELUARGA (1)
Kuliah Subuh oleh Abduh Hisyam
5/06/2020
Allah telah memberikan kepda umat manusia dua tokoh teladan yang perilaku, sifat dan perbuatannya dapat menjadi panduan dalam kehidupan sehari-hari. Dua orang tokoh tersebut adalah Nabi Ibrahim as dan Muhammad saw.
قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim (Almumtahanah/60:4)
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (Alahzab/33:21)
Manusia tidak akan tersesat dan tidak akan galau dalam menjalani pahit getirnya hidup jika mau mempelajari riwayat hidup dua orang Nabi Allah yang sangat berpengaruh itu. Nabi Ibrahim adalah tokoh yang sangat kuat dalam memegang prinsip tauhid dan berjiwa pengorbanan tinggi, serta Nabi Muhammad adalah seorang yang sangat baik akhlaknya, lemah lembut, namun siap bertempur melawan kezaliman dan ketidakadilan.
Di tingkat kenegaraan, kita punya para pahlawan yang harus diteladani perjuangannnya oleh generasi muda bangsa. Sudah berapa banyak pahlawan nasional yang kehidupannya dipelajari oleh generasi muda kita?
Di dalam keluarga, setiap orang hendaknya dikenalkan dengan sosok keluarga yang menjadi teladan agar memotivasi para anggota keluarga untuk berbuat baik, gigih dan tidak pantang menyerah. Menceritakan kehidupan kakek buyut kita yang hidup di zaman penjajahan dan berjuang menolong orang banyak, umpamanya, akan menimbulkan kekaguman dan imajinasi tentang sosok idola di dalam keluarga. Sosok kakek atau bapak adalah sosok yang nyata dan sangat dekat sehingga menirunya bukan suatu hal mustahil.
Pada subuh ini saya mengenalkan sosok kakek buyut anak-anak saya bernama Haji Moeflich. Beliau adalah kepala desa Jabres selama 40 tahun lebih sejak masa penjajahan Belanda. Beliau menjadi pemimpin di desanya melalui pergolakan zaman yang tidak menentu: zaman penjajahan Belanda, zaman Jeoang, zaman Kemerdekaan, zaman pergolakan local (AOI), zaman demokrasi liberal, masa Orde Lama, dan masa orde Baru. Lima zaman ia lalui dengan penuh suka duka. Namun sosok mbah HM, begitu beliau dipanggil, adalah seorang yang penuh senyum, jenaka dan selalu riang. Tubuhnya kecil namun kekar dan kuat. Di masa mudanya beliau adalah seniman pemain biola yang amat piawai.
Ketika saya pertama kali tiba di Kebumen, orang mengenal saya sebagai sales mesin pres genteng buatan Tegal. Tiap hari pekerjaan saya adalah bertamu dari satu pabrik ke pabrik lain, menawarkan mesin produk perusahaan Bapak saya di Tegal. Dengan cepat saya akrab dengan warga Kebumen, terutama keluarga Jabres. Mungkin karena setiap kali saya berkunjung saya selalu bicara tentang dakwah dan Muhammadiyah. Maka saya cepat dikenal di keluarga pengusaha genteng Jabres yang sebagian besar adalah anak-anak Mbah HM.
Pada suatu hari saya mengantarkan mesin pesanan mbah HM. Mesin itu tiba saat hari sudah gelap, dan hujan turun. Saat tiba di rumah Mbah HM, beliau meminta saya menurunkan mesin keesokan pagi saja, karena sudah malam. Mesin itu bobotnya hampir tujuh kwintal. Sangat berat dan dibutuhkan beberpa orang berbadan kuat untuk menurunkannya. Malam hari karyawan sudah tidak ada. Namun saya katakan bahwa mesin harus dibongkar malam ini juga, karena truck pengangkutnya harus segera kembali ke Tegal untuk digunakan bekerja besok pagi. Mbah HM mempersilakan namun saya harus cari sendiri tenaga yang akan menurunkan. Mbah HM kemudian bergumam,”Hubbu Dunya حب الدنيا. (berlebihan dalam cinta dunia) Ngoyo,” sambil geleng-geleng kepala. Sejam kemudian saya sudah berada di rumah beiau yang juga menjadi kantor, dan saya katakan bahwa saya sudah menurunkan mesin di tempat yang telah ditentukan. Belaiu terkejut mendengar saya telah menurunkan dengan cepat. Ia mengangguk-anggukkan kepala dan sambil tersnyum berkata, “Ihris li dunyaka kaannaka ta’isyu Abadan. Wa’mal li akhiratika ka’annaka tamutu ghadan.”
احرس لدنياك كانك تعيش ابدا واعمل لاخرتك كانك تموت غدا
Jaga kehidupan duniamu seolah engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah engkau akan mati esok hari.
Sungguh saya sangat terkesan keada beliau. Dari hadits yang beiau ucapkan, beliau tentu seorang yang cukup alim atau paling tidak pernah mengenyam pendidikan agama walau tidak formal.
Sebelum pamit dari rumah belaiu, kami sempat berbincang-bincang tentang Amien Rais, sosok yang sedang menjadi berita di mana-mana karena artikelnya yang bertajuk “Suksesi 1997: Sebuah Keharusan.” Saya paling banyak bicara , dan beliau menjadi pendengar yang sesekali menimpali dengan kata: “wah!” “Oh!”. Saya kemudian pamit, setelah menghabiskan secangkir kopi, tentu saja.
Kuliah Subuh oleh Abduh Hisyam
5/06/2020
Allah telah memberikan kepda umat manusia dua tokoh teladan yang perilaku, sifat dan perbuatannya dapat menjadi panduan dalam kehidupan sehari-hari. Dua orang tokoh tersebut adalah Nabi Ibrahim as dan Muhammad saw.
قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim (Almumtahanah/60:4)
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (Alahzab/33:21)
Manusia tidak akan tersesat dan tidak akan galau dalam menjalani pahit getirnya hidup jika mau mempelajari riwayat hidup dua orang Nabi Allah yang sangat berpengaruh itu. Nabi Ibrahim adalah tokoh yang sangat kuat dalam memegang prinsip tauhid dan berjiwa pengorbanan tinggi, serta Nabi Muhammad adalah seorang yang sangat baik akhlaknya, lemah lembut, namun siap bertempur melawan kezaliman dan ketidakadilan.
Di tingkat kenegaraan, kita punya para pahlawan yang harus diteladani perjuangannnya oleh generasi muda bangsa. Sudah berapa banyak pahlawan nasional yang kehidupannya dipelajari oleh generasi muda kita?
Di dalam keluarga, setiap orang hendaknya dikenalkan dengan sosok keluarga yang menjadi teladan agar memotivasi para anggota keluarga untuk berbuat baik, gigih dan tidak pantang menyerah. Menceritakan kehidupan kakek buyut kita yang hidup di zaman penjajahan dan berjuang menolong orang banyak, umpamanya, akan menimbulkan kekaguman dan imajinasi tentang sosok idola di dalam keluarga. Sosok kakek atau bapak adalah sosok yang nyata dan sangat dekat sehingga menirunya bukan suatu hal mustahil.
Pada subuh ini saya mengenalkan sosok kakek buyut anak-anak saya bernama Haji Moeflich. Beliau adalah kepala desa Jabres selama 40 tahun lebih sejak masa penjajahan Belanda. Beliau menjadi pemimpin di desanya melalui pergolakan zaman yang tidak menentu: zaman penjajahan Belanda, zaman Jeoang, zaman Kemerdekaan, zaman pergolakan local (AOI), zaman demokrasi liberal, masa Orde Lama, dan masa orde Baru. Lima zaman ia lalui dengan penuh suka duka. Namun sosok mbah HM, begitu beliau dipanggil, adalah seorang yang penuh senyum, jenaka dan selalu riang. Tubuhnya kecil namun kekar dan kuat. Di masa mudanya beliau adalah seniman pemain biola yang amat piawai.
Ketika saya pertama kali tiba di Kebumen, orang mengenal saya sebagai sales mesin pres genteng buatan Tegal. Tiap hari pekerjaan saya adalah bertamu dari satu pabrik ke pabrik lain, menawarkan mesin produk perusahaan Bapak saya di Tegal. Dengan cepat saya akrab dengan warga Kebumen, terutama keluarga Jabres. Mungkin karena setiap kali saya berkunjung saya selalu bicara tentang dakwah dan Muhammadiyah. Maka saya cepat dikenal di keluarga pengusaha genteng Jabres yang sebagian besar adalah anak-anak Mbah HM.
Pada suatu hari saya mengantarkan mesin pesanan mbah HM. Mesin itu tiba saat hari sudah gelap, dan hujan turun. Saat tiba di rumah Mbah HM, beliau meminta saya menurunkan mesin keesokan pagi saja, karena sudah malam. Mesin itu bobotnya hampir tujuh kwintal. Sangat berat dan dibutuhkan beberpa orang berbadan kuat untuk menurunkannya. Malam hari karyawan sudah tidak ada. Namun saya katakan bahwa mesin harus dibongkar malam ini juga, karena truck pengangkutnya harus segera kembali ke Tegal untuk digunakan bekerja besok pagi. Mbah HM mempersilakan namun saya harus cari sendiri tenaga yang akan menurunkan. Mbah HM kemudian bergumam,”Hubbu Dunya حب الدنيا. (berlebihan dalam cinta dunia) Ngoyo,” sambil geleng-geleng kepala. Sejam kemudian saya sudah berada di rumah beiau yang juga menjadi kantor, dan saya katakan bahwa saya sudah menurunkan mesin di tempat yang telah ditentukan. Belaiu terkejut mendengar saya telah menurunkan dengan cepat. Ia mengangguk-anggukkan kepala dan sambil tersnyum berkata, “Ihris li dunyaka kaannaka ta’isyu Abadan. Wa’mal li akhiratika ka’annaka tamutu ghadan.”
احرس لدنياك كانك تعيش ابدا واعمل لاخرتك كانك تموت غدا
Jaga kehidupan duniamu seolah engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah engkau akan mati esok hari.
Sungguh saya sangat terkesan keada beliau. Dari hadits yang beiau ucapkan, beliau tentu seorang yang cukup alim atau paling tidak pernah mengenyam pendidikan agama walau tidak formal.
Sebelum pamit dari rumah belaiu, kami sempat berbincang-bincang tentang Amien Rais, sosok yang sedang menjadi berita di mana-mana karena artikelnya yang bertajuk “Suksesi 1997: Sebuah Keharusan.” Saya paling banyak bicara , dan beliau menjadi pendengar yang sesekali menimpali dengan kata: “wah!” “Oh!”. Saya kemudian pamit, setelah menghabiskan secangkir kopi, tentu saja.
Teladan Keluarga 2
TELADAN KELUARGA 2
Kultum oleh Abduh Hisyam
5/06/2020
Pada suatu hari di tahun 1995 saya diminta menyampaikan khutbah Jumat di masjid Nurul Islam di Pasar Tengok Sruweng. Usai salat Jumat saya dibisiki oleh mbah HM, bahwa saya lain kali jika berkhutbah sebaiknya mengenakan sarung. Saya saat itu mengenakan celana panjang, kemeja batik dan kopiah. Pakaian saya sudah sah saha dan sudah sangat sopan, namuan seorang khatib Jumat di desa sepantasnya mengenakan sarung. Pakaian yang saya kenakan adalah pakaian priyayi.. Cocoknya untuk para guru. Saya tersenyum. Mbah HM mengingatkan kepada saya agar memperhatikan suasana kultur masyarkaat desa agar saya, sebagai mubaligh, lebih mudah diterima.
Pakaian saya sudah syar’I namun tidak ma’ruf. Kebiasaan dan kearifan lokal harus menjadi perhatian dalam menyampaikan petuah-petuah agama.
Hingga beberapa saat nasehat mbah HM itu selalu terngiang di telinga, bahwa penguasaan akan budaya menjadi hal sangat penting dalam berdakwah. Saya sampaikan kepada pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kebumen saat itu agar mengadakan Training Mubaligh Muda. Teman-teman setuju dan menugasi saya menjadi ketua panitia training tersebut. Pesertanya adalah para pemuda se-kabupaten Kebumen. Acara diadakan di masjid Nurul Islam dan gedung TPQ di lingkungan masjid. Pesertanya cukup banyak, ada empatpuluh orang. Di antara yang menjadi pemateri adalah Drs. Tafsir dosen dari IAIN Walisanga Semarang.
Karena sibuk mengatur tempat training, pembicara serta penggandaan materi, serta minimnya personil panitia, saya tidak sempat menyampaikan surat perijinan kepada aparat pemerintah, termasuk Polsek Sruweng yang letak kantornya hanya sepelemparan batu saja.
Saat itu, tahun 1996, rejim Orde Baru sedang berada di puncak kekuasaannya. Semua kegiatan masyarakat dimata-matai oleh negara. Tidak mudah menyelenggarakan pertemuan atau rapat-rapat. Semua pertemuan harus telebih dahulu mengajukan ijin kepada RT, RW, Desa, dan Polsek seerta Koramil. Jika tanpa ijin, sebuah pertemuan sudah pasti dianggap illegal dan dibubarkan. Bukan hanya sekedar dibubarkan, para peserta rapat dapat dituduh mengadakan rapat rahasia untuk merongrong kewibawaan pemerintah serta dapat dianggap musuh negara. Bukan itu saja, cap musuh Pancasila dapat menghinggapi mereka yang berani mengadakan pertemuan tanpa ijin.
Kami panitia sangat gelisah. Bayangan acara dibubarka paksa sudah di depan mata. Tiba-tiba salah seorang kawan, mas Yulies Suharyadi berkata dengan seenaknya. “Kalau nanti ada aparat datang menanyakan ijin pertemuan Training Tabligh ini, bilang saja bahwa kita sudah diijinkan oleh mbah HM.” Saya dan beberapa teman tertawa mendengar usulan itu, namun kami sepakat dan merasa lega. Ya, bukankah mbah HM adalah sosok yang sangat disegani di Sruweng ini?
Benar saja, training berlangsung dengan lancer dan aman. Aparat kepolisian tidak ada yang berani mengusik acara kami, hanya karena kami mengatakan didukung oleh Mbah HM. Mendenagar jawaban itu pak Polisi tidak bernai berbuat apa-apa,. Mereka segan kepada mbah HM.
Kultum oleh Abduh Hisyam
5/06/2020
Pada suatu hari di tahun 1995 saya diminta menyampaikan khutbah Jumat di masjid Nurul Islam di Pasar Tengok Sruweng. Usai salat Jumat saya dibisiki oleh mbah HM, bahwa saya lain kali jika berkhutbah sebaiknya mengenakan sarung. Saya saat itu mengenakan celana panjang, kemeja batik dan kopiah. Pakaian saya sudah sah saha dan sudah sangat sopan, namuan seorang khatib Jumat di desa sepantasnya mengenakan sarung. Pakaian yang saya kenakan adalah pakaian priyayi.. Cocoknya untuk para guru. Saya tersenyum. Mbah HM mengingatkan kepada saya agar memperhatikan suasana kultur masyarkaat desa agar saya, sebagai mubaligh, lebih mudah diterima.
Pakaian saya sudah syar’I namun tidak ma’ruf. Kebiasaan dan kearifan lokal harus menjadi perhatian dalam menyampaikan petuah-petuah agama.
Hingga beberapa saat nasehat mbah HM itu selalu terngiang di telinga, bahwa penguasaan akan budaya menjadi hal sangat penting dalam berdakwah. Saya sampaikan kepada pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kebumen saat itu agar mengadakan Training Mubaligh Muda. Teman-teman setuju dan menugasi saya menjadi ketua panitia training tersebut. Pesertanya adalah para pemuda se-kabupaten Kebumen. Acara diadakan di masjid Nurul Islam dan gedung TPQ di lingkungan masjid. Pesertanya cukup banyak, ada empatpuluh orang. Di antara yang menjadi pemateri adalah Drs. Tafsir dosen dari IAIN Walisanga Semarang.
Karena sibuk mengatur tempat training, pembicara serta penggandaan materi, serta minimnya personil panitia, saya tidak sempat menyampaikan surat perijinan kepada aparat pemerintah, termasuk Polsek Sruweng yang letak kantornya hanya sepelemparan batu saja.
Saat itu, tahun 1996, rejim Orde Baru sedang berada di puncak kekuasaannya. Semua kegiatan masyarakat dimata-matai oleh negara. Tidak mudah menyelenggarakan pertemuan atau rapat-rapat. Semua pertemuan harus telebih dahulu mengajukan ijin kepada RT, RW, Desa, dan Polsek seerta Koramil. Jika tanpa ijin, sebuah pertemuan sudah pasti dianggap illegal dan dibubarkan. Bukan hanya sekedar dibubarkan, para peserta rapat dapat dituduh mengadakan rapat rahasia untuk merongrong kewibawaan pemerintah serta dapat dianggap musuh negara. Bukan itu saja, cap musuh Pancasila dapat menghinggapi mereka yang berani mengadakan pertemuan tanpa ijin.
Kami panitia sangat gelisah. Bayangan acara dibubarka paksa sudah di depan mata. Tiba-tiba salah seorang kawan, mas Yulies Suharyadi berkata dengan seenaknya. “Kalau nanti ada aparat datang menanyakan ijin pertemuan Training Tabligh ini, bilang saja bahwa kita sudah diijinkan oleh mbah HM.” Saya dan beberapa teman tertawa mendengar usulan itu, namun kami sepakat dan merasa lega. Ya, bukankah mbah HM adalah sosok yang sangat disegani di Sruweng ini?
Benar saja, training berlangsung dengan lancer dan aman. Aparat kepolisian tidak ada yang berani mengusik acara kami, hanya karena kami mengatakan didukung oleh Mbah HM. Mendenagar jawaban itu pak Polisi tidak bernai berbuat apa-apa,. Mereka segan kepada mbah HM.
5 Yang Merusak Hati
LIMA PERKARA YANG MERUSAK HATI
Kultum Subuh oleh Navi agustina
07/06/2020
Ada orang merancang program kerja bagus untuk hidupnya, namun sebelum programnya terwujud ia sudah melupakannya dan melakukan hal-hal yang menyimpang bahkan bertentangan dengan rencana yang telah ia susun. Ada seorang anak yang sejak kecil dididik orangtuanya dengan baik, namun menjelang dewasa ia bagai orang tak terpelajar, hidupnya tidak teratur dan acapkali membahayakan diri dan lingkungannya. Mengapa hal ini terjadi?
Menurut Buya Hamka, berbeloknya seseorang dari jalur kebaikan menuju ke jalur keburukan adalah karena tekad yang sudah tertanam sejak awal meluntur. Hati yang teguh mulai melemah, sehingga kandas di tengah jalan. Dalam buku “Kesepaduan antara Iman dan Amal Saleh” Buya Hamka membahas tentang masalah rusaknya hati ini dengan merujuk kepada kitab “Madarij as Salikin” karya Ibnu Qayim Aljauzi. Menurut Ibnu Qayim ada lima hal yang dapat merusak hati.
PERTAMA, salah memilih teman.
Sebagai zon politikon, manusia tidak dapat hidup seorang diri. Ia tergantung kepada sesamanya. Seseorang yang hidup menyendiri, kejiwaannya tidak sempurna. Ia harus dibantu dan membantu, dipengaruhi dan mempengaruhi orang lain. Jika orang yang berada di lingkunga kita baik, maka kita cenderung menjadi baik. Ibarat pepatah, ‘berteman dengan saudagar ikan, badan kita amis. Berteman dengan penjual cendana, badan kita wangi.”
Memilih teman atau pasangan hidup sangat penting. Secara akal sehat kita dapat menilai apakah seseorang baik atau tidak. Ada orang yang cocok diajak bersenang-senang, namun tidak dapat diajak bekerjasama. Ada yang selalu datang kepada kita saat kita senang, namun saat kita susah mereka menghilang.
Kejujuran, empati, kehalusan budi, adalah nilai-nilai yang harus kita perhatikan saat mendekati seseorang untuk dijadikan teman. Dalam mencari pasangan hidup orangtua kita secara tradisional mengajarkan kita untuk memperhatikan “bobot, bibit, bebet’ (akhlak, latarbelakang keluarga, harta). Kriteria kebanyakan orang dalam memilih pasangan hidup adalah kecantikan, harta, keuturunan, dan agama. Nabi mengajarkan kepada kita agar menomorsatukan agama sebelum ketampanan, harta, dan keturunan.
Teman dapat membawa seseorang kepada kebaikan, disiplin, senang bekerja menolong orang yang menderita. Teman dapat pula membuat seseorang jahat, hidup tidak teratur, malas dan tidak peduli kepada orang lain. Kelak karena perbuatannya yang tidak baik maka seseorang akan terjerumus ke dalam api neraka. Pada saat itu ia akan menyesal karena telah melakukan perbuatan dosa akibat bujukan teman. Dan ia berkata:
يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا ٢٨
Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku) (Alfurqan/25:28)
Walau orang-orang jahat itu pada saat berjaya adalah berteman, kelak jika mereka diajukan ke meja hijau, maka masing-masing diri mereka akan mengatakan diri mereka tidak bersalah. Mereka akan saling tuding dan saling menyalahkan.
ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ ٦٧
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa (Zukhruf/43:67)
KEDUA, hidup dalam angan-angan.
Seseorang harus mempunyai cita-cita setinggi langit. Dan untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi itu, ia harus realistis dengan bekerja sesuai kemampuan. Jangan sampai seseorang hanya mengkhayalkan kehidupan yang penuh kenikmatan namun ia tak kunjung bergerak untuk menggapai impiannya. Demikian pula dengan seseorang yang menginginkan kehidupan bahagia, ia memulai kebahagiaan itu dari dirinya sendiri, dan tidak dapat mengharapkan orang lain membahagiakan dirinya. Banyak orang ingin mempunyai pendamping hidup yang tampan, cerdas, dan kaya. Sungguh sempurna pasangannya itu bak Raden Kamajaya. Namun itu semua hanya ada dalam angan-angan. Tidak pernah ada di dunia nyata, karena manusia tak ada yang sempurna. Ia mungkin tampan, cerdas, namun tidak kaya. Kaya, pintar, namun tidak tampan. Tampan, kaya, namun bodoh. Selalu saja berkekurangan.
Di dalam perjuangan, ada saja orang yang tidak berfikir untuk kepentingan bersama, yang selalu diimpikan adalah keuntungan pribadi. Ibarat kaum muslimin yang ikut dalam Perang Uhud. Banyak di antara anggota pasukan Nabi yang hanya berfikir untuk mendpatkan harta rampasan perang. Motivasi mereka bukan untuk membela agama Allah, melainkan untuk mendpatkan harta. Akibatnya, semangat tempur mereka meredup saat mereka melihat harta milik musuh tercecer di medan tempur, padahal pertempuran belum usai. Angan-angan untuk mendapatkan harta telah mrusak hati mereka.
KETIGA, bergantung kepada selain Allah.
Manusia senantiasa merindukan zat maha besar yang dapat menjadi tempat bergantung atau berlindung. Ada kerinduan kepada Yang Kudus, kata Rudolf Otto. Manusia merindukan sesuatu yang misterius, mengagumkan, dan menumbuhkan pesona (misterium, tremendum, fasinatum). Zat itu oleh orang-orang beragama disebut Tuhan. Seorang ahli sejarah agama bernama Mircea Eliade menamakan kecenderungan ini dengan nama homo religiusis. Alquran menyebutnya dengan “fitrah.” Kerinduan akan yang maha kuat, maha kaya dan maha kudus itu harus mendapatkan pedoman atau petunjuk yang benar, karena jika tidak maka manusia akan menjadikan apa pun yang menakutkan sebagai obyek sesembahan.
Setelah bekerja demi meraih cita-cita, maka ia harus pasrah kepada Allah semata. Mereka yang memasrahkan dirinya kepada selain Allah sudah pasti akan celaka. Karena segala sesuatu selain Allah adalah nisbi dan bersifat sementara. Hanya Allah yang mutlak dan kekal. Seseorang yang bergantung kepada manusia, maka nasibnya hanya akan menjadi budak manusia lain. Sungguh rugi manusia seperti ini.
KEEMPAT, banyak makan.
Semua makhluk hdiup pasti butuh makan. Pangan adalah kebutuhan yang sangat pokok. Sebelum membutuhkan apa pun, seorang manusia harus terpenuhi kebutuhan pangannnya. Meskipun demikian manusia tidak boleh berlebihan dalam mengkonsumsi makanan.
Rasulullah bersabda, “Kita adalah sekelompok orang yang tidak akan makan sebelum lapar, dan jika makan tak pernah kenyang.” Konon perut kita harus diisi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga untuk udara.
كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ
makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan (Ala’raf/7:31)
Mereka yang berlebihan saat makan menunjukkan watak rakus. Ia akan mengambil yang melebihi kebutuhannya, dan tidak berpikir ada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan daripada dirinya. Dalam kepemilikan, ia akan mengambil semua. Ia ingin memonopoli perdagangan, menguasai lahan seluas-luasnya dan tidak berbagi untuk orang lain. Ia menganggap kebahagiaannya tergantung kepada semakin banyak harta yang ia miliki. Orientasi hidupnya adalah “memiliki,” tidak ada jiwa qana’ah, dan dampaknya adalah keserakahan dan kerakusan.
Dahlan Iskan dalam kolomnya bercerita tentang kerabatnya yang gemuk karena banyak makan. Beratnya mencapai satu kwintal lebih. Saat meninggal dunia, para petugas sulit untuk menanganinya. Karena saat ini musim pandemik, maka dibutuhkan hazmat untuk membungkus jenasah, namun tidak ada hazmat yang cukup dikenakan karena badan yang sangat besar. Untuk mengangkatnya, para petugas sungguh kesulitan. Peti mati yang digunakan pun tidak ada yang cukup sehingga dibutuhkan peti mati ukuran khusus. Betapa menyulitkan.
Di tahun 1998, saat awal reformasi, pak Hisyam Adnan bertanya kepada seorang dokter saraf di kota Tegal tentang pilihan politiknya. Ia mengatakan belum memutuskan akan memilih partai apa. Saat itu, parpol masih sangat kuat. Yang dipilih adalah partai, bukan caleg. Sang dokter mengatakan, “Yang jelas saya tidak akan memilih partai …, karena ketuanya berperut besar.” Pak Hisyam kaget dan geli mendengar jawaban sang dokter dan bertanya mengapa. Sang dokter manjelaskan bahwa orang berperut besar menandakan ia tidak mampu mengendalikan diri saat makan. Oang yang tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri tidak layak menjadi pemimpin. Wah, masuk akal juga.
Umar bin Khattab pernah menegur salah seorang warga Madinah yagn berperut gendut, karena mereka yang berperut gendut cenderung lamban dalam bergerak dan sulit melakukan gerakan salat.
5. Terlalu banyak tidur.
Orang yang terlalu banyak tidur berarti telah menyia-nyiakan hidupnya. Seorang raja kapal Yunani, Aristoteles Onnasis mengatakan bahwa jika rata-rata orang tidur selama delapan jam, ia hanya tidur selama tujuh jam. Ia sengaja mengurangi lama tidurnya satu jam sehari, karna ia ingin mempunyai lebih banyak waktu dari kebanyakan orang. Jika dalam sehari seseorang mengurangi waktu tidurnya satu jam, dalam setahun ia memiliki kelebihan 360 jam atau 15 hari. Kelebihan hari ini adalah sebuah karunia.
Bapak H. Mas’udi selama hidupnya senantiasa mengajarkan kepada anak-anaknya agar tidur tidak terlalu malam, dan bangun lebih awal daripada orng kebanakan. Beliau selalu menasehati sambil mengutip sebuah kata mutiara, “Early to sleep, early to rise, make healthy wealthy and wise.”
Dalam Alquran disebutkan bahwa tidur diciptakan agar manusia beristirahat.
وَجَعَلۡنَا نَوۡمَكُمۡ سُبَاتٗا ٩
dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat (Annaba/78:9)
Jika ia sudah cukup bristirahat maka tidak perlu lama-lama seseorang tidur.
Demikian lima hal yang merusak hati.
Kultum Subuh oleh Navi agustina
07/06/2020
Ada orang merancang program kerja bagus untuk hidupnya, namun sebelum programnya terwujud ia sudah melupakannya dan melakukan hal-hal yang menyimpang bahkan bertentangan dengan rencana yang telah ia susun. Ada seorang anak yang sejak kecil dididik orangtuanya dengan baik, namun menjelang dewasa ia bagai orang tak terpelajar, hidupnya tidak teratur dan acapkali membahayakan diri dan lingkungannya. Mengapa hal ini terjadi?
Menurut Buya Hamka, berbeloknya seseorang dari jalur kebaikan menuju ke jalur keburukan adalah karena tekad yang sudah tertanam sejak awal meluntur. Hati yang teguh mulai melemah, sehingga kandas di tengah jalan. Dalam buku “Kesepaduan antara Iman dan Amal Saleh” Buya Hamka membahas tentang masalah rusaknya hati ini dengan merujuk kepada kitab “Madarij as Salikin” karya Ibnu Qayim Aljauzi. Menurut Ibnu Qayim ada lima hal yang dapat merusak hati.
PERTAMA, salah memilih teman.
Sebagai zon politikon, manusia tidak dapat hidup seorang diri. Ia tergantung kepada sesamanya. Seseorang yang hidup menyendiri, kejiwaannya tidak sempurna. Ia harus dibantu dan membantu, dipengaruhi dan mempengaruhi orang lain. Jika orang yang berada di lingkunga kita baik, maka kita cenderung menjadi baik. Ibarat pepatah, ‘berteman dengan saudagar ikan, badan kita amis. Berteman dengan penjual cendana, badan kita wangi.”
Memilih teman atau pasangan hidup sangat penting. Secara akal sehat kita dapat menilai apakah seseorang baik atau tidak. Ada orang yang cocok diajak bersenang-senang, namun tidak dapat diajak bekerjasama. Ada yang selalu datang kepada kita saat kita senang, namun saat kita susah mereka menghilang.
Kejujuran, empati, kehalusan budi, adalah nilai-nilai yang harus kita perhatikan saat mendekati seseorang untuk dijadikan teman. Dalam mencari pasangan hidup orangtua kita secara tradisional mengajarkan kita untuk memperhatikan “bobot, bibit, bebet’ (akhlak, latarbelakang keluarga, harta). Kriteria kebanyakan orang dalam memilih pasangan hidup adalah kecantikan, harta, keuturunan, dan agama. Nabi mengajarkan kepada kita agar menomorsatukan agama sebelum ketampanan, harta, dan keturunan.
Teman dapat membawa seseorang kepada kebaikan, disiplin, senang bekerja menolong orang yang menderita. Teman dapat pula membuat seseorang jahat, hidup tidak teratur, malas dan tidak peduli kepada orang lain. Kelak karena perbuatannya yang tidak baik maka seseorang akan terjerumus ke dalam api neraka. Pada saat itu ia akan menyesal karena telah melakukan perbuatan dosa akibat bujukan teman. Dan ia berkata:
يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا ٢٨
Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku) (Alfurqan/25:28)
Walau orang-orang jahat itu pada saat berjaya adalah berteman, kelak jika mereka diajukan ke meja hijau, maka masing-masing diri mereka akan mengatakan diri mereka tidak bersalah. Mereka akan saling tuding dan saling menyalahkan.
ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ ٦٧
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa (Zukhruf/43:67)
KEDUA, hidup dalam angan-angan.
Seseorang harus mempunyai cita-cita setinggi langit. Dan untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi itu, ia harus realistis dengan bekerja sesuai kemampuan. Jangan sampai seseorang hanya mengkhayalkan kehidupan yang penuh kenikmatan namun ia tak kunjung bergerak untuk menggapai impiannya. Demikian pula dengan seseorang yang menginginkan kehidupan bahagia, ia memulai kebahagiaan itu dari dirinya sendiri, dan tidak dapat mengharapkan orang lain membahagiakan dirinya. Banyak orang ingin mempunyai pendamping hidup yang tampan, cerdas, dan kaya. Sungguh sempurna pasangannya itu bak Raden Kamajaya. Namun itu semua hanya ada dalam angan-angan. Tidak pernah ada di dunia nyata, karena manusia tak ada yang sempurna. Ia mungkin tampan, cerdas, namun tidak kaya. Kaya, pintar, namun tidak tampan. Tampan, kaya, namun bodoh. Selalu saja berkekurangan.
Di dalam perjuangan, ada saja orang yang tidak berfikir untuk kepentingan bersama, yang selalu diimpikan adalah keuntungan pribadi. Ibarat kaum muslimin yang ikut dalam Perang Uhud. Banyak di antara anggota pasukan Nabi yang hanya berfikir untuk mendpatkan harta rampasan perang. Motivasi mereka bukan untuk membela agama Allah, melainkan untuk mendpatkan harta. Akibatnya, semangat tempur mereka meredup saat mereka melihat harta milik musuh tercecer di medan tempur, padahal pertempuran belum usai. Angan-angan untuk mendapatkan harta telah mrusak hati mereka.
KETIGA, bergantung kepada selain Allah.
Manusia senantiasa merindukan zat maha besar yang dapat menjadi tempat bergantung atau berlindung. Ada kerinduan kepada Yang Kudus, kata Rudolf Otto. Manusia merindukan sesuatu yang misterius, mengagumkan, dan menumbuhkan pesona (misterium, tremendum, fasinatum). Zat itu oleh orang-orang beragama disebut Tuhan. Seorang ahli sejarah agama bernama Mircea Eliade menamakan kecenderungan ini dengan nama homo religiusis. Alquran menyebutnya dengan “fitrah.” Kerinduan akan yang maha kuat, maha kaya dan maha kudus itu harus mendapatkan pedoman atau petunjuk yang benar, karena jika tidak maka manusia akan menjadikan apa pun yang menakutkan sebagai obyek sesembahan.
Setelah bekerja demi meraih cita-cita, maka ia harus pasrah kepada Allah semata. Mereka yang memasrahkan dirinya kepada selain Allah sudah pasti akan celaka. Karena segala sesuatu selain Allah adalah nisbi dan bersifat sementara. Hanya Allah yang mutlak dan kekal. Seseorang yang bergantung kepada manusia, maka nasibnya hanya akan menjadi budak manusia lain. Sungguh rugi manusia seperti ini.
KEEMPAT, banyak makan.
Semua makhluk hdiup pasti butuh makan. Pangan adalah kebutuhan yang sangat pokok. Sebelum membutuhkan apa pun, seorang manusia harus terpenuhi kebutuhan pangannnya. Meskipun demikian manusia tidak boleh berlebihan dalam mengkonsumsi makanan.
Rasulullah bersabda, “Kita adalah sekelompok orang yang tidak akan makan sebelum lapar, dan jika makan tak pernah kenyang.” Konon perut kita harus diisi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga untuk udara.
كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ
makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan (Ala’raf/7:31)
Mereka yang berlebihan saat makan menunjukkan watak rakus. Ia akan mengambil yang melebihi kebutuhannya, dan tidak berpikir ada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan daripada dirinya. Dalam kepemilikan, ia akan mengambil semua. Ia ingin memonopoli perdagangan, menguasai lahan seluas-luasnya dan tidak berbagi untuk orang lain. Ia menganggap kebahagiaannya tergantung kepada semakin banyak harta yang ia miliki. Orientasi hidupnya adalah “memiliki,” tidak ada jiwa qana’ah, dan dampaknya adalah keserakahan dan kerakusan.
Dahlan Iskan dalam kolomnya bercerita tentang kerabatnya yang gemuk karena banyak makan. Beratnya mencapai satu kwintal lebih. Saat meninggal dunia, para petugas sulit untuk menanganinya. Karena saat ini musim pandemik, maka dibutuhkan hazmat untuk membungkus jenasah, namun tidak ada hazmat yang cukup dikenakan karena badan yang sangat besar. Untuk mengangkatnya, para petugas sungguh kesulitan. Peti mati yang digunakan pun tidak ada yang cukup sehingga dibutuhkan peti mati ukuran khusus. Betapa menyulitkan.
Di tahun 1998, saat awal reformasi, pak Hisyam Adnan bertanya kepada seorang dokter saraf di kota Tegal tentang pilihan politiknya. Ia mengatakan belum memutuskan akan memilih partai apa. Saat itu, parpol masih sangat kuat. Yang dipilih adalah partai, bukan caleg. Sang dokter mengatakan, “Yang jelas saya tidak akan memilih partai …, karena ketuanya berperut besar.” Pak Hisyam kaget dan geli mendengar jawaban sang dokter dan bertanya mengapa. Sang dokter manjelaskan bahwa orang berperut besar menandakan ia tidak mampu mengendalikan diri saat makan. Oang yang tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri tidak layak menjadi pemimpin. Wah, masuk akal juga.
Umar bin Khattab pernah menegur salah seorang warga Madinah yagn berperut gendut, karena mereka yang berperut gendut cenderung lamban dalam bergerak dan sulit melakukan gerakan salat.
5. Terlalu banyak tidur.
Orang yang terlalu banyak tidur berarti telah menyia-nyiakan hidupnya. Seorang raja kapal Yunani, Aristoteles Onnasis mengatakan bahwa jika rata-rata orang tidur selama delapan jam, ia hanya tidur selama tujuh jam. Ia sengaja mengurangi lama tidurnya satu jam sehari, karna ia ingin mempunyai lebih banyak waktu dari kebanyakan orang. Jika dalam sehari seseorang mengurangi waktu tidurnya satu jam, dalam setahun ia memiliki kelebihan 360 jam atau 15 hari. Kelebihan hari ini adalah sebuah karunia.
Bapak H. Mas’udi selama hidupnya senantiasa mengajarkan kepada anak-anaknya agar tidur tidak terlalu malam, dan bangun lebih awal daripada orng kebanakan. Beliau selalu menasehati sambil mengutip sebuah kata mutiara, “Early to sleep, early to rise, make healthy wealthy and wise.”
Dalam Alquran disebutkan bahwa tidur diciptakan agar manusia beristirahat.
وَجَعَلۡنَا نَوۡمَكُمۡ سُبَاتٗا ٩
dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat (Annaba/78:9)
Jika ia sudah cukup bristirahat maka tidak perlu lama-lama seseorang tidur.
Demikian lima hal yang merusak hati.
30 Mei, 2020
Berkah di masa Pandemi
BERKAH DI MASA PANDEMI COVID-19
Kultum Subuh oleh Abduh Hisyam
31/05/2020
Selama Pandemi covid 19, setiap orang harus menjaga jarak satu sama lain. Hal itu harus dilakukan untuk mengurangi peluang tersebarnya virus corona penyebab coivd-19 ini. Setiap orang kini lebih banyak berkumpul bersama keluarga dekat di rumah masing-masing. Aktifitas di luar rumah yang melibatkan pertemuan dengan banyak orang harus dihindari. Setelah dua bulan hidup dengan mengisolasi diri di rumah, banyak orang merasa bosan. Mereka ingin keadaan kembali normal. Mereka ingin berjalan-jalan, bertemu dengan kerabat dan handai tolan serta teman.
Apakah berdiam di rumah sepenuhnya menjemukan? Bagi saya yang pada masa sebelum pandemi covid-19 beraktifitas di rumah, ketentuan WFH (work from home) bukan sesuatu yang mengejutkan. Saya tidak merasa bosan. Justru merasa senang karena berkumpul bersama dua anak gadis saya yang selama ini selalu berada di Yogyakarta. Saat ini saya tinggal bersama istri, anak-anak, ibu dan adik yang masih jomblo.
Ada hal-hal yang harus disyukuri pada masa pandemi ini.
1. Tadarus dengan zoom
Selama Ramadan kemarin saya mengajak saudara-saudara dan para keponakna membaca Alquran bersama lewat zoom. Saudara-saudara saya tersebar di Jakarta, Bekasi, Tegal, dan saya di Kebumen. Ibu saya walau tidak ikut membaca karena kemampuan mata beliau yang sudah menurun selalu ikut dalam pertemuan tersebut. Kangen beliau kepada anak-anak dan cucu-cucu terobati, dan tentu sangat bahagia menyimak para cucunya lancar membaca ayat-ayat Alquran.
2. Kultum tiap subuh dan menjelang tarawih
Karena saya sekeluarga harus selalu salat di rumah, istri saya mengusulkan agar tiap usai salat Subuh diadakan kuliah tujuh menit (kultum). Penyampai kultum bergantian: saya, istri, Nadia, Jasmine, dan adik dr. Hasan Bayuni. Eyang Putri cukup menjadi pendengar. Selama Ramadan kegiatan kultum ditambah, yaitu menjelang salat tarawih. Tiap hari masing-masing dari kami sibuk membaca buku atau tulisan pendek yang dapat diambil sebagai referensi kultum.
Dari lima orang jamaah terlihat kecenderungan masing-masing dalam menyampaikan kultum. Istri saya selalu menyampaikan hadits. Hasan selalu menyampikan dalil tatacara salat, dimulai dengan hadits-hadits tentang bacaan surat Alfatihah di dalam salat. Anakku Nadia senantiasa mengikuti pengajian dari YouTube yang diasuh oleh Imam Omar Suleyman dari Yaqeen Institute. Jasmine selalu menyampaikan kisah-kisah yang memotivasi untuk berbuat baik. Saya sendiri senantiasa berusaha menyampaikan hal-hal ringan dari kehidupan sehari-hari.
3. Suasana rumah yang semarak dengan bacaan quran
Eyang Putri, istri, dan kedua anakku adalah orang-orang yang senantiasa mendapatkan keasyikan dalam membaca Alquran. Istriku selalu mengingatkanku perihal pesan Amien Rais tentang keharusan membaca Alquran paling tidak satu juz dalam sehari. Amien Rais dalam banyak kesempatan bercerita bahwa ia pernah diceramahi oleh seorang tokoh Islam dari Mesir Muhammad Albahy, “Jangan pernah mengatakan bahwa dirimu pejuang Islam jika tidak pernah membaca Alquran minimal satu juz tiap hari.” Seorang pejuang Islam harus mencintai Alquran dan menjadikannya pedoman hidup. Salah satu cara menanamkan kecintaan kepada Alquran adalah dengan membacanya dan mempelajarinya sesering mungkin.
Istriku pernah kaget dan takjub ketika mendengar bahwa di bulan Ramadan Amien Rais senantiasa membaca alquran hingga tujuh juz setiap hari. Ia pun berupaya mengikuti langkah tokoh reformasi itu. Namun ia belum dapat seperti Amien Rais. Ia baru dapat menyelesaikan membaca lima juz dalam sehari. Bagiku itu luarbiasa. Berarti tiap pekan ia khatam membaca Alquran. Sementara aku, paling hanya satu juz tiap hari. Itu pun dengan susah payah. Lumayan lah.
Jika di dalam rumah tidak terdengar suara orang membaca Alquran, mungkin saya tidak tergerak untuk membacanya. Bahkan mungkin lalai terhadap Alquran. Namun karena lingkungan rumah dipenuhi dengan orang-orang yang membaca Alquran maka saya pun terdorong untuk ikut membacanya.
4. Salat malam berjamaah
Salah satu kekhasan bulan Ramadan adalah ibadah salat tarawih atau ‘qiyam al lail’. Di mana pun berada umat Islam tidak meninggalkan ibadah ini. Pada hakekatnya salat tarawih adalah salat malam yang semestinya sunnah dikerjakan di malam-malam di luar bulan Ramadan. Tapi anehnya umat Islam memperhatikan salat malam hanya di bulan Ramadan saja, dan di luar Ramadan banyak di antara mereka mengabaikannya. Barangkali mereka mengerjakannya namun tidak teratur. Sesekali saja, tidak setiap malam.
Agar semangat bangun malam atau ‘qiyam al lail’ tetap terjaga, maka Hasan menyampaikan gagasan mengejutkan. Ia mengusulkan agar tiap malam seluruh anggota rumah mendirikan salat malam berjamaah. Menurut sunnah, salat malam dikerjakan seorang diri. Namun tidak salah dan bukan bid’ah jika dikerjakan berjamaah. Contohnya adalah salat tarawih. Salat malam terdiri dari delapan rakaat ditambah salat witir rakaat. Jika salat malam dilaksanakan dengan berjamaah, akan ada semangat. Kami setuju. Sejak usai Ramadan, sudah tujuh kali kami melakukan salat malam berjamaah. Semoga langgeng.
Kultum Subuh oleh Abduh Hisyam
31/05/2020
Selama Pandemi covid 19, setiap orang harus menjaga jarak satu sama lain. Hal itu harus dilakukan untuk mengurangi peluang tersebarnya virus corona penyebab coivd-19 ini. Setiap orang kini lebih banyak berkumpul bersama keluarga dekat di rumah masing-masing. Aktifitas di luar rumah yang melibatkan pertemuan dengan banyak orang harus dihindari. Setelah dua bulan hidup dengan mengisolasi diri di rumah, banyak orang merasa bosan. Mereka ingin keadaan kembali normal. Mereka ingin berjalan-jalan, bertemu dengan kerabat dan handai tolan serta teman.
Apakah berdiam di rumah sepenuhnya menjemukan? Bagi saya yang pada masa sebelum pandemi covid-19 beraktifitas di rumah, ketentuan WFH (work from home) bukan sesuatu yang mengejutkan. Saya tidak merasa bosan. Justru merasa senang karena berkumpul bersama dua anak gadis saya yang selama ini selalu berada di Yogyakarta. Saat ini saya tinggal bersama istri, anak-anak, ibu dan adik yang masih jomblo.
Ada hal-hal yang harus disyukuri pada masa pandemi ini.
1. Tadarus dengan zoom
Selama Ramadan kemarin saya mengajak saudara-saudara dan para keponakna membaca Alquran bersama lewat zoom. Saudara-saudara saya tersebar di Jakarta, Bekasi, Tegal, dan saya di Kebumen. Ibu saya walau tidak ikut membaca karena kemampuan mata beliau yang sudah menurun selalu ikut dalam pertemuan tersebut. Kangen beliau kepada anak-anak dan cucu-cucu terobati, dan tentu sangat bahagia menyimak para cucunya lancar membaca ayat-ayat Alquran.
2. Kultum tiap subuh dan menjelang tarawih
Karena saya sekeluarga harus selalu salat di rumah, istri saya mengusulkan agar tiap usai salat Subuh diadakan kuliah tujuh menit (kultum). Penyampai kultum bergantian: saya, istri, Nadia, Jasmine, dan adik dr. Hasan Bayuni. Eyang Putri cukup menjadi pendengar. Selama Ramadan kegiatan kultum ditambah, yaitu menjelang salat tarawih. Tiap hari masing-masing dari kami sibuk membaca buku atau tulisan pendek yang dapat diambil sebagai referensi kultum.
Dari lima orang jamaah terlihat kecenderungan masing-masing dalam menyampaikan kultum. Istri saya selalu menyampaikan hadits. Hasan selalu menyampikan dalil tatacara salat, dimulai dengan hadits-hadits tentang bacaan surat Alfatihah di dalam salat. Anakku Nadia senantiasa mengikuti pengajian dari YouTube yang diasuh oleh Imam Omar Suleyman dari Yaqeen Institute. Jasmine selalu menyampaikan kisah-kisah yang memotivasi untuk berbuat baik. Saya sendiri senantiasa berusaha menyampaikan hal-hal ringan dari kehidupan sehari-hari.
3. Suasana rumah yang semarak dengan bacaan quran
Eyang Putri, istri, dan kedua anakku adalah orang-orang yang senantiasa mendapatkan keasyikan dalam membaca Alquran. Istriku selalu mengingatkanku perihal pesan Amien Rais tentang keharusan membaca Alquran paling tidak satu juz dalam sehari. Amien Rais dalam banyak kesempatan bercerita bahwa ia pernah diceramahi oleh seorang tokoh Islam dari Mesir Muhammad Albahy, “Jangan pernah mengatakan bahwa dirimu pejuang Islam jika tidak pernah membaca Alquran minimal satu juz tiap hari.” Seorang pejuang Islam harus mencintai Alquran dan menjadikannya pedoman hidup. Salah satu cara menanamkan kecintaan kepada Alquran adalah dengan membacanya dan mempelajarinya sesering mungkin.
Istriku pernah kaget dan takjub ketika mendengar bahwa di bulan Ramadan Amien Rais senantiasa membaca alquran hingga tujuh juz setiap hari. Ia pun berupaya mengikuti langkah tokoh reformasi itu. Namun ia belum dapat seperti Amien Rais. Ia baru dapat menyelesaikan membaca lima juz dalam sehari. Bagiku itu luarbiasa. Berarti tiap pekan ia khatam membaca Alquran. Sementara aku, paling hanya satu juz tiap hari. Itu pun dengan susah payah. Lumayan lah.
Jika di dalam rumah tidak terdengar suara orang membaca Alquran, mungkin saya tidak tergerak untuk membacanya. Bahkan mungkin lalai terhadap Alquran. Namun karena lingkungan rumah dipenuhi dengan orang-orang yang membaca Alquran maka saya pun terdorong untuk ikut membacanya.
4. Salat malam berjamaah
Salah satu kekhasan bulan Ramadan adalah ibadah salat tarawih atau ‘qiyam al lail’. Di mana pun berada umat Islam tidak meninggalkan ibadah ini. Pada hakekatnya salat tarawih adalah salat malam yang semestinya sunnah dikerjakan di malam-malam di luar bulan Ramadan. Tapi anehnya umat Islam memperhatikan salat malam hanya di bulan Ramadan saja, dan di luar Ramadan banyak di antara mereka mengabaikannya. Barangkali mereka mengerjakannya namun tidak teratur. Sesekali saja, tidak setiap malam.
Agar semangat bangun malam atau ‘qiyam al lail’ tetap terjaga, maka Hasan menyampaikan gagasan mengejutkan. Ia mengusulkan agar tiap malam seluruh anggota rumah mendirikan salat malam berjamaah. Menurut sunnah, salat malam dikerjakan seorang diri. Namun tidak salah dan bukan bid’ah jika dikerjakan berjamaah. Contohnya adalah salat tarawih. Salat malam terdiri dari delapan rakaat ditambah salat witir rakaat. Jika salat malam dilaksanakan dengan berjamaah, akan ada semangat. Kami setuju. Sejak usai Ramadan, sudah tujuh kali kami melakukan salat malam berjamaah. Semoga langgeng.
27 Mei, 2020
Jadwal Kegiatan Era Covid 19
03.30 : Tahajud Bareng
04.00 : Sahur kalo pas puasa
04.30 : Subuh berjamaah
04.45 : Kultum bergantian
05.00 : Dzikir Pagi lanjut Baca Quran 1 juz
06.00 : Shalat Israq
06.30 : Nyuci baju, bersih bersih rumah
09.00 : Shalat Duha
09.30 : Baca Quran 1 juz
12.00 : Shalat Dhuhur
12.30 : Baca Quran 1 juz
13.30 : Istirahat , baca Buku Agama
15.30 : Shalat Ashar , dzikir Sore
16.00 : Masak buat Buka puasa/makan malam
16.45 : Baca Quran 1 juz
17.30 : Buka Puasa jika pas puasa lanjut shalat Maghrib
18.30 : Makan malam
19.30 : Shalat Isya
20.00 : Baca Quran 1 juz
21.00 : Baca Buku , Berita, Baca Al Mulk, Waqiah, Asjdah
21.30 : Tidur, jangan lupa wudhu, baca annas , al.falaq, al ikhlas, al kafirun, akhir albaqarah, allahuma inii aslamtu, allahuma alimal ghaib, allhumma rabbusmawat, subahanl Alhamdulillah allahuakbar 33x
Minimal di masa Pandemi ini baca Quran 5 juz sehari, masih kalah dengan Pak Amien yg sehari bisa 7 Juz
Yang penting istiqamah dan sambil direnungkan maknanya.Aamiin
04.00 : Sahur kalo pas puasa
04.30 : Subuh berjamaah
04.45 : Kultum bergantian
05.00 : Dzikir Pagi lanjut Baca Quran 1 juz
06.00 : Shalat Israq
06.30 : Nyuci baju, bersih bersih rumah
09.00 : Shalat Duha
09.30 : Baca Quran 1 juz
12.00 : Shalat Dhuhur
12.30 : Baca Quran 1 juz
13.30 : Istirahat , baca Buku Agama
15.30 : Shalat Ashar , dzikir Sore
16.00 : Masak buat Buka puasa/makan malam
16.45 : Baca Quran 1 juz
17.30 : Buka Puasa jika pas puasa lanjut shalat Maghrib
18.30 : Makan malam
19.30 : Shalat Isya
20.00 : Baca Quran 1 juz
21.00 : Baca Buku , Berita, Baca Al Mulk, Waqiah, Asjdah
21.30 : Tidur, jangan lupa wudhu, baca annas , al.falaq, al ikhlas, al kafirun, akhir albaqarah, allahuma inii aslamtu, allahuma alimal ghaib, allhumma rabbusmawat, subahanl Alhamdulillah allahuakbar 33x
Minimal di masa Pandemi ini baca Quran 5 juz sehari, masih kalah dengan Pak Amien yg sehari bisa 7 Juz
Yang penting istiqamah dan sambil direnungkan maknanya.Aamiin
SIFAT ORANG BERTAKWA
Kultum Subuh Oleh Navi Agustina
28/05/2020
Ibadah puasa melatih orang-orang beriman agar menjadi hamba-hamba yang bertakwa. JIka ibadah puasa dikerjakan dengan penuh ikhlas dan sesuai tuntuanan Allah dan RasulNya, maka pelakunya akan menjadi orang bertakwa. Bertakwakah kita?
Imam Ali bin Abi Talib menerangkan tanda-tanda orang bertakwa dalam sebuah kalimat yan ia susun menjadi sebuah syair:
الخوف من الجليل
Alkhawfu min al jalil
(Takut kepada sang Maha Luhur)
العمل با لتنزيل
Al amal bi at tanzil
(Bertindak sesuai wahyu Alquran)
الرضى بالقليل
Ar rida bi al qalil
(Rida dengan pendapatan yang sedikit)
الاستعداد ليوم الرحيل
Al isti’dad li yawm al rahil
(Bersiap menghadapi kematian)
Demikian nasehat Imam Ali, semoga Allah sucikan wajahnya, kepada kita agar meraih derajat takwa.
1. Takut kepada Allah berarti takut berbuat dosa. Mungkin tidak sadar kita melupakan , melalaikan menyepelakan syariat syariat Nya.
Syariat shalat, puasa, zakat haji menutup aurat dll jangan jangan kita belum memenuhinya.
Iman kita masih naik turun, suka beramal karena ingin pujian atau ridha manusia, dsb
Mungkin kita belum bisa berbuat baik (ihsan) kepada sesama manusia, masih suka marah, sulit memafkan,pelit bahkan kepada sesama makhluk ciptaan Allah, baik yang bernyawa maupun tak bernyawa kita harus berbuat baik (ihsan)
2. Beramal sesuai wahyu Alquran berarti bahwa dalam setiap tindakan kita harus berpedoman kepada Alquran dan sunnah. Semangat Alquran harus menjadi penerang kita dalam melakukan apa saja. Semangat Alquran adalah ‘tauhid, keadilan, penghormatan atas kemanusiaan, menghormati hak hidup setiap orang, meghormati hak milik tiap orang, menghormati keyakinan tiap orang, menghormati pendapat orang lain, tidak menyakiti sesama manusia, menjaga amanat, kesamaan derajat manusia, hormat kepada ibu bapak, tidak memutus silaturahmi’.
Beramal memiliki syarat, niat karena Allah dan sesuai tuntunan Nabi Muhammad saw.
Maka amal selalu bersanding dengan iman, begitu pula sebaliknya.
Nabi bersabda, Tidak diterima iman tanpa amal, begitu juga tidak diterima amal tanpa iman.
Dalam ayat ayat alquran diterangkan siapa beramal sholeh dalam keadaan beriman...ada syarat harus iman. Jika tidak percuma amal sholehnya bagai debu yg beterbangan.
3. Rida dengan rezeki yang sedikit. Niai rezeki sesungguhnya tidak terletak pada kuantitasnya, melainkan pada kualitasnya. Rezeki sungguh bermakna jika cukup untuk digunakan, dan jika ada kelebihan maka harus diinfakkan, baik langsung kepada meraka yang membutuhkan atau kepada lembaga resmi yang mengelola infak dan zakat seperti lazismu.
Banyak orang berpenghasilan besar namun tidak pernah merasa cukup, sebaliknya banyak yang berpenghasilan rendah namun segala kebutuhannya tercukupi. Dan kebahagiaan akan teras saat kita berbagi. Berapa pun rezeki yang kita dapatkan, hendaknya ada sebagian yang kita bagikan kepada kerabat kita.
4. Bersiap menghadapi kematian. Hanya orang cerdas yang memiliki pandngan jauh ke depan. Seorang yang terbiasa berpikir jangka panjang, ia akan menyiapkan pelbagai hal bagai ia akan bepergian jauh
Dan sebaik baik bekal adalah taqwa
Nabi pernah berpesan kepada Abu Zar agar “memperbaiki kapal, karena samudra luas dan dalam; memperbanyak bekal karena perjalnan jauh; meringankan beban karena jalan terjal mendaki; dan ikhlaslah dalam bekerja karena Alah tahu apa yang ada dalambenakmu.”
Bekerja dengan ikhlas, berbuat kebaikan, dan mendidik generasi muda adalah persiapan nyata dalammenghadapi kematian.
28 Mei 2020
Kultum Subuh Oleh Navi Agustina
28/05/2020
Ibadah puasa melatih orang-orang beriman agar menjadi hamba-hamba yang bertakwa. JIka ibadah puasa dikerjakan dengan penuh ikhlas dan sesuai tuntuanan Allah dan RasulNya, maka pelakunya akan menjadi orang bertakwa. Bertakwakah kita?
Imam Ali bin Abi Talib menerangkan tanda-tanda orang bertakwa dalam sebuah kalimat yan ia susun menjadi sebuah syair:
الخوف من الجليل
Alkhawfu min al jalil
(Takut kepada sang Maha Luhur)
العمل با لتنزيل
Al amal bi at tanzil
(Bertindak sesuai wahyu Alquran)
الرضى بالقليل
Ar rida bi al qalil
(Rida dengan pendapatan yang sedikit)
الاستعداد ليوم الرحيل
Al isti’dad li yawm al rahil
(Bersiap menghadapi kematian)
Demikian nasehat Imam Ali, semoga Allah sucikan wajahnya, kepada kita agar meraih derajat takwa.
1. Takut kepada Allah berarti takut berbuat dosa. Mungkin tidak sadar kita melupakan , melalaikan menyepelakan syariat syariat Nya.
Syariat shalat, puasa, zakat haji menutup aurat dll jangan jangan kita belum memenuhinya.
Iman kita masih naik turun, suka beramal karena ingin pujian atau ridha manusia, dsb
Mungkin kita belum bisa berbuat baik (ihsan) kepada sesama manusia, masih suka marah, sulit memafkan,pelit bahkan kepada sesama makhluk ciptaan Allah, baik yang bernyawa maupun tak bernyawa kita harus berbuat baik (ihsan)
2. Beramal sesuai wahyu Alquran berarti bahwa dalam setiap tindakan kita harus berpedoman kepada Alquran dan sunnah. Semangat Alquran harus menjadi penerang kita dalam melakukan apa saja. Semangat Alquran adalah ‘tauhid, keadilan, penghormatan atas kemanusiaan, menghormati hak hidup setiap orang, meghormati hak milik tiap orang, menghormati keyakinan tiap orang, menghormati pendapat orang lain, tidak menyakiti sesama manusia, menjaga amanat, kesamaan derajat manusia, hormat kepada ibu bapak, tidak memutus silaturahmi’.
Beramal memiliki syarat, niat karena Allah dan sesuai tuntunan Nabi Muhammad saw.
Maka amal selalu bersanding dengan iman, begitu pula sebaliknya.
Nabi bersabda, Tidak diterima iman tanpa amal, begitu juga tidak diterima amal tanpa iman.
Dalam ayat ayat alquran diterangkan siapa beramal sholeh dalam keadaan beriman...ada syarat harus iman. Jika tidak percuma amal sholehnya bagai debu yg beterbangan.
3. Rida dengan rezeki yang sedikit. Niai rezeki sesungguhnya tidak terletak pada kuantitasnya, melainkan pada kualitasnya. Rezeki sungguh bermakna jika cukup untuk digunakan, dan jika ada kelebihan maka harus diinfakkan, baik langsung kepada meraka yang membutuhkan atau kepada lembaga resmi yang mengelola infak dan zakat seperti lazismu.
Banyak orang berpenghasilan besar namun tidak pernah merasa cukup, sebaliknya banyak yang berpenghasilan rendah namun segala kebutuhannya tercukupi. Dan kebahagiaan akan teras saat kita berbagi. Berapa pun rezeki yang kita dapatkan, hendaknya ada sebagian yang kita bagikan kepada kerabat kita.
4. Bersiap menghadapi kematian. Hanya orang cerdas yang memiliki pandngan jauh ke depan. Seorang yang terbiasa berpikir jangka panjang, ia akan menyiapkan pelbagai hal bagai ia akan bepergian jauh
Dan sebaik baik bekal adalah taqwa
Nabi pernah berpesan kepada Abu Zar agar “memperbaiki kapal, karena samudra luas dan dalam; memperbanyak bekal karena perjalnan jauh; meringankan beban karena jalan terjal mendaki; dan ikhlaslah dalam bekerja karena Alah tahu apa yang ada dalambenakmu.”
Bekerja dengan ikhlas, berbuat kebaikan, dan mendidik generasi muda adalah persiapan nyata dalammenghadapi kematian.
28 Mei 2020
After Ramadan di masa Corona
Setelah Ramadan 1441 H ini, keluarga kami membuat sunnah baru, yaitu melaksanakan shalat tahajud berjamaah.
Biasanya beberapa dari kami sudah shalat Tahajud sendiri sendiri, ada juga yang tidak.
Karena selama ramadan ini kami sudah melaksanakan tarawih bersama selama sebulan, juga disertai kultum setelah isya dan subuh, maka om hasan usul agar shalat malam terus dilakukan secara berjamaah.
Kultum nya dikurangi jadi setelah subuh saja.
Alhamdulillah, mulai lebaran kedua sunnah ini sudah mulai dilaksanakan.
Hal ini dilakukan agar yg belum terbiasa shalat malam mulai membiasakan shalat malam yeng merupakan sunnah yg sangat ditekankan(muakkad)
Semoga kami senantiasa diberi kesehatan dan semangat dalam menjalankan ketaan kepada Allah.
Shalat tahajud adalah salah satu ciri orang bertaqwa.
Dalam surat Adzariyat 15 -17
Sesungguh nya orang orang yg bertkwa berada didalam surga yg penuh dengan mata air
Mereka mengambil apa yg diberikan Tuhan mereka, mereka waktu di dunia adalah orang 2 yg berbuat Ihsan
Mereka sedikit tidur dimalam hari
Karena bangun untuk shalat malam
Wallahu a'lam bishawab
28 Mei 2020
25 Mei, 2020
*Kultum ba'da subuh*
*ust Abduh Hisyam*
Di dalam Al Qur'an terdapat doa yang sangat spesial.
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
(QS Al Ahqaf : 15)
Ustad abduh mengingatkan perlunya bersyukur bahwa kita dilahirkan dalam keluarga pejuang islam, namun bukan pejuang yang juga mendapatkan/bergantung penghasilannya dari perjuangan itu sendiri.
Orang tua kita berjuang mendirikan usaha yg kemudian hasil usahanya digunakan/dikeluarkan untuk perjuangan islam, bukan karena memperjuangkan islam kemudian kita mendapat penghasilan dari situ. Tak jarang kita mendengar orang bercerita bagaimana orang tua kita di masa lampau gemar ber infak shg wajar jika saat orang tau kita adalah anak anak beliau maka orang berfikir anak anaknya juga gemar berinfak. Jd akan menjadi sesuatu yang aneh jika anak anaknya kemudian dikenal pelit/bakhil. Begitupun bagaimana orang tua kita dikenal taat dalam ibadah dan perjuangannya di persyarikatan shg wajar orang berharap lebih kepada kita.
Maka kita sebagai anak anaknya harus meneruskan perjuangan tersebut, Alm hisyam adnan dan Alm mas'udi telah memberikan bekal dan contoh yang baik bagi kita. Ini tantangan bagi kita anak anak dan cucu cucunya utk selalu berprestasi dan memberikan yang terbaik untuk persyarikatan.
Mari kita teruskan perjuangan orang tua kita, dan semoga ini juga menjadi amal jariyah bagi kedua orang tua kita. aamiin..
3Syawal 1441H
*ust Abduh Hisyam*
Di dalam Al Qur'an terdapat doa yang sangat spesial.
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".
(QS Al Ahqaf : 15)
Ustad abduh mengingatkan perlunya bersyukur bahwa kita dilahirkan dalam keluarga pejuang islam, namun bukan pejuang yang juga mendapatkan/bergantung penghasilannya dari perjuangan itu sendiri.
Orang tua kita berjuang mendirikan usaha yg kemudian hasil usahanya digunakan/dikeluarkan untuk perjuangan islam, bukan karena memperjuangkan islam kemudian kita mendapat penghasilan dari situ. Tak jarang kita mendengar orang bercerita bagaimana orang tua kita di masa lampau gemar ber infak shg wajar jika saat orang tau kita adalah anak anak beliau maka orang berfikir anak anaknya juga gemar berinfak. Jd akan menjadi sesuatu yang aneh jika anak anaknya kemudian dikenal pelit/bakhil. Begitupun bagaimana orang tua kita dikenal taat dalam ibadah dan perjuangannya di persyarikatan shg wajar orang berharap lebih kepada kita.
Maka kita sebagai anak anaknya harus meneruskan perjuangan tersebut, Alm hisyam adnan dan Alm mas'udi telah memberikan bekal dan contoh yang baik bagi kita. Ini tantangan bagi kita anak anak dan cucu cucunya utk selalu berprestasi dan memberikan yang terbaik untuk persyarikatan.
Mari kita teruskan perjuangan orang tua kita, dan semoga ini juga menjadi amal jariyah bagi kedua orang tua kita. aamiin..
3Syawal 1441H
23 Mei, 2020
Reuni di Surga
*With their families in paradise | servant of the most merciful*
Oleh Nadia Elasalama
Salah satu ciri hamba yang dirahmati Allah (ibadurrahman) adalah yang berdoa:
_Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Furqan 74)_
Mereka tentu ingin keluarganya selamat, dan merasakan bahaya jika keluarganya tdk beriman atau malah memilih tujuan hidup yg lain sebab mereka mengetahui bahwa dunia ini hanyalah ujian dari Allah. Meski di dunia sudah merasa bahagia, tapi kalau keluarga tidak taat dan lalai pada syariat, bagaimana kondisi mereka di akhirat kelak? Mungkin kelak mereka tidak akan bertemu kembali, padahal kehidupan sesungguhnya adalah akhirat.
Tentu kita akan sangat bersyukur dan merasa jika dalam satu keluarga punya visi yg sama agar selamat dunia akherat, yakni dengan bertauhid kepada Allah.
Sebagaimana teman-teman yang yg ingin agar kita selamat dunia akhirat dengan selalu mengingatkan kita untuk semangat beribadah dan tidak bermalas-malas, ialah sebaik-baik teman.
Mereka yang mendoakan keluarganya dan terus bersabar dalam dakwahnya akan diberi balasan karena kesabaran mereka dalam menghadapi tindak kejelekan yang dilakukan oleh keluarga mereka sendiri, dengan menunjukkan akhlak yang baik dan ber-amar ma'ruf nahi munkar.
Rasulullah bersabda, _"inna 'adhama al-bala' ma'a adhami al-jaza'”_, _sesungguhnya besarnya cobaan akan berbanding lurus dengan besarnya balasan._
Di surga nanti, mereka akan mendapat ucapan kedamaian dan tempat terbaik.
_75. Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan disana mereka akan di sambut dengan penghormatan dan salam. 76. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman._
Dari Abu Said Al Khudri dan Abu Hurairah dari rasulullah SAW yang bersabda, “ Penyeru memanggil,” Sesungguhnya sekarang tibalah saatnya kalian sehat wa alfiat dan tidak menderita sakit selama lamanya. Sekarang tibalah saatnya kalian hidup dan tidak mati selama lamanya. Sekarang tibalah saat bagi kalian tetap muda dan tidak tua selama lamanya. Sekarang tibalah saatnya bagi kalian bersenang senang dan tidak sengsara selama lamanya.”" (HR Muslim).
Oleh Nadia Elasalama
Salah satu ciri hamba yang dirahmati Allah (ibadurrahman) adalah yang berdoa:
_Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Furqan 74)_
Mereka tentu ingin keluarganya selamat, dan merasakan bahaya jika keluarganya tdk beriman atau malah memilih tujuan hidup yg lain sebab mereka mengetahui bahwa dunia ini hanyalah ujian dari Allah. Meski di dunia sudah merasa bahagia, tapi kalau keluarga tidak taat dan lalai pada syariat, bagaimana kondisi mereka di akhirat kelak? Mungkin kelak mereka tidak akan bertemu kembali, padahal kehidupan sesungguhnya adalah akhirat.
Tentu kita akan sangat bersyukur dan merasa jika dalam satu keluarga punya visi yg sama agar selamat dunia akherat, yakni dengan bertauhid kepada Allah.
Sebagaimana teman-teman yang yg ingin agar kita selamat dunia akhirat dengan selalu mengingatkan kita untuk semangat beribadah dan tidak bermalas-malas, ialah sebaik-baik teman.
Mereka yang mendoakan keluarganya dan terus bersabar dalam dakwahnya akan diberi balasan karena kesabaran mereka dalam menghadapi tindak kejelekan yang dilakukan oleh keluarga mereka sendiri, dengan menunjukkan akhlak yang baik dan ber-amar ma'ruf nahi munkar.
Rasulullah bersabda, _"inna 'adhama al-bala' ma'a adhami al-jaza'”_, _sesungguhnya besarnya cobaan akan berbanding lurus dengan besarnya balasan._
Di surga nanti, mereka akan mendapat ucapan kedamaian dan tempat terbaik.
_75. Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan disana mereka akan di sambut dengan penghormatan dan salam. 76. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman._
Dari Abu Said Al Khudri dan Abu Hurairah dari rasulullah SAW yang bersabda, “ Penyeru memanggil,” Sesungguhnya sekarang tibalah saatnya kalian sehat wa alfiat dan tidak menderita sakit selama lamanya. Sekarang tibalah saatnya kalian hidup dan tidak mati selama lamanya. Sekarang tibalah saat bagi kalian tetap muda dan tidak tua selama lamanya. Sekarang tibalah saatnya bagi kalian bersenang senang dan tidak sengsara selama lamanya.”" (HR Muslim).
Kembali ke Al Quran dan Assunnah by Kak Nadia
Pembicaraan ilmiah tentang Islam sangat luar biasa. Karya nyatanya bisa kita lihat dari kerja-kerja Muhammadiyah kalau di Indonesia, atau Yaqeen Institute kalau di barat. Semua bermula dari sikap ketauhidan yang kuat dan mengutamakan Islam sebagai pedoman hidup. _Hablun minallah (sebaik-baik ideologi)_, pasti menghasilkan _hablun minannas (tindakan)._
Ternyata benar ya, kalau _Al-Islamu mahjubun bil muslimin_ (Islam tertutup oleh muslim itu sendiri). Ketika ada muslim yang sangat taat namun jumud, orang-orang kemudian memandang kalau orang itu cuma "Hablun minallah", atau hanya mengutamakan syariat tanpa akal. Padahal, orang tersebut hanya 'kurang belajar', dan itu adalah kesalahannya sendiri karena belum mengamalkan sepenuhnya perintah Allah. Seseorang yang tauhidnya kuat, pasti amal dan tindakannya akan berkualitas.
Sebaliknya, orang-orang yang hanya fokus pada perdebatan dan ilmu pengetahuan namun mengesampingkan syariat, sesungguhnya mereka sangatlah merugi. Fokusnya hanya pada kemanusiaan dan rasionalitas, namun ragu pada Alquran dan sunnah. Amalnya tidak akan diterima karena secara ideologis, mereka meragukan ayat Allah dan syariat-syariatnya.
Alhamdulillah, kita semua sudah merasakan manisnya iman. Kalau direnungi lagi, Islam sempurna sekali ya? Semua aspek kebaikan dari pemikiran-pemikiran non-Islam sudah tercakup dalam agama kita. Tanpa memandang lewat disiplin lain, secara agama saja, penutupan masjid dan penundaan haji adalah implikasi dari kecintaan Allah pada hamba-Nya; prinsip utama syariat demi menjaga nyawa manusia. Lantas, kalau ada ajaran agama yang kita rasa belum jelas atau kurang masuk akal, pasti lagi-lagi adalah keterbatasan kita dalam memahami ayat-ayat Allah. Kesalahan kita yang masih suka malas beribadah dan mencari ilmu. Masih banyak majelis yang kita abaikan, masih banyak nasihat para ulama yang belum kita dengar, dan masih banyak kitab yang belum dibaca....
Untuk menegakkan ideologi terbaik ini, maka tugas kita sebagai manusia sangat berat ya 🥺 mempelajari Alquran dan sunnah, mentadabburi, dan mengamalkan. Belum lagi mencari ilmu dunia sebagai strategi dakwah dan amar maruf nahi munkar. Sayangnya, waktu kita hidup di dunia sangat terbatas. Jangan sampai waktu kita sia-sia, sedangkan umur kita terus berkurang. Barakallah Bapak, Ibu, Yasmin... Selamat menebar kebaikan di muka bumi dengan kemampuan terbaik kita. Kita lanjutkan perjuangan rasulullah, para khalifah, ulama dan pembaharu, Ahmad Dahlan... serta pejuang-pejuang Islam lainnya! Kalau ada urusan yang susah, perbaiki hubungan vertikal kita dulu 😊 Semoga kita semua bisa menjadi sebaik-baik hamba di mata Allah dan dipertemukan kembali di surga-Nya kelak.
Ternyata benar ya, kalau _Al-Islamu mahjubun bil muslimin_ (Islam tertutup oleh muslim itu sendiri). Ketika ada muslim yang sangat taat namun jumud, orang-orang kemudian memandang kalau orang itu cuma "Hablun minallah", atau hanya mengutamakan syariat tanpa akal. Padahal, orang tersebut hanya 'kurang belajar', dan itu adalah kesalahannya sendiri karena belum mengamalkan sepenuhnya perintah Allah. Seseorang yang tauhidnya kuat, pasti amal dan tindakannya akan berkualitas.
Sebaliknya, orang-orang yang hanya fokus pada perdebatan dan ilmu pengetahuan namun mengesampingkan syariat, sesungguhnya mereka sangatlah merugi. Fokusnya hanya pada kemanusiaan dan rasionalitas, namun ragu pada Alquran dan sunnah. Amalnya tidak akan diterima karena secara ideologis, mereka meragukan ayat Allah dan syariat-syariatnya.
Alhamdulillah, kita semua sudah merasakan manisnya iman. Kalau direnungi lagi, Islam sempurna sekali ya? Semua aspek kebaikan dari pemikiran-pemikiran non-Islam sudah tercakup dalam agama kita. Tanpa memandang lewat disiplin lain, secara agama saja, penutupan masjid dan penundaan haji adalah implikasi dari kecintaan Allah pada hamba-Nya; prinsip utama syariat demi menjaga nyawa manusia. Lantas, kalau ada ajaran agama yang kita rasa belum jelas atau kurang masuk akal, pasti lagi-lagi adalah keterbatasan kita dalam memahami ayat-ayat Allah. Kesalahan kita yang masih suka malas beribadah dan mencari ilmu. Masih banyak majelis yang kita abaikan, masih banyak nasihat para ulama yang belum kita dengar, dan masih banyak kitab yang belum dibaca....
Untuk menegakkan ideologi terbaik ini, maka tugas kita sebagai manusia sangat berat ya 🥺 mempelajari Alquran dan sunnah, mentadabburi, dan mengamalkan. Belum lagi mencari ilmu dunia sebagai strategi dakwah dan amar maruf nahi munkar. Sayangnya, waktu kita hidup di dunia sangat terbatas. Jangan sampai waktu kita sia-sia, sedangkan umur kita terus berkurang. Barakallah Bapak, Ibu, Yasmin... Selamat menebar kebaikan di muka bumi dengan kemampuan terbaik kita. Kita lanjutkan perjuangan rasulullah, para khalifah, ulama dan pembaharu, Ahmad Dahlan... serta pejuang-pejuang Islam lainnya! Kalau ada urusan yang susah, perbaiki hubungan vertikal kita dulu 😊 Semoga kita semua bisa menjadi sebaik-baik hamba di mata Allah dan dipertemukan kembali di surga-Nya kelak.
29 April, 2020
Kultum hari ke 6 Ramadhan oleh Abduh Hisyam
Dalam muqodimah anggaran dasar muhammadiyah, ada Tujuh Pokok Pikiran Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah adalah,
Yang pertama, hidup manusia harus berdasar *tauhid,* bertuhan, beribadah serta tunduk dan taat kepada Allah SWT
Jadi manusia, kita harus mengimplementasikan tauhid salah satunya dengan sensitif dengan ketidak adilan, utk kemudian memperjuangkan keadilan dan menghilangkan penindasa
Yang pertama, hidup manusia harus berdasar *tauhid,* bertuhan, beribadah serta tunduk dan taat kepada Allah SWT
Jadi manusia, kita harus mengimplementasikan tauhid salah satunya dengan sensitif dengan ketidak adilan, utk kemudian memperjuangkan keadilan dan menghilangkan penindasa
Kultum hari ke 7 Ramadhan by Hasan Bayuni
*Pelajaran dari Alquran*
*Fase Perjalanan Om Hasan:*
Ketika dulu usaha futsal, ada nafsu dunia yang tidak terkendali. Mendapat rezeki besar, tapi kurang berkah. Hal ini mendekatkan Om Hasan pada dunia dan jauh dari Quran. Padahal rezeki itu dari Allah, _min khaitsu la yakhtasib_ (dari arah yang tidak disangka-sangka).
*Mencoba kembali belajar Alquran*
Om Hasan rutin membaca Alquran setiap harinya melalui Alquran tafsir dan terjemahan, khatam setiap 6 bulan. Selesai khatam dan membaca kembali seperti selalu menemukan sesuatu yang baru. Penjelasan dari Al Mishbah paling menarik dan mudah dipahami. Alquran seperi sumber kesehatan terbaik, karena banyak ayat-ayat tentang kesehatan. Ketika jadi direktur, Alquran ternyata adalah buku manajemen terbaik.
Al Baqarah:168, perintah Allah kepada manusia untuk memakan segala sesuatu yang halal dan baik. Dalam Islam, yang halal lebih banyak daripada yang diharamkan namun kurang tahu kenapa itu dilarang. Padahal segala sesuatu yang dihalalkan pasti berdampak baik. Sedangkan sesuatu yang haram pasti akan berdampak buruk.
_"Dihalalkan bagimu yang baik-baik, dan diharamkan bagimu yang jelek-jelek"_
Allah ingin membuat kita terjaga. Contoh, kita boleh membuat fatwa rokok itu tidak baik untuk diri kita, karena rokok bisa jadi akan membahayakan kesehatan.
*Tayyib*
Ketika makanan itu didapat dengan cara yang baik. Ini demi menjaga rohani kita kepada Allah. Sesuatu yang kalau kita makan akan memberikan dampak yang baik. Tayyib sifatnya relatif bagi setiap orang. Tujuannya supaya badan kita sehat, sehingga kita bisa maksimal beribadah kepada Allah.
Rasulullah punya ketahanan fisik yang baik selama 63 tahun sehingga ilmunya bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Ada seorang yang ilmunya banyak, namun tidak sehat sehingga tidak bisa ke masjid & majelis ilmu untuk membagikan ilmunya.
_Wahai Anak Adam, pakailah pakaian terbaikmu (bukan mahal, namun bisa menutupi aurat), untuk memasuki masjid. Makan dan minumlah dengan tidak berlebihan._
Mengatur nutrisi yang seimbang juga butuh ilmu. Maka penting bagi kita untuk menjaga gizi sehari-hari dengan mengetahui kandungan gizi dalam tiap makanan.
*Fase Perjalanan Om Hasan:*
Ketika dulu usaha futsal, ada nafsu dunia yang tidak terkendali. Mendapat rezeki besar, tapi kurang berkah. Hal ini mendekatkan Om Hasan pada dunia dan jauh dari Quran. Padahal rezeki itu dari Allah, _min khaitsu la yakhtasib_ (dari arah yang tidak disangka-sangka).
*Mencoba kembali belajar Alquran*
Om Hasan rutin membaca Alquran setiap harinya melalui Alquran tafsir dan terjemahan, khatam setiap 6 bulan. Selesai khatam dan membaca kembali seperti selalu menemukan sesuatu yang baru. Penjelasan dari Al Mishbah paling menarik dan mudah dipahami. Alquran seperi sumber kesehatan terbaik, karena banyak ayat-ayat tentang kesehatan. Ketika jadi direktur, Alquran ternyata adalah buku manajemen terbaik.
Al Baqarah:168, perintah Allah kepada manusia untuk memakan segala sesuatu yang halal dan baik. Dalam Islam, yang halal lebih banyak daripada yang diharamkan namun kurang tahu kenapa itu dilarang. Padahal segala sesuatu yang dihalalkan pasti berdampak baik. Sedangkan sesuatu yang haram pasti akan berdampak buruk.
_"Dihalalkan bagimu yang baik-baik, dan diharamkan bagimu yang jelek-jelek"_
Allah ingin membuat kita terjaga. Contoh, kita boleh membuat fatwa rokok itu tidak baik untuk diri kita, karena rokok bisa jadi akan membahayakan kesehatan.
*Tayyib*
Ketika makanan itu didapat dengan cara yang baik. Ini demi menjaga rohani kita kepada Allah. Sesuatu yang kalau kita makan akan memberikan dampak yang baik. Tayyib sifatnya relatif bagi setiap orang. Tujuannya supaya badan kita sehat, sehingga kita bisa maksimal beribadah kepada Allah.
Rasulullah punya ketahanan fisik yang baik selama 63 tahun sehingga ilmunya bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Ada seorang yang ilmunya banyak, namun tidak sehat sehingga tidak bisa ke masjid & majelis ilmu untuk membagikan ilmunya.
_Wahai Anak Adam, pakailah pakaian terbaikmu (bukan mahal, namun bisa menutupi aurat), untuk memasuki masjid. Makan dan minumlah dengan tidak berlebihan._
Mengatur nutrisi yang seimbang juga butuh ilmu. Maka penting bagi kita untuk menjaga gizi sehari-hari dengan mengetahui kandungan gizi dalam tiap makanan.
19 April, 2020
Lock down para Nabi
Lock down
Di zaman wabah corona ini,istilah lock down menjadi akrab di telinga kita.
Lock down sendiri artinya di kunci.
Kalo kita belajar sejarah para Nabi, banyak Nabi Nabi yang mengalami lock down dalam kehidupan nya.
1. Nabi Yunus
2. Nabi ayyub
3. Pemuda Ashabul Kahfi
4. Nabi Yusuf
5. Nabi Muhammad dan Abu Bakar
Nabu Yunus pernah dikunci dalam Ikan Paus karena dibuang oleh awak kapal yg kelebihan muatan, nabi Yunus pergi dalam keadaan marah kepada kaum nya karena kaumnya tidak mau menuruti dakwahnya, akhirnya Yunus pergi dan tidak mau berdakwah lagi. Akhirnya ketika di dalam kapal, Yunus ditakdirkan Allah yg harus keluar dari kapal, dan akhirnya Nabi Yunus pun diterkam oleh Ikan Paus.Ketika dialam peruut ikan tersebut Nabi Yunus menyadari kesalahan nya, dan bertasbih swrta mhn ampun pada Allah, La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu min adzlimin.
2. Lockdown Nabi Ayyub
Selama 18 tahun Nabi Ayub di lock down dengan sakit parah yang membuat orang orang menjauhinya.
Kekayaan dan anak anaknya pun ikut diambil oleh yang Kuasa...
Tapi Nabi Ayyub tetap bersabar dan bersabar.
Pernah istrinya menanyakan, kenapa engaku tidak berdoa minta kesembuhan.
Kata Nabi
3. Pemuda Ashabul Kahfi di lock down dalam Gua selama 309 tahun. Ya merrka diselamatkan Allah dari Pemimlin zalim dengan menidurkan para pemuda beriman tersebut di dalam Gua ashabul Kahfi. Doa mereka.Rabbana atina minadunka rahmah wa hayyi' lana min amrina rosyada
4. Nabi Yusuf.
Nabi Yusuf di lockdown dalam Penjara karena dituduh berbuat tidak senonoh dengan majikan nya selama kurang lebih 7 tahun. Disana Nabi Yusuf tetap sabar dan berdakwah.Doa Nabi Yusuf Ya Allah penjara lejih aku sukai dr pada aku berkhianat atau memenuhi ajakan mereka, dan Allah mengabulkan doanya, atas izin Allah Nabi Yusuf keluar dari penjara dan dibersihkan namanya dan bahkan menjadi Bendahara Mesir.
6. Nabi Muhammaddan Abu Bakar. Ketika mereka di kejar pasukan Quraish, Nabi terlockdown dalam Gua, meski tidak lama, itu cukup meresahkan ,Bahkan Abu bakar merasa resah, lalu Nabi menennagkan abu bakar dan menasehati nya La Tahzan Innalla ma'ana
Banyak juga kisah kisah lain orang orang yg terlockdown, lalu mereka mengambil hikmah di balik itu.
Hamka, seorang ulama besar, di lockdown dalam penjara oleh Sukarno, dan dia tetap sabar dan dia berhasil membuat karya luar biasa tafsir quran Al ahzar.
Lock down kita sekarang tidak seberat yg dialami para Nabi, kita di kock down karena ada musibah corona, tidak full lock down, tapi masih bisa keluar keluar, bisa ketemu keluarga, masih bisa sesekali ke pasar dll, mari kita gunakan lockdon melawan Corona dengan sabar dan taqwa, seperti yg sudah dilakukan para nabi.
Wallahu alam bishawab
Di zaman wabah corona ini,istilah lock down menjadi akrab di telinga kita.
Lock down sendiri artinya di kunci.
Kalo kita belajar sejarah para Nabi, banyak Nabi Nabi yang mengalami lock down dalam kehidupan nya.
1. Nabi Yunus
2. Nabi ayyub
3. Pemuda Ashabul Kahfi
4. Nabi Yusuf
5. Nabi Muhammad dan Abu Bakar
Nabu Yunus pernah dikunci dalam Ikan Paus karena dibuang oleh awak kapal yg kelebihan muatan, nabi Yunus pergi dalam keadaan marah kepada kaum nya karena kaumnya tidak mau menuruti dakwahnya, akhirnya Yunus pergi dan tidak mau berdakwah lagi. Akhirnya ketika di dalam kapal, Yunus ditakdirkan Allah yg harus keluar dari kapal, dan akhirnya Nabi Yunus pun diterkam oleh Ikan Paus.Ketika dialam peruut ikan tersebut Nabi Yunus menyadari kesalahan nya, dan bertasbih swrta mhn ampun pada Allah, La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu min adzlimin.
2. Lockdown Nabi Ayyub
Selama 18 tahun Nabi Ayub di lock down dengan sakit parah yang membuat orang orang menjauhinya.
Kekayaan dan anak anaknya pun ikut diambil oleh yang Kuasa...
Tapi Nabi Ayyub tetap bersabar dan bersabar.
Pernah istrinya menanyakan, kenapa engaku tidak berdoa minta kesembuhan.
Kata Nabi
3. Pemuda Ashabul Kahfi di lock down dalam Gua selama 309 tahun. Ya merrka diselamatkan Allah dari Pemimlin zalim dengan menidurkan para pemuda beriman tersebut di dalam Gua ashabul Kahfi. Doa mereka.Rabbana atina minadunka rahmah wa hayyi' lana min amrina rosyada
4. Nabi Yusuf.
Nabi Yusuf di lockdown dalam Penjara karena dituduh berbuat tidak senonoh dengan majikan nya selama kurang lebih 7 tahun. Disana Nabi Yusuf tetap sabar dan berdakwah.Doa Nabi Yusuf Ya Allah penjara lejih aku sukai dr pada aku berkhianat atau memenuhi ajakan mereka, dan Allah mengabulkan doanya, atas izin Allah Nabi Yusuf keluar dari penjara dan dibersihkan namanya dan bahkan menjadi Bendahara Mesir.
6. Nabi Muhammaddan Abu Bakar. Ketika mereka di kejar pasukan Quraish, Nabi terlockdown dalam Gua, meski tidak lama, itu cukup meresahkan ,Bahkan Abu bakar merasa resah, lalu Nabi menennagkan abu bakar dan menasehati nya La Tahzan Innalla ma'ana
Banyak juga kisah kisah lain orang orang yg terlockdown, lalu mereka mengambil hikmah di balik itu.
Hamka, seorang ulama besar, di lockdown dalam penjara oleh Sukarno, dan dia tetap sabar dan dia berhasil membuat karya luar biasa tafsir quran Al ahzar.
Lock down kita sekarang tidak seberat yg dialami para Nabi, kita di kock down karena ada musibah corona, tidak full lock down, tapi masih bisa keluar keluar, bisa ketemu keluarga, masih bisa sesekali ke pasar dll, mari kita gunakan lockdon melawan Corona dengan sabar dan taqwa, seperti yg sudah dilakukan para nabi.
Wallahu alam bishawab
17 April, 2020
Sabar
Sabar
Itulah pilihan kita sabagai seorang muslim dan mukmin.
Disaat ada wabah corona melanda seluruh dunia, termasuk indonesia, hanya satu yg bisa kita lakukan. Sabar!!
Sungguh menakjubkan perkara orang yg beriman, ketika diuji dia bersabar, dan ketika mendapat kebahagiaan dia bersyukur.
Sekarang kita semua sedang diuji Allah dengan wabah dari makhluq kecil yg tak terlihat mata bernama corona.
Untuk mengehntikan penyebarannya maka semua aktifitas dimanapun diminimalisir.
Akibatnya, ekonomi akan sedikit melambat, yang menjadikan efek domino, dimana, masyarakat pun banyak yg mengangur, dan tak mendapat pemasukan.
Sabar
Sekali lagi itulah pilihan bagi kita.
Namun , sabar bukan berarti tanpa usaha.
Sambil menunggu wabah mereda, kita tetap menjalankan ibadah kepada Allah.
Justru semakin kita mendekat pada Allah , kita akan bisa melewati ini semua dengan sukses.
Sabar, itulah pilihan kita saat ini sebagai orang yg beriman.
Kita ingat Nabi Ayub ketika diuji dengan sakit parah selama 18 tahun, keluarga dan harta dicabut, Nabi Ayub bersabar, dan karena kesabarannya Allah mengembalikan kesehatan, kekayaan dan hartanya kembali.
Sabar, itulah satu satunya pilihan kita.
Dalam menjalani masa Sosial Distancing ini, mari kita gunakan waktu luang kita untuk lebih mendekatkan diri pada Allah.
Yang biasanya hanya shalat wajib, tambah dengan sunnah.
Yang biasa membaca alquran satu lembar tambah jadi 3 lembar.
Yang biasa sedekah, tambah lagi sedekahnya lagi pada ortu, kerabat dan org2 miskin
Yang biasa tak pernah tahajud, mari tahajud
Bukankah Allah sdh berjanji dalam surat Athalaq 2-3
Barang sianpa meningkatkan taqwa pada Allah, Allah akan memberi jalan keluar dan meberi Rizki dari arah yg tak disangka
Sabar
Itulah pilihan kita saat ini
Ketika Pemerintah, Pimpinan organisasi menyerukan untuk stay home, dan bersabar tidak berkerumun baik di masjid, sekolah, dan mengurangi interaksi dengan orang lain, kita harus bersabar menjalani ini.
Ini adalah salah satu bukti kita bersabar dalam menjalani perintah Allah yg lain, yaitu tidak menulari wabah ke orang lain. Tidak.memberi mudharat atau tidak.membahayakan orang lain.
Allah sudah memberi keringanan ibadah ketika terjadi bencana
Mari kita sama sama bersabar
Meski tidak mudah, Allah akan memberi.ganjaran.karena kesabaran.kita
Sabar..itulah pilihan kita saat ini
Jika kita mampu melewati ini semua degan sabar, seperti Nabi Yusuf ketika di dalam penjara, Allah tidak.akan menyia nyiakan pahala orang yg taqwa dan sabar..
Dan ada pahala.surga.bagi orang orang yg sabar
Salamualaikum bima sobartum...
Kata Malaikat menyambut org 2 yg sabar di dalam surga
Itulah pilihan kita sabagai seorang muslim dan mukmin.
Disaat ada wabah corona melanda seluruh dunia, termasuk indonesia, hanya satu yg bisa kita lakukan. Sabar!!
Sungguh menakjubkan perkara orang yg beriman, ketika diuji dia bersabar, dan ketika mendapat kebahagiaan dia bersyukur.
Sekarang kita semua sedang diuji Allah dengan wabah dari makhluq kecil yg tak terlihat mata bernama corona.
Untuk mengehntikan penyebarannya maka semua aktifitas dimanapun diminimalisir.
Akibatnya, ekonomi akan sedikit melambat, yang menjadikan efek domino, dimana, masyarakat pun banyak yg mengangur, dan tak mendapat pemasukan.
Sabar
Sekali lagi itulah pilihan bagi kita.
Namun , sabar bukan berarti tanpa usaha.
Sambil menunggu wabah mereda, kita tetap menjalankan ibadah kepada Allah.
Justru semakin kita mendekat pada Allah , kita akan bisa melewati ini semua dengan sukses.
Sabar, itulah pilihan kita saat ini sebagai orang yg beriman.
Kita ingat Nabi Ayub ketika diuji dengan sakit parah selama 18 tahun, keluarga dan harta dicabut, Nabi Ayub bersabar, dan karena kesabarannya Allah mengembalikan kesehatan, kekayaan dan hartanya kembali.
Sabar, itulah satu satunya pilihan kita.
Dalam menjalani masa Sosial Distancing ini, mari kita gunakan waktu luang kita untuk lebih mendekatkan diri pada Allah.
Yang biasanya hanya shalat wajib, tambah dengan sunnah.
Yang biasa membaca alquran satu lembar tambah jadi 3 lembar.
Yang biasa sedekah, tambah lagi sedekahnya lagi pada ortu, kerabat dan org2 miskin
Yang biasa tak pernah tahajud, mari tahajud
Bukankah Allah sdh berjanji dalam surat Athalaq 2-3
Barang sianpa meningkatkan taqwa pada Allah, Allah akan memberi jalan keluar dan meberi Rizki dari arah yg tak disangka
Sabar
Itulah pilihan kita saat ini
Ketika Pemerintah, Pimpinan organisasi menyerukan untuk stay home, dan bersabar tidak berkerumun baik di masjid, sekolah, dan mengurangi interaksi dengan orang lain, kita harus bersabar menjalani ini.
Ini adalah salah satu bukti kita bersabar dalam menjalani perintah Allah yg lain, yaitu tidak menulari wabah ke orang lain. Tidak.memberi mudharat atau tidak.membahayakan orang lain.
Allah sudah memberi keringanan ibadah ketika terjadi bencana
Mari kita sama sama bersabar
Meski tidak mudah, Allah akan memberi.ganjaran.karena kesabaran.kita
Sabar..itulah pilihan kita saat ini
Jika kita mampu melewati ini semua degan sabar, seperti Nabi Yusuf ketika di dalam penjara, Allah tidak.akan menyia nyiakan pahala orang yg taqwa dan sabar..
Dan ada pahala.surga.bagi orang orang yg sabar
Salamualaikum bima sobartum...
Kata Malaikat menyambut org 2 yg sabar di dalam surga
15 April, 2020
Revolusi Ilmu- Kesan pada Buku Artificial Intelligence
REVOLUSI ILMU
Oleh Abduh Hisyam
Artificial Intelligence. Sebuah buku serius. Seorang guru ngaji dari kampung seperti saya tentu tidak faham saat membaca buku itu. Namun ah, saya coba baca buku itu. Baru beberapa halaman saya baca, saya tergelitik saat tidak menemukan nama-nama Anglo Saxon atau Jerman di deretan ilmuwan yang menjadir eferensi buku tersebut. Nama-nama para ilmuwan yang ditulis di buku tersebut adalah LA Zadeh, HA Abbas (Iran), de Castro (Amerika Latin), Xinyu Du, Qillian Chen dan Hao Ying (Cina), Tereshko Loengarov (Rusia), Subramani dan Debojyoti (India). Tidak ada nama-nama Robert atau George yang khas Anglo Saxon, atau Ludwig dan Jurgen yang khas Jerman. Padahal selama ini, rasanya tidak sah bicara tentang iptek tanpa menyebut ilmuwan Jerman atau Anglo Saxon.
Saya telpon Prof Imam dan saya tanyakan mengapa ia hanya mencantumkan karya para intelektual dunia ketiga dalam daftar referensi. Dengan tegas ia mengatakan bahwa ia memang sengaja tidak mencantumkan ilmuwan Anglo Saxon atau Jerman. Ia beberkan bahwa ia sedang menggiring para pembacanya ke arah paradigma tertentu. Ia dengan penuh keyakinan mengatakan, itulah yang dilakukan oleh Imam Alghazali ketika menulis Ihya Ulumiddin(?). Jika saya menyebut ilmuwan Jerman dalam karya saya, maka saya hanya sebuah sekrup dalam mesin raksasa. Dan selamanya kita akan menjadi sekrup.
Di telinga saya Imam Robandi bicara tentang sebuah ideologi. Ideologi kaum tertindas. Ideologi perlawanan atas hegemoni Eropa dan Anglo Saxon di bidang ilmu dan teknologi. Inilah perawanan periferi atas center. Sebuah wacana yang mengingatkan saya kepada Samir Amin dan Andre Gunder Frank dengan teori dependensianya. Teori pembangunan yang sudah tidak lagi dibicarakan orang, namun cukup pas untuk mengupas upaya negara-negara industri menjadikan negara dunia ketiga tergantung kepada mereka.
Saat mahasiswa saya pernah memabca sepintas buku The Structure of Scientific Revolution karya Thomas Kuhn. Di dalam buku itu Kuhn menjelaskan bahwa Suatu pengetahuan disebut ilmiah bukan karena pengetahuan itu mampu memecahkan sebuah masalah. Tidak! Yang menjadikan sebuah statemen, penemuan, atau informasi ilmiah adalah paradigm. Dan paradigm dibangun dengan kekuasaaan. Maka perkembangan ilmu pengetahuan bukan karena ilmu itu memang sahih, melainkan karena adanya dana yang besar, komunitas yang selalu membicarakannya, seminar-seminar, penerbitan buku-buku, jurnal, dan sebagainya.
Selama ini penemuan dan prestasi serta karya para ilmuwan di dunia ketiga –termasuk Indonesia— lenyap dan tidak pernah terdengar di dunia sains, sementara karya-karya para ilmuwan Amerika dan Eropa selalu menghiasi jurnal internasional bergengsi dan buku-bukunya laku keras di pasaran dunia. Apakah ilmu yang dihasilkan para ilmuwan dari dunia ketiga termasuk Indonesai tidak ilmiah? Semua karena tidak adanya daya dukung berupa pendanaan, komunitas serta dukungan politik.
Mempromosikan karya para ilmuwan dunia ketiga adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap hegemoni Eropa dan Amerika. Ini adalah perang ideologi. Para ilmuwan Iran, India, Indonesia, Malaysia, Nigeria adalah ilmuwan cerdas dan menghasilkan penemuan yang orisinil. Tetapi mereka tidak punya komunitas yang mempromosikan penemuan mereka. Tidak ada biaya untuk menerbitkan karya mereka dan tidak ada komunitas yang memperkuat penemuan itu. Alhasil penemuan mereka tidak dibaca orang, dan diabaikan oleh dunia akademik.
Sebuah komunitas yang saling mereview, mengeritik, dan mengutip mutlak perlu demi eksistensi ilmu yang mandiri. Di dunia modern dikenal kelompok-kelompok ilmuwan dengan nama “The Vienna Circle,” “Club of Rome,” “The Frankfurt School,” “The American Creed,” sebagaimana di dunia Islam dahulu pernah dikenal “Ikhwan al-Shafa.” Semua adalah kelompok episteme.
IRO-group ini adalah sebuah komunitas episteme. Dari sinilah kita merancang revolusi! ***
Oleh Abduh Hisyam
Artificial Intelligence. Sebuah buku serius. Seorang guru ngaji dari kampung seperti saya tentu tidak faham saat membaca buku itu. Namun ah, saya coba baca buku itu. Baru beberapa halaman saya baca, saya tergelitik saat tidak menemukan nama-nama Anglo Saxon atau Jerman di deretan ilmuwan yang menjadir eferensi buku tersebut. Nama-nama para ilmuwan yang ditulis di buku tersebut adalah LA Zadeh, HA Abbas (Iran), de Castro (Amerika Latin), Xinyu Du, Qillian Chen dan Hao Ying (Cina), Tereshko Loengarov (Rusia), Subramani dan Debojyoti (India). Tidak ada nama-nama Robert atau George yang khas Anglo Saxon, atau Ludwig dan Jurgen yang khas Jerman. Padahal selama ini, rasanya tidak sah bicara tentang iptek tanpa menyebut ilmuwan Jerman atau Anglo Saxon.
Saya telpon Prof Imam dan saya tanyakan mengapa ia hanya mencantumkan karya para intelektual dunia ketiga dalam daftar referensi. Dengan tegas ia mengatakan bahwa ia memang sengaja tidak mencantumkan ilmuwan Anglo Saxon atau Jerman. Ia beberkan bahwa ia sedang menggiring para pembacanya ke arah paradigma tertentu. Ia dengan penuh keyakinan mengatakan, itulah yang dilakukan oleh Imam Alghazali ketika menulis Ihya Ulumiddin(?). Jika saya menyebut ilmuwan Jerman dalam karya saya, maka saya hanya sebuah sekrup dalam mesin raksasa. Dan selamanya kita akan menjadi sekrup.
Di telinga saya Imam Robandi bicara tentang sebuah ideologi. Ideologi kaum tertindas. Ideologi perlawanan atas hegemoni Eropa dan Anglo Saxon di bidang ilmu dan teknologi. Inilah perawanan periferi atas center. Sebuah wacana yang mengingatkan saya kepada Samir Amin dan Andre Gunder Frank dengan teori dependensianya. Teori pembangunan yang sudah tidak lagi dibicarakan orang, namun cukup pas untuk mengupas upaya negara-negara industri menjadikan negara dunia ketiga tergantung kepada mereka.
Saat mahasiswa saya pernah memabca sepintas buku The Structure of Scientific Revolution karya Thomas Kuhn. Di dalam buku itu Kuhn menjelaskan bahwa Suatu pengetahuan disebut ilmiah bukan karena pengetahuan itu mampu memecahkan sebuah masalah. Tidak! Yang menjadikan sebuah statemen, penemuan, atau informasi ilmiah adalah paradigm. Dan paradigm dibangun dengan kekuasaaan. Maka perkembangan ilmu pengetahuan bukan karena ilmu itu memang sahih, melainkan karena adanya dana yang besar, komunitas yang selalu membicarakannya, seminar-seminar, penerbitan buku-buku, jurnal, dan sebagainya.
Selama ini penemuan dan prestasi serta karya para ilmuwan di dunia ketiga –termasuk Indonesia— lenyap dan tidak pernah terdengar di dunia sains, sementara karya-karya para ilmuwan Amerika dan Eropa selalu menghiasi jurnal internasional bergengsi dan buku-bukunya laku keras di pasaran dunia. Apakah ilmu yang dihasilkan para ilmuwan dari dunia ketiga termasuk Indonesai tidak ilmiah? Semua karena tidak adanya daya dukung berupa pendanaan, komunitas serta dukungan politik.
Mempromosikan karya para ilmuwan dunia ketiga adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap hegemoni Eropa dan Amerika. Ini adalah perang ideologi. Para ilmuwan Iran, India, Indonesia, Malaysia, Nigeria adalah ilmuwan cerdas dan menghasilkan penemuan yang orisinil. Tetapi mereka tidak punya komunitas yang mempromosikan penemuan mereka. Tidak ada biaya untuk menerbitkan karya mereka dan tidak ada komunitas yang memperkuat penemuan itu. Alhasil penemuan mereka tidak dibaca orang, dan diabaikan oleh dunia akademik.
Sebuah komunitas yang saling mereview, mengeritik, dan mengutip mutlak perlu demi eksistensi ilmu yang mandiri. Di dunia modern dikenal kelompok-kelompok ilmuwan dengan nama “The Vienna Circle,” “Club of Rome,” “The Frankfurt School,” “The American Creed,” sebagaimana di dunia Islam dahulu pernah dikenal “Ikhwan al-Shafa.” Semua adalah kelompok episteme.
IRO-group ini adalah sebuah komunitas episteme. Dari sinilah kita merancang revolusi! ***
29 Maret, 2020
I Have no President
Bismillah
Beberapa tahun lalu saya pernah menulis dengan judul yg sama, dimana ketika itu Indonesia dipimpin oleh Pak SBY.
Sekarang masa kepemimpinan Joko Widodo.
Ternyata, setelah aku perhatikan kepemimpinan SBY masih lebih baik dibanding Jokowi.
Dulu pas jaman SBY emang buzzer 2 sdh banyaj, dan aku terpengaruh mereka, twrmasuk mereka juga yg benci sekali dg FPI. Akupun jadi benci FPI.
Astaghfirullah.
Carut marut dan gagapnya Pemerintah Indonesia Bersatu ini semakin jelas.
Hal ini terlihat dari Penanganan kasus Wabah Corona yg melanda Dunia, dan menjalar ke Indonesia.
Kepemimpinan SBY yang dua periode meski tak melesat , paling tidak cukup tenang.
SBY tidak begitu banyak menyewa buzzer buzzer untuk menutup kekurangannya nya.
Tek seheboh Jokowi.
Abu Janda, Denny Siregar, Eko Kuntadi dll mau bilang apapun aman.
Sementara jika dari oposisi langsung ditangkap.
Di jaman SBY tidak begitu.
Berhasilnya Jokowi naik ke tempul kekuasaan di Indonesia tak lepas dari bantuan buzzer dan media.
Bahkan semua lembaga survey membelanya..
Sekarang baru ketahuan, wajah ndeso, seolah sederhana tidak cukup jadi pemimpin.
Pemimpin haruslah orang yang memiliki
Kecerdasan, Kejujuran, Kemampuan menyampaikan gagasan dan Dapat dipercaya.
Apakah itu ada di Presiden sekarang?
Semua bisa mengoreksi dengan jujur.
Bahkan sering Bapak Presiden berbohong berkali kali.
Dan sudah menjadi kebiasaan.
Gak akan impor, gak akan naikin BBM, gak bagi bagi kursi, kartu prakerja, dll.
Ya Allah ampuni kami.
Wabah Corona
Wabah Corona melanda pertama kalindi Wuhan tahun 2019, di Indonesia mulai Februari, dan sepertinya Pemerintah menganggap remeh.
Akhirnya yg meninggal per 29 Maret ini sudah tembus 100.
Itu yg diumumkan, gak tau aslinya.
Ya Allah Ampuni kami...
Allahumma inni audzubika minal Barasi wal junuuni, wal judzami, wa min kulli syaiin al aqsam.
Ampuni kami atas kekhilafan kami Ya Allah...
30.Maret 2020
Dirumah aja
Beberapa tahun lalu saya pernah menulis dengan judul yg sama, dimana ketika itu Indonesia dipimpin oleh Pak SBY.
Sekarang masa kepemimpinan Joko Widodo.
Ternyata, setelah aku perhatikan kepemimpinan SBY masih lebih baik dibanding Jokowi.
Dulu pas jaman SBY emang buzzer 2 sdh banyaj, dan aku terpengaruh mereka, twrmasuk mereka juga yg benci sekali dg FPI. Akupun jadi benci FPI.
Astaghfirullah.
Carut marut dan gagapnya Pemerintah Indonesia Bersatu ini semakin jelas.
Hal ini terlihat dari Penanganan kasus Wabah Corona yg melanda Dunia, dan menjalar ke Indonesia.
Kepemimpinan SBY yang dua periode meski tak melesat , paling tidak cukup tenang.
SBY tidak begitu banyak menyewa buzzer buzzer untuk menutup kekurangannya nya.
Tek seheboh Jokowi.
Abu Janda, Denny Siregar, Eko Kuntadi dll mau bilang apapun aman.
Sementara jika dari oposisi langsung ditangkap.
Di jaman SBY tidak begitu.
Berhasilnya Jokowi naik ke tempul kekuasaan di Indonesia tak lepas dari bantuan buzzer dan media.
Bahkan semua lembaga survey membelanya..
Sekarang baru ketahuan, wajah ndeso, seolah sederhana tidak cukup jadi pemimpin.
Pemimpin haruslah orang yang memiliki
Kecerdasan, Kejujuran, Kemampuan menyampaikan gagasan dan Dapat dipercaya.
Apakah itu ada di Presiden sekarang?
Semua bisa mengoreksi dengan jujur.
Bahkan sering Bapak Presiden berbohong berkali kali.
Dan sudah menjadi kebiasaan.
Gak akan impor, gak akan naikin BBM, gak bagi bagi kursi, kartu prakerja, dll.
Ya Allah ampuni kami.
Wabah Corona
Wabah Corona melanda pertama kalindi Wuhan tahun 2019, di Indonesia mulai Februari, dan sepertinya Pemerintah menganggap remeh.
Akhirnya yg meninggal per 29 Maret ini sudah tembus 100.
Itu yg diumumkan, gak tau aslinya.
Ya Allah Ampuni kami...
Allahumma inni audzubika minal Barasi wal junuuni, wal judzami, wa min kulli syaiin al aqsam.
Ampuni kami atas kekhilafan kami Ya Allah...
30.Maret 2020
Dirumah aja
04 Februari, 2020
Waktu bagikan Pedang
الوقت كالسيف ان لم تقطعه قطعك
“Al-waqtu ka as-saifi in lam taqtha’hu qatha’aka " (Al-Mahfudzat)
Waktu itu seperti pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia akan memotongmu #PepatahArab
Pagi ini sebenarnya aku bangun lebih awal dari biasanya.Biasanya aku bangun jam 03.30. Kebetulan suami akan ke semarang, menengok kawannya yang sakit, sehingga suami bangun lebih pagi. Aku lihat jam 02.30 suami sudah bangun, dan akan segera ke Semarang pukul 03.00.
Otomatis aku ikut terbangun.
Aku langsung shalat tahajud seperti biasa, kebetulan tadi malam sudah shalat witir, sehingga aku shalat cukup 10 rakaat saja.
2 rakaat shalat iftitah, dan 8 rakaat shalat tahajud.
Pukul 04.00 Alhamdulillah shalat sudah selesai.
Entah kenapa, mestinya aku bisa mengisi waktu dengan membaca Al quran, tapi rasa malas tiba tiba datang. Mungkin karena sendirian, jadi kurang semangat. Apalagi di dekat kasur, langsung deh tidur tiduran, dan akhirnya tidur sungguhan.
Aku terbangun pukul 05.10 hampir saja ketinggalan shalat shubuh.
Aku pun bergegas shalat subuh, dan setelah selesai, ternyata baru kusadari begitu banyak agenda yang terlewat hanya karena malas.
Aku harus mencuci baju, mengerjakan laporan, membaca Al quran dan shalat dhuha, dan pukul 07.30 aku harus menuju PKU untuk test Thaharah para Karyawan.
Alhamdulillah semua bisa di atasi, kecuali satu.Aku tak sempat mencuci baju.
Aku pikir, aku harus mendahulukan Allah dibanding urusan dunia, Sempatkan baca Quran, shalat dhuha, urusan baju belakangan.
Begitulah...betapa waktu bagaikan pedang, kalo kita tidak hati hati, kita bisa terlibas.
Kata Hasan Al Basri waktu itu ada 3, Kemarin sdh selesai, besok belum kita masih ada, dan hari ini. Gunakan hari ini untuk banyak beramal.
Demi waktu
Sesungguhnya manusia itu rugi
Keculai org yg beriman, beramal sholeh dan saling mensehati dalam kebenaran dan menasehati dalam kesabaran.
08 Januari, 2020
Teladan Nabi menghadapi Para Tawanan
*Sikap Nabi terhadap tawanan perang*
Ketika Rasulullah SAW mendapati 70 orang tawanan, beliau tak langsung memutuskan apa yang akan dilakukan kepada para tawanan itu. Beliau berinisiatif bermusyawarah dengan sahabat guna membicarakan kebijakan terhadap tawanan.
Sahabat Umar bin Khattab mengajukan usulnya. Seperti kita tahu, sahabat Umar dikenal berani dan tegas, ia pun mengusulkan agar seluruh tawanan dibunuh saja, biar musuh jera.
Nabi memuji pendapat Umar. Kepada Umar, Rasulullah mengatakan bahwa ide itu sangat bagus, mirip dengan karakter Nabi Nuh dan Musa yang tegas.
Ketika menghadapi Firaun Nabi Musa berdoa
وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آَتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ (88) قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (89)
Artinya:
Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami -- akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih". (10: 88)
Nabi Nuh ketika menghadapi Kaumnya berdoa :
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.
Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.
Surat Nuh 26-27
Sahabat Abu Bakar juga memberanikan diri bersuara. Dalam usulnya, sahabat Abu Bakar menyarankan untuk membebaskan para tawanan, sebagai strategi agar musuh menduga umat Muslim telah kuat sehingga tidak perlu menahan tawanan.
“Pembebasan tersebut dengan syarat, yang kaya harus membayar denda sejumlah empat dinar. Tapi bagi tawanan yang miskin, ditugaskan mengajari anak-anak membaca.masing masing 10 anak. Kalau sudah pada pintar, maka baru mereka dibebaskan,” kata sahabat Abu Bakar.
Diantara anak.anak yg belajar membaca dengan para tawanan adalah Zaid bin Tsabit yang kelak menjadi pencatat Wahyu.
Sahabat Abdulah bin Rawahah berpendapat" "kita berada di lembah yg banyak kayu bakar, maka lemparkanlah tawanan kedalam api.
Dari pendapat-pendapat tersebut, Rasulullah lebih sepakat dengan usulan Abu Bakar yakni membebaskan seluruh tawanan dengan syarat.
Seperti saat menanggapi sahabat Umar maka ketika menanggapi usulan Abu Bakar pun Rasulullah menisbahkannya dengan karakter Nabi Ibrahim dan Nabi Isa. “Ini juga usul yang bagus. Jadi pendapat Umar mirip dengan karakter Nabi Nuh dan Musa yang tegas, dan pendapat Abu Bakar mewakili Nabi Ibrahim dan Isa, karakter yang lemah lembut.
Nabi Ibrahim ketika menghadapi kaum nya
Berdoa :
Ya Tuhanku, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia, Barang siapa mengikutiku,maka orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa mendurhakaiku, maka Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Surat Ibrahim 36
Nabi Isa ketika menghadapi Kaumnya berdoa :
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Almaidah 118)
Setelah mendengar pendapat para sahabatnya, akhirnya Nabi sepakat dengan pendapat Sahabat Abu Bakar,meski begitu sahabat Umar tetap merasa bangga karena Rasulullah telah memuji pendapatnya, bahkan dicontohkan dengan karakternya Nabi Nuh dan Musa yang tegas.
Rasulullah telah menunjukkan contoh kepada kita, bagaimana menghargai pendapat orang lain. Baik kita menerima atau menolak, mesti dengan cara yang baik. kisah ini juga memberi inspirasi pada kita bahwa musyawarah tetap dibutuhkan agar mencapai kemufakatan untuk mendapat hasil yang terbaik
Para Tawanan mendapat perlakuan istimewa
Para tawanan Perang di Madinah mendapat roti dan gandum, sementara sahabat nabi hanya memakan kurma, para tawanan mengendarai unta sementara sahabat nabi berjalan kaki
Salah satu tawanan berdoa
"Semoga penduduk madinah mendapat limpahan berkah dan karunia"
(Majid Ali Khan 132)
_Kajian sirah Nabawi_ dari Kitab Ibnu Hisyam diampaikan oleh Abduh Hisyam
Di masjid Baiturahman PKU Sruweng
Tgl 8 Januari 2020
Sumber : Beberapa tambahan dari web Nu.or.id
20 Desember, 2019
Pidato Pernikahan
Ini pertama kalinya saya mengisi pidato pernikahan, di rumah Bu Boyo kawan di organisasi Aisyiyah
Setelah merangkum dari sana sini, ini akhirnya yg aku tulis dan aku sampaikan di acara tersebut.
Awalnya deg degan..tapi selanjutnya mengalir saja😀
Prinsip Pernikahan
1.Pernikahan sebagai ibadah
2.Pernikahan sebuah perjanjian yg agung
3.Pernikahan dalam mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akherat
1.Dalam rangka Ibadah
Pernikahan Dalam rangka ibadah
wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liyakbudun, ini terdapat dalam surat Adzariyat 56
Seluruh aktifitas hidup kita adalah jalan bagi kita untuk mengabdi kepada Allah.
Dari akan tidur sampai tidur kembali
Ketika kita bekerja, makan, dalam perjalanan,termasuk dalam berumah tangga.
Dan ibadah terlama adalah berumah tangga.
Dalam hadits disebutkan
Menikah menyempurnakan setengah keimanan, maka bertakwalah dalam menyenpurnakan setengahnya.
Untuk itu, mari kita senantiasa menambah ilmu kita, agar hubungan suami istri senantiasa penuh dengan ketenangan.
Karena bagaimanapun laki laki dan perempuan adalah dua sosok yg berbeda.
Struktur otaknya pun berbeda
Yg satu corpus colosumnya tipis, yg satu tebal.
Maka laki laki karena corpus colossum nya lebih tipis, hanya bisa konsen ke satu hal, dan perempuan karena xorpus colosumnya lebih tebal 30% bisa mengerjakan banyak aktifitifitas dlm satu waktu, meski hasilnya biasa2 saja.
Ketika suami konsentrasi, pendengaran menurun, maka untuk para istri, jangan baper kalo kdg mungkin bapak tidak langsung menengok ketika kita panggil.
2.Pernikahan sebagai perjanjian berat dan agung ini ada dalam surat annisa 21
Dalam melaksanakan perjanjian yg agung ini hendaknya pasangan masing2 berusaha semaksimal mungkin melaksanakan janjinya agung ini yg sdh disaksikan Allah.
Dalam rangka mewujudkan perjanjian agung agar tetap kokoh, ini hal yg bisa dilakukan adalah
Intrnalisasi nilai nilai islam bagi suami istri, suami dan istri melaksanakan hak dan kewajiban nya dengan sebaik baiknya.
Untuk suami, Nabi sendiri mencintohkan aku adalah yg terbaik dalam memperlakukan keluargaku.
Suami sebagi Pelindung seperti disebutkan dlm surat annisa 34.
Arrijalu qowwamuna ala niisa.
Bagi istri, sebagaimana diawbutkan dalam hadits, siapapun wanita yg shalat lima waktu, luasa ramadhan, taat pada suami dan menjaga kemaluan silahkan maauk surga dari pintu manapun.
Annisa 34 :
Permpuan yg saleh, adalah yg taat pada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tdk ada, karena Allah menjaga mereka.
Ini dicontohkan nabi dalam sebuah ahdits agung, Allah merahmati seorang suami yg bangun malam untuk shalam dan memabngunkan istri, jika tidak bangun dia memercikan air ke wajah istrinya begitu juga sebaliknya.
3. Pernikahan dalam mewujudkan kebahagiana dunia akherat
Arrum 21
Dan diantara tanda tanda kekuasaannya Allah ciptakan pasangan dr jenismu sendiri agar kamu sakinah.
Dan dia ciptakan rasa cinta dan kasih sayang
Sesungguhnya itu adalah tanda tanda bagi kaum yg berfikir.
Dalam rangka menjadi khalifah dimuka bumi, Allah sudah menyiapkan semua termasuk memberi pasangan pada kita.
Allah ciptakan mawaddah wa rahmah agar kita merasa tenang.
Mawaddah itu cinta karena fisik
Rahmah cinta karena ineraksi bathin, kepedualian, ada belas kasihan
Maka kita melihat orangtua kita yg sudah sepuh2. Suami sakit atau istri sakit masih mempertahankan rumahtangga, karena disitu ada rahmah.
Dan dalam mewujudkan kebahagiaan dunia akherat perlu ada internnalisasi nilai nilai religius baik antara suami istri, kepada anak dan keluarga diantaranya adalah dengan cara
Shalat berjamaah di masjid, mengajak untuk berdoa dalam setiap aktifitas, mengikuti jakian keagamaan, menfajarkan bersedekah dll
Dan jangan lupa selalu memohon doa untuk kebahagiaan pasangan dan keluarga kita seperti yang sudah difirmankan Allah dlm surat Al Furqan 74.
Walaldzi na yaquuluna : Robbana hablana min azwajina wa dhurriyatina qurrota ayun wa alna lil muttaqina imama.
Ya Allah anugerahkan pada kami pasanngan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami pemimpin orang orang yg bertaqwa.
17 Desember, 2019
Orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah
Yasmin sedang belajar di Malaysia mengikuti pertukaran Mahasiswa, semoga kemampuan bahasa inggrisnya semakin baik, dan semoga bisa juga menguasai bahasa alquran alqur bahasa arab, aamiin
Dibawah, gambar Kak Nadia sedang berada di ruang Dokter PKU Muhammadiyah Sruweng untuk tes kesehatan, sebagai syarat mengikuti beasiswa pendidikan di luar negri, semoga Allah mudahkan jalan Nadia dan Jasmina dalam menuntut ilmu.
Semoga Ilmu nya bermanfaat untuk kemajuan umat. Niatkan mencari ilmu untuk mencari ridha Allah dan memberi manfaat sebesar besarnya untuk umat manusia.Aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)










