SANTRI DAN ABANGAN
Kultum Oleh Abduh Hisyam
Kamis 23/07/2020
Di Jawa dikenal tiga macam varian keberagamaan masyarakat, yaitu: abangan, santri dan priyayi. Ketiga istilah ini sudah ada sejak lama dan bahkan istilah abangan dan santri telah ditulis dalam sebuah risalah oleh seorang peneiti Belanda pada tahun 1800-an. Di dalam risalah kuno itu disebutkan bahwa kaum santri adalah kaum putihan –mungkin karena sering mengenakan busana putih—sedangkan kaum abangan karena sering menggunakan simbol-simbol berwarna merah. Namun yang membuat istilah “abangan dan santri” terkenal dan menjadi pembicaraan dunia keilmuan adalah seorang sarjana antropologi bernama Clifford Geertz (1926-2006) yang meneliti kehidupan sosial keagamaan masyarakat Jawa dengan mengambil Mojokuto sebagai subyek penelitiannya. Hasil penelitiannya dibukukan dengan tajuk “The Religion of Java.” Walau buku itu hasil dari penelitian di tahun 50-an, namun hingga kini kategori santri-abangan tetap valid digunakan untuk membaca fenomena sosial keagamaan masyarakat Jawa.
Abangan adalah orang yang tidak menjalankan peribadatan yang diwajibkan menurut syariat seperti salat, puasa, zakat, haji. Kaum abangan ritual keagamaan berdasarkan tradisi lokal. Mereka menganggap praktek slametan sebagai ritual keagamaan. Mata pencaharian kaum abangan kebanyakan adalah bertani. Di bidang politk aspirasi kaum abangan adalah kepada PKI. Kaum santri adalah orang Islam yang menjalankan ajaran-ajaran Islam, berpegang secara murni kepada kitab suci dan sunnah Nabi. Pelbagai praktek keagamaan yang tidak berdasarkan kitab suci dan sunnah nabi manurut kaum santri adalah keliru. Kebanyakan kaum santri adalah pedagang, dan aspirasi politik mereka adalah kepada Masyumi atau NU. Kaum priyayi adalah kelompok yang dihormati di masyarakat Jawa, kebiasaan mereka adalah menghabiskan waktu dengan nembang atau menyanyikan macapat serta memelihara burung perkutut. Mereka bukan kaum yang ketat menjalankan ritual agama, dan kebanyakan adalah kaum pegawai kantor-kantor pemerintahan. Mereka berafiliasi kepada PNI.
Pada Pemilihan Umum tahun 1955, PKI memperoleh suara lebih banyak dari gabungan NU dan PNI. Ini menunjukkan bahwa kaum abangan adalah mayoritas di Mojokuto. Masyumi yang merupakan representasi santri modernis mendulang suara paling kecil.
Banyak pengeritik memandang Geertz keliru memasukkan Priyayi sebagai varian keagamaan orang Jawa, karena priyayi adalah status sosial yang tak terkait dengan praktek keagamaan. Priyayi adalah kategori duniawi. Seorang priyayi bisa pula adalah seorang santri, seperti KH Ahmad Dahlan, atau bukan santri seperti R. Tirto Adisoerjo atau Ki Hajar Dewantroro. Pula, kaum abangan yang disebut Geertz dalam The Religion of Java sesungguhnya adalah orang-orang Islam, dan praktek ritual yang namanya slametan sebagian memiliki akar dalam tradisi Islam.
Walau banyak kritik, namun kategorisasi abangan-santri banyak membantu siapa pun yang ingin meneliti masyarakat Jawa. Kategorisasi itu, walau banyak kekurangannnya, namun ketika dietapkan untuk menganalisa masyarakat lain pun tetap relevan, bahkan sangat pas. Akibatnya varian abangan-santri semakin menguat. Bahkan masyarakat Jawa sendiri menjadi lebih tahu mengenai dirinya setelah membaca karya Geertz tesebut.
Kritik yang paling mengena ditujukan kepada Geertz adalah pada saat mengatakan bahwa model kehdupan priyayi akan menjadi impian banyak generasi muda Jawa, sehingga kelak dari tiga varian masyarakat Jawa, priyayi akan mengalami pembengkakan. Geertz melupakan aspek pendidikan. Dengan pendidikan masyarakat Jawa banyak yang kemudian menjadi santri. Kaum abangan dan priyayi tidak sedikit berubah menjadi santri, dan ini adalah dampak dari pendidikan, terutama akibat kebijakan menteri pendidikan Bahder DJohan dari kabinet M. Natsir, seorang tokoh Masyumi. Kebijakannya adalah memasukkan mata pelajaran agama Islam dalam kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah yang dikelola negara.
Upacara slametan yang dulu dipandang sakral oleh kaum abangan, kini telah banyak mengalami islamisasi. Wayangan dan pertunjukan gamelan pada saat slametan kini banyak diganti dengan pembacaan Yasin dan tahlil serta ceramah keagamaan dari ustaz atau kyai, walau tidak sedikit yang diganti dengan hiburan dangdut koplo. Slametan yang tadinya adalah sarana mengikat kohesifitas sosial di mana masing-masing anggota masyarakat dapat berinteraksi satu sama lain dalam laku rewang atau sinoman, kini sudah hampir lenyap, diganti dengan Event Organiser yang mengatur segalanya dari tempat, hiasan, hidangan, hiburan, hingga buah tangan. Keterlibatan seluruh anggota masyarakat dalam sebuah perhelatan yang diadakan seorang warga telah sirna. Padahal keterlibatan semua orang dalam sebuah perhelatan mencairkan sekat-sekat yang ada di antara warga desa dan menghangatkan hubungan antar mereka.
Kini Mojokuto berubah menjadi sebuah kota modern. Banyaknya kursus bahasa Inggris yang tumbuh di sana membuat banyak pendatang yang berinvestasi, dan membuat banyaknya usaha penginapan, rumah makan, café, mini market, rental komputer untuk para pelajar yang belajar bahasa Inggris. Masyarakat Jawa yang hendak mempertahankan tadisinya semisal wayangan dan slametan kini tersisih. Himpitan ekonomi menjadi alasan utama yang membuat warga Mojokuto banyak yang menjual tanahnya dan pindah ke tempat lain.
Sejak terbitnya Keputusan Mahkamah Konstitusi no.7/PUU-XIV/2016 tentang kepercayaan lokal, masyarakat Mojokuto kini punya keberanian untuk melaksanakan praktek-praktek kejawen atau memeluk agama lokal yang dulu mereka yakini seperti Sapto Darmo, Pangestu, Subud, dan lain-lain. Tentu saja mereka adalah kaum abangan yang selama ini berusaha kuat untuk tidak terpengaruh oleh arus besar Islamisasi. Di tengah kuatnya arus modernisasi, seberapa kuat kaum abangan ini memegang teguh ajaran lama?
Setelah setengah abad lebih Clifford Geertz melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa di Mojokuto, seorang peneliti muda Universitas Indonesia Amanah Nurish menapak-tilasi Geertz, dan melihat bahwa perubahan besar telah terjadi. Modernisasi, konstelasi politik, urbanisasi, dan banyaknya kaum pendatang merupakan gelombang perubahan yang mengubah warna dan corak masyarakat Mojokuto. Kelak akankah tidak ada lagi varian santri dan abangan? Akan sangat bijak jika para pembaca menengok buku karya Amanah Nurish, “Agama Jawa: Setengah Abad Pasca Clifford Geertz,” Yogyakarta: LKiS, 2019. Wasalam.
28 Juli, 2020
18 Juli, 2020
Self love
Kultum oleh Jasmina Zahra Hisyam
14/7/2020
Cinta yang jarang dibahas orang.
Lihatlah ke cermin. Lihat kita sendiri di cermin itu, apa yang kita lihat dari luar? Apakah bahagia? Apakah mencerminkan aura positif? Atau sedih? Depresi? Atau acakan2 rambutnya, tidak rapih, karena nyentuh rambut pun tidak pernah selama beberapa bulan?
Sekarang liat langsung ke mata, apakah matanya bercahaya semangat akan harapan atau sendu? Atau ngantuk? Diobservasi sendiri dan silahkan dijawab sendiri.
Terdengar aneh ya kultum kok kayak gini, tapi kita cenderung tidak peduli dg pembahasan ini. Bukan karena egois, selfish, tapi self—diri kita itu hal yang sangat krusial, sangat penting dlm hidup kita. Yang harus diubah ketika mau mengubah masyarakat atau pun dunia ya dimulai dari self, diri kita sendiri.
Berawal dari self-concept bagaimana kita berpikir tentang diri kita sendiri. Apakah diri kita itu positif atau negative? Ya hanya kita yang bisa merubahnya.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Ar-Ra’d [13]: 11
Kemudian self esteem menghargai diri sendiri. Org yg menghargai diri sendiri cenderung optimistik.
Akhirnya adalah self-love. Self love adalah seberapa besar kita cinta diri kita sendiri.
Self love tidak sesederhana merasa baik terhadap diri sendiri tetapi lebih dari itu, mencintai diri berarti mengapreasiasi diri yang tumbuh dari aksi kecil yang akan mendukung kita tumbuh secara fisik, psikologis, hingga spiritual.
Bagaimana cara kita love ourself?
Tingkatkan Keimanan
Iman adalah fondasi yang kuat dalam self-love. Percaya pada sesuatu membuka jiwa Anda pada keindahan keyakinan dan kepercayaan. Saat kita meningkatkan spiritualitas itu juga akan membawa kita dalam perjalanan mempelajari hal-hal tentang diri kita. Karena selain kita sendiri, Allah lah yang mengetahui apa apa dalam diri kita ini, karena Dia lah yang menciptakan kita.
Jauhi kesempurnaan.
Kita tahu manusia sering salah dan banyak kekurangan. Jadi kita tidak perlu merasa depresi dsb jika kita melakukan sesuatu yg salah atau sedang ada masalah. Jamgan menyerah. Kita belajar dari kesalahan, dan seperti kata pepatah kegagalan membawa pada keberhasilan.
Jauhi pertemanan yang negative. Sekarang sedang ramai kata toxic. Nah jauhi orang-orang toxic. Pilih teman yang baik, lingkungan yang baik. InsyaAllah jika lingkungan kita adalah orang2 yang soleh dan shalihah mereka sangat memberi aura positif.
Bersyukur pada Allah
Mengapresiasi semua karunia yang Allah telah berikan kepada kita. Jika kita jatuh dan merasa tidak punya apa apa lagi, coba hitunglah seluruh karunia Allah pada kita, semua hal yang sudah Allah berikan pada kita. Itu akan membuat kita merasa beruntung dan berusaha bangkit lagi.
Menyemangati diri sendiri.
Manusia suka dengan pujian, dan kita tidak bisa mengharap orang memuji kita, jadi pujilah diri kita sendiri semangati diri kita sendiri. Karena jika berharap orang lain, orang lain mungkin malah akan mencemooh kita.
Ketika kita memiliki self love, kita akan mulai menerima kekurangan yang ada di dalam diri kita sebaik kita menerima kekuatan yang ada di dalam diri kita.
Self love, juga membuat kita lebih fokus terhadap tujuan dan nilai hidup yang kita jalani serta tidak terpengaruh berlebihan terhadap pendapat orang lain terhadap kita.
Memiliki self love tidak serta merta datang begitu saja, rasa cinta dalam diri juga perlu dibangun dan dipupuk. Maka dalam islam seiring dengan kita mendekatkan diri kepada Allah, sang Pencipta kita, maka dengan sendirinya kita juga mendekat, menghargai, dan mencintai diri kita sendiri.
Kultum oleh Jasmina Zahra Hisyam
14/7/2020
Cinta yang jarang dibahas orang.
Lihatlah ke cermin. Lihat kita sendiri di cermin itu, apa yang kita lihat dari luar? Apakah bahagia? Apakah mencerminkan aura positif? Atau sedih? Depresi? Atau acakan2 rambutnya, tidak rapih, karena nyentuh rambut pun tidak pernah selama beberapa bulan?
Sekarang liat langsung ke mata, apakah matanya bercahaya semangat akan harapan atau sendu? Atau ngantuk? Diobservasi sendiri dan silahkan dijawab sendiri.
Terdengar aneh ya kultum kok kayak gini, tapi kita cenderung tidak peduli dg pembahasan ini. Bukan karena egois, selfish, tapi self—diri kita itu hal yang sangat krusial, sangat penting dlm hidup kita. Yang harus diubah ketika mau mengubah masyarakat atau pun dunia ya dimulai dari self, diri kita sendiri.
Berawal dari self-concept bagaimana kita berpikir tentang diri kita sendiri. Apakah diri kita itu positif atau negative? Ya hanya kita yang bisa merubahnya.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Ar-Ra’d [13]: 11
Kemudian self esteem menghargai diri sendiri. Org yg menghargai diri sendiri cenderung optimistik.
Akhirnya adalah self-love. Self love adalah seberapa besar kita cinta diri kita sendiri.
Self love tidak sesederhana merasa baik terhadap diri sendiri tetapi lebih dari itu, mencintai diri berarti mengapreasiasi diri yang tumbuh dari aksi kecil yang akan mendukung kita tumbuh secara fisik, psikologis, hingga spiritual.
Bagaimana cara kita love ourself?
Tingkatkan Keimanan
Iman adalah fondasi yang kuat dalam self-love. Percaya pada sesuatu membuka jiwa Anda pada keindahan keyakinan dan kepercayaan. Saat kita meningkatkan spiritualitas itu juga akan membawa kita dalam perjalanan mempelajari hal-hal tentang diri kita. Karena selain kita sendiri, Allah lah yang mengetahui apa apa dalam diri kita ini, karena Dia lah yang menciptakan kita.
Jauhi kesempurnaan.
Kita tahu manusia sering salah dan banyak kekurangan. Jadi kita tidak perlu merasa depresi dsb jika kita melakukan sesuatu yg salah atau sedang ada masalah. Jamgan menyerah. Kita belajar dari kesalahan, dan seperti kata pepatah kegagalan membawa pada keberhasilan.
Jauhi pertemanan yang negative. Sekarang sedang ramai kata toxic. Nah jauhi orang-orang toxic. Pilih teman yang baik, lingkungan yang baik. InsyaAllah jika lingkungan kita adalah orang2 yang soleh dan shalihah mereka sangat memberi aura positif.
Bersyukur pada Allah
Mengapresiasi semua karunia yang Allah telah berikan kepada kita. Jika kita jatuh dan merasa tidak punya apa apa lagi, coba hitunglah seluruh karunia Allah pada kita, semua hal yang sudah Allah berikan pada kita. Itu akan membuat kita merasa beruntung dan berusaha bangkit lagi.
Menyemangati diri sendiri.
Manusia suka dengan pujian, dan kita tidak bisa mengharap orang memuji kita, jadi pujilah diri kita sendiri semangati diri kita sendiri. Karena jika berharap orang lain, orang lain mungkin malah akan mencemooh kita.
Ketika kita memiliki self love, kita akan mulai menerima kekurangan yang ada di dalam diri kita sebaik kita menerima kekuatan yang ada di dalam diri kita.
Self love, juga membuat kita lebih fokus terhadap tujuan dan nilai hidup yang kita jalani serta tidak terpengaruh berlebihan terhadap pendapat orang lain terhadap kita.
Memiliki self love tidak serta merta datang begitu saja, rasa cinta dalam diri juga perlu dibangun dan dipupuk. Maka dalam islam seiring dengan kita mendekatkan diri kepada Allah, sang Pencipta kita, maka dengan sendirinya kita juga mendekat, menghargai, dan mencintai diri kita sendiri.
KISAH TENTANG CERPEN “SUNAT”
Kultum Subuh Oleh Abduh Hisyam
17/07/2020
Di lemari buku tua peninggalan Bapak berjejer novel karya Pramoedya Ananta Toer (PAT), Maxim Gorky, dan kumpulan puisi Sitor Situmorang. Walau bapak tokoh Muhammadiyah dan bangga sebagai seorang Masyumi, beliau senang membaca karya-karya PAT dan puisi-puisi Sitor Situmorang yang notabene berafiliasi kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Saya ingat beliau pernah mengutip sajak Sitor Situmorang” “Malam Lebaran. Bulan Di Atas Kuburan” di dalam khutbah Jumat.
Di antara kumpulan buku karya PAT terdapat “Cerita Dari Blora” sebuah buku kumpulan cerpen yang ditulis saat PAT masih berusia duapuluh tahunan, sebuah usia yang masih sangat belia. Dalam kumpulan cerpen itu ada sebuah kisah bertajuk “Sunat”. PAT sungguh pandai melukiskan tragedi kehidupan manusia secara ringkas dalam sebuah cerita pendek. Ia memotret perasaan takut dan gembira seorang anak kecil usia 9 tahun yang akan disunat. Suasana pedesaan di Blora di perempat pertama abad 20 saat perayaan sunatan digambarkan secara fotografis, sehingga pembaca seolah masuk dan ikut tergabung di dalam pesta. Ia seorang penutur kisah yang sangat realis.
Cerpen bertajuk Sunat dalam kumpulan Certia dari Blora mengisahkan seorang anak yang sangat gembira namun juga takut saat hendak disunat. Ia takut karena disunat berarti dipotong sebagian daging kemaluannya yang tentu meninggalkan rasa sakit. Walau banyak anak yang lebih dulu disunat mengatakan bahwa disunat itu tidak sakit, namun tetap saja kengerian membayang di benak. Akan tetapi sunat mendatangkan kegembiraan karena seorang ia menjadi pembeda antara yang telah dewasa dan yang belum dan antara yang saleh dan tidak saleh. Anak yang usianya lebih tua akan merasa minder dengan anak kecil yang telah disunat. Seorang yang telah disunat dianggap telah menjadi seorang yang telah beragama Islam yang sebenar-benarnya. Islam sejati. Dan yang lebih membuat seorang anak gembira saat akan disunat adalah banyaknya hadiah yang akan diterima pada saat ia duduk di atas kursi bak raja dan para tetamu mengucapkan selamat sambil memberikan tepukan di pundak.
Dalam cerpen itu juga diceritakan bagaimana kenduri upacara sunatan bak hiburan pasar malam di kota kecil Blora. Dikisahkan bahwa sang bunda tampak cantik dan kenes karena mengenakan kebaya baru hadiah dari adiknya yang menjadi guru di kota R. Acara dilangusngkan di gedung sekolah yang didirikan Ayah yang sekat-sekat kelasnya dibuka sehinga menyerupai aula besar memanjang. Ayah tampak gagah berjas tutup berkain batik walau tanpa alas kaki.
Di akhir cerita Ibu bertanya kepada sang tokoh, apakah dirinya merasa telah menjadi Islam sejati. Tersentak oleh pertanyaan itu, tokoh kita menjawab dengan polos bahwa ia tidak merasa telah menjadi seorang Islam yang sejati. Ia tidak merasakan perubahan apa pun sebagai seorang Islam. Ibunya kemudian menasehati bahwa jika belum merasa menjadi Islam sejati maka kamu harus naik haji seperti sang kakek. Naik haji berarti naik kapal ke negeri Arab, pikir sang tokoh. Tapi ia ingat bahwa Ayah bukan seorang haji. “Mengapa Ayah tidak berhaji,” tanya sang tokoh kepada ibunda. “Bapakmu tdak berhaji karena miskin.”
Sang tokoh yang dinarasikan oleh Pramoedya sebagai aku, sangat kecewa dan berkecil hati ketika dikatakan bahwa menjadi Islam sejat berarti harus pergi haji, naik kapal ke negeri Arab. Itu berarti ia harus kaya, padahal ia sejak kecil tidak pernah melihat dan merasakan kecuali kemiskinan. Di sekelilingnya ia hanya menemukan anak-anak miskin. Walau bapaknya seorang guru dan pendiri sekolah namun ia tetap miskin. Tokoh kita tidak merasa mampu menjadi seorang yang kaya, dan tidak akan bisa menjadi seorang Islam sejati.
PAT memberikan gambaran getir seorang tokoh yang lahir di tengah keluarga miskin. Ia merasa tidak akan mampu menjadi kaya. Sebuah padangan yang sangat fatalsitik. Bagai si pungguk merindukan bulan. Ia merasa sangat jauh untuk dapat menunaikan ibadah haji. Di dalam paragraf terakhirnya terselip sindiran kepada agama, bahwa agama Islam hanya untuk orang kaya, yang mampu mengumpulkan uang untuk membeli tiket kapal ke negeri Arab.
Sebagai seorang yang sangat berempati kepada nasib orang-orang miskin, gambaran kemiskinan yang dilukiskan PAT dalam karya-karyanya sangat mengugah kesadaran akan kelas. Namun dalam kisah “Sunat” semestinya PAT mampu mengembangkan sebuah harapan dan cita-cita seorang anak usia 9 tahun untuk menjadi seorang yang mampu mengumpulkan harta sehingga dapat menunaikan ibadah haji. Entah mengapa PAT langsung melukiskan kekecewaan dan pupusnya harapan sang anak untuk menjadi serang Islam sejati karena ia lahir di lingkungan keluarga miskin. Padahal banyak cerpenis dan novelis yang menyelipkan pesan optimis kepada semesta pembaca terutama generasi muda agar berani bermimpi mengubah nasib. Andrea Hirata misalnya, menulis novel “Sang Pemimpi” tentang anak-anak miskin Pulu Belitung yang punya mimpi bersekolah di Sorbone, Perancis. Ahmad Tohari juga seorang cerpenis yang senantiasa menceritakan orang-orang miskin, namun ia menyodorkan gambaran bahwa di tengah penderitaannya mereka tetap dapat merasakan kebahagiaan, dan selalu mampu menertawakan nasib mereka sendiri.
Di cerpennya ini PAT menunjukkan filsafat hidup dan ideologinya. Ia hendak menyampiakan pesan bahwa agama, dalam hal ini Islam, adalah agama kaum borjuis dan bukan agama untuk kaum miskin. Bagi seorang santri seperti saya tentu saya menyangkal karena agama ini sejak awal lahirnya adalah memperjuangkan kaum miskin dan tertindas di kota Mekkah. Bahkan ketauhidan seseorang tak bermakna apa pun jika tidak dikaitkan dengan perjuangan mengakkan keadilan dengan membela kaum miskin. PAT bukan seorang yang hidup di lingkungan santri. Ia sejak muda (cerpen ini ditulis saat PAT berusia 20 tahunan) telah percaya kepada garis perjuangan kaum proletar yang berangkat dari materialisme. Menurut ideloginya, agama tidak punya tempat dalam perjuangan kaum buruh-petani miskin mewujudkan masyarakat komunis. Agama justru meninabobokkan manusia papa lewat iming-iming kebahagiaan di alam akherat sana. Lewat cerpen “Sunat” ini saya merasakan misi yang ia gelorakan sebagai seorang komunis atau simpatisannya, suatu hal yang selalu ia sangkal. Sekalipun demikian cerpen-cerpennya sangat layak dibaca dan para pembaca tidak perlu khawatir menjadi komunis.
Kultum Subuh Oleh Abduh Hisyam
17/07/2020
Di lemari buku tua peninggalan Bapak berjejer novel karya Pramoedya Ananta Toer (PAT), Maxim Gorky, dan kumpulan puisi Sitor Situmorang. Walau bapak tokoh Muhammadiyah dan bangga sebagai seorang Masyumi, beliau senang membaca karya-karya PAT dan puisi-puisi Sitor Situmorang yang notabene berafiliasi kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Saya ingat beliau pernah mengutip sajak Sitor Situmorang” “Malam Lebaran. Bulan Di Atas Kuburan” di dalam khutbah Jumat.
Di antara kumpulan buku karya PAT terdapat “Cerita Dari Blora” sebuah buku kumpulan cerpen yang ditulis saat PAT masih berusia duapuluh tahunan, sebuah usia yang masih sangat belia. Dalam kumpulan cerpen itu ada sebuah kisah bertajuk “Sunat”. PAT sungguh pandai melukiskan tragedi kehidupan manusia secara ringkas dalam sebuah cerita pendek. Ia memotret perasaan takut dan gembira seorang anak kecil usia 9 tahun yang akan disunat. Suasana pedesaan di Blora di perempat pertama abad 20 saat perayaan sunatan digambarkan secara fotografis, sehingga pembaca seolah masuk dan ikut tergabung di dalam pesta. Ia seorang penutur kisah yang sangat realis.
Cerpen bertajuk Sunat dalam kumpulan Certia dari Blora mengisahkan seorang anak yang sangat gembira namun juga takut saat hendak disunat. Ia takut karena disunat berarti dipotong sebagian daging kemaluannya yang tentu meninggalkan rasa sakit. Walau banyak anak yang lebih dulu disunat mengatakan bahwa disunat itu tidak sakit, namun tetap saja kengerian membayang di benak. Akan tetapi sunat mendatangkan kegembiraan karena seorang ia menjadi pembeda antara yang telah dewasa dan yang belum dan antara yang saleh dan tidak saleh. Anak yang usianya lebih tua akan merasa minder dengan anak kecil yang telah disunat. Seorang yang telah disunat dianggap telah menjadi seorang yang telah beragama Islam yang sebenar-benarnya. Islam sejati. Dan yang lebih membuat seorang anak gembira saat akan disunat adalah banyaknya hadiah yang akan diterima pada saat ia duduk di atas kursi bak raja dan para tetamu mengucapkan selamat sambil memberikan tepukan di pundak.
Dalam cerpen itu juga diceritakan bagaimana kenduri upacara sunatan bak hiburan pasar malam di kota kecil Blora. Dikisahkan bahwa sang bunda tampak cantik dan kenes karena mengenakan kebaya baru hadiah dari adiknya yang menjadi guru di kota R. Acara dilangusngkan di gedung sekolah yang didirikan Ayah yang sekat-sekat kelasnya dibuka sehinga menyerupai aula besar memanjang. Ayah tampak gagah berjas tutup berkain batik walau tanpa alas kaki.
Di akhir cerita Ibu bertanya kepada sang tokoh, apakah dirinya merasa telah menjadi Islam sejati. Tersentak oleh pertanyaan itu, tokoh kita menjawab dengan polos bahwa ia tidak merasa telah menjadi seorang Islam yang sejati. Ia tidak merasakan perubahan apa pun sebagai seorang Islam. Ibunya kemudian menasehati bahwa jika belum merasa menjadi Islam sejati maka kamu harus naik haji seperti sang kakek. Naik haji berarti naik kapal ke negeri Arab, pikir sang tokoh. Tapi ia ingat bahwa Ayah bukan seorang haji. “Mengapa Ayah tidak berhaji,” tanya sang tokoh kepada ibunda. “Bapakmu tdak berhaji karena miskin.”
Sang tokoh yang dinarasikan oleh Pramoedya sebagai aku, sangat kecewa dan berkecil hati ketika dikatakan bahwa menjadi Islam sejat berarti harus pergi haji, naik kapal ke negeri Arab. Itu berarti ia harus kaya, padahal ia sejak kecil tidak pernah melihat dan merasakan kecuali kemiskinan. Di sekelilingnya ia hanya menemukan anak-anak miskin. Walau bapaknya seorang guru dan pendiri sekolah namun ia tetap miskin. Tokoh kita tidak merasa mampu menjadi seorang yang kaya, dan tidak akan bisa menjadi seorang Islam sejati.
PAT memberikan gambaran getir seorang tokoh yang lahir di tengah keluarga miskin. Ia merasa tidak akan mampu menjadi kaya. Sebuah padangan yang sangat fatalsitik. Bagai si pungguk merindukan bulan. Ia merasa sangat jauh untuk dapat menunaikan ibadah haji. Di dalam paragraf terakhirnya terselip sindiran kepada agama, bahwa agama Islam hanya untuk orang kaya, yang mampu mengumpulkan uang untuk membeli tiket kapal ke negeri Arab.
Sebagai seorang yang sangat berempati kepada nasib orang-orang miskin, gambaran kemiskinan yang dilukiskan PAT dalam karya-karyanya sangat mengugah kesadaran akan kelas. Namun dalam kisah “Sunat” semestinya PAT mampu mengembangkan sebuah harapan dan cita-cita seorang anak usia 9 tahun untuk menjadi seorang yang mampu mengumpulkan harta sehingga dapat menunaikan ibadah haji. Entah mengapa PAT langsung melukiskan kekecewaan dan pupusnya harapan sang anak untuk menjadi serang Islam sejati karena ia lahir di lingkungan keluarga miskin. Padahal banyak cerpenis dan novelis yang menyelipkan pesan optimis kepada semesta pembaca terutama generasi muda agar berani bermimpi mengubah nasib. Andrea Hirata misalnya, menulis novel “Sang Pemimpi” tentang anak-anak miskin Pulu Belitung yang punya mimpi bersekolah di Sorbone, Perancis. Ahmad Tohari juga seorang cerpenis yang senantiasa menceritakan orang-orang miskin, namun ia menyodorkan gambaran bahwa di tengah penderitaannya mereka tetap dapat merasakan kebahagiaan, dan selalu mampu menertawakan nasib mereka sendiri.
Di cerpennya ini PAT menunjukkan filsafat hidup dan ideologinya. Ia hendak menyampiakan pesan bahwa agama, dalam hal ini Islam, adalah agama kaum borjuis dan bukan agama untuk kaum miskin. Bagi seorang santri seperti saya tentu saya menyangkal karena agama ini sejak awal lahirnya adalah memperjuangkan kaum miskin dan tertindas di kota Mekkah. Bahkan ketauhidan seseorang tak bermakna apa pun jika tidak dikaitkan dengan perjuangan mengakkan keadilan dengan membela kaum miskin. PAT bukan seorang yang hidup di lingkungan santri. Ia sejak muda (cerpen ini ditulis saat PAT berusia 20 tahunan) telah percaya kepada garis perjuangan kaum proletar yang berangkat dari materialisme. Menurut ideloginya, agama tidak punya tempat dalam perjuangan kaum buruh-petani miskin mewujudkan masyarakat komunis. Agama justru meninabobokkan manusia papa lewat iming-iming kebahagiaan di alam akherat sana. Lewat cerpen “Sunat” ini saya merasakan misi yang ia gelorakan sebagai seorang komunis atau simpatisannya, suatu hal yang selalu ia sangkal. Sekalipun demikian cerpen-cerpennya sangat layak dibaca dan para pembaca tidak perlu khawatir menjadi komunis.
15 Juli, 2020
Corona , momen Penguatan Keluarga
Sejak Maret 2020, Kehidupan di Indonesia mulai berubah.
Yah, Karena menyebarnya Virus Corona dari China dan akhirnya sampai juga di Indonesia.
Untuk mencegah penyebarannya, Banyak negara melakukan Lock Down. Australia, Jerman dan
Italia salah satu negara yang melakukan Lock Down
Indonesia sendiri tidak melakukan lock down, tapi hanya PSBB (Pembatasan Sosial berskala besar ).
Sekolah sekolah, dari TK hingga perguruan tinggi untuk sementara diliburkan total, begitu juga sebagian perkantoran,mall, pasar dan tenpat pariwisata dan hiburan pun tutup.
Semua orang harus berada di rumah masing masing.
Kumpul Keluarga
Momen Corona yang sampai bulan Juli ini belum juga memperlihatkan tanda tanda menurun semakin membuat orang resah.
Bagaimana tidak resah, jalannya pendidikan terganggu, ekonomi menurun dll.
Hal ini juga menyebabkan mau tidak mau semua anak berkumpul di rumah masing masing .Sekolah dilakukan secara daring.
Yang biasanya kuliah, karena kampus diliburkan, akhirnya harus berkumpul kembali di rumah untuk waktu yang cukup lama.
Momen Penguatan Keluarga
Kumpul keluarga di saat merebaknya virus Corona ini sebaenarnya bisa disikapi secara positif .Justru sebagai orang beriman, dalam keadaan apapun harus mengambil sikap positif.
Sungguh beruntung orang beriman, jika dia diberi nikmat bersyukur, jika diberi musibah bersabar.
Musibah Corona mestinya kita sikapi dengan sabar yang baik
Fasbir Shabran Jamilan
Kata Alquran Bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.
Sabar yg baik adalah mencari solusi tidak hanya sekedar pasrah.
Ada usaha positif mengatasi keadaan apapun.
Dalam momen kumpul keluarga ini, bisa kita biasakan hal hal positif yang bisa meningkatkan religiusitas kita, diantaranya dengan mengajak keluarga shalat berjamaah, puasa sunnah bersama, membaca alquran bersama dll.
Tahajud bersama
Dalam keluarga kami, salah satu sunnah baru yg dilakukan adalah tahajud bersama.
Ide ini atas inisiatif Om Hasan, adik saya.
Biasanya kami shalat tahajud sendiri sendiri, bahkan ada yg kadang tidak tahajud.
Dengan adanya inisiatif Tahajud bersama, akhirnya yg malas tahajud jadi gak enak, dan akhirnya ikut shlat tahajud.
Ini adalah pemaksaan yg baik.Keluarga kami jadi seperti pesantren.
Alhamdulillah sunnah ini sudah dilaksanakan setelah Raamadhan hingga hari ini.
Doakan kami istiqamah.
Banyak hal positif dari rutinitas i Tahajud berjamaah yang menurut saya perlu digalakan bagi semua kaluarga muslim.
Tahajud adalah shalat sunnah yg sangat dianjurkan.
Begitu banyak manfaat shalat tahajud bagi manusia.
Melatih kedispilinan, memeberi dampak yang baik bagi kesehatan juga mendekatkan diri kita pada Allah swt.
Dulu Khalifah Umar bin Khattab menganjurkan shalat Tarawih bersama yg sebelumnya tidak dilakukan oleh Nabi adalah dengan tujuan menyiarkan syiar bulan Ramadhan.Dan akhirnya Tarawih sampai hari ini menjadi hal yang sangat diutamakan.
Dalam sebuah penelitian, anak anak yg rajin shalat tahajud memiliki prestasi dan akhlak yg lebih baik dari pada yang tidak melaksanakan tahajud.
Semoga Pandemi Corona menajadi momen keluarga muslim untuk menanamkan nilai nilai religius dalam keluarga kita.
Wallahu a'lam bisahawab
16 Juli 2020
Sejak Maret 2020, Kehidupan di Indonesia mulai berubah.
Yah, Karena menyebarnya Virus Corona dari China dan akhirnya sampai juga di Indonesia.
Untuk mencegah penyebarannya, Banyak negara melakukan Lock Down. Australia, Jerman dan
Italia salah satu negara yang melakukan Lock Down
Indonesia sendiri tidak melakukan lock down, tapi hanya PSBB (Pembatasan Sosial berskala besar ).
Sekolah sekolah, dari TK hingga perguruan tinggi untuk sementara diliburkan total, begitu juga sebagian perkantoran,mall, pasar dan tenpat pariwisata dan hiburan pun tutup.
Semua orang harus berada di rumah masing masing.
Kumpul Keluarga
Momen Corona yang sampai bulan Juli ini belum juga memperlihatkan tanda tanda menurun semakin membuat orang resah.
Bagaimana tidak resah, jalannya pendidikan terganggu, ekonomi menurun dll.
Hal ini juga menyebabkan mau tidak mau semua anak berkumpul di rumah masing masing .Sekolah dilakukan secara daring.
Yang biasanya kuliah, karena kampus diliburkan, akhirnya harus berkumpul kembali di rumah untuk waktu yang cukup lama.
Momen Penguatan Keluarga
Kumpul keluarga di saat merebaknya virus Corona ini sebaenarnya bisa disikapi secara positif .Justru sebagai orang beriman, dalam keadaan apapun harus mengambil sikap positif.
Sungguh beruntung orang beriman, jika dia diberi nikmat bersyukur, jika diberi musibah bersabar.
Musibah Corona mestinya kita sikapi dengan sabar yang baik
Fasbir Shabran Jamilan
Kata Alquran Bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.
Sabar yg baik adalah mencari solusi tidak hanya sekedar pasrah.
Ada usaha positif mengatasi keadaan apapun.
Dalam momen kumpul keluarga ini, bisa kita biasakan hal hal positif yang bisa meningkatkan religiusitas kita, diantaranya dengan mengajak keluarga shalat berjamaah, puasa sunnah bersama, membaca alquran bersama dll.
Tahajud bersama
Dalam keluarga kami, salah satu sunnah baru yg dilakukan adalah tahajud bersama.
Ide ini atas inisiatif Om Hasan, adik saya.
Biasanya kami shalat tahajud sendiri sendiri, bahkan ada yg kadang tidak tahajud.
Dengan adanya inisiatif Tahajud bersama, akhirnya yg malas tahajud jadi gak enak, dan akhirnya ikut shlat tahajud.
Ini adalah pemaksaan yg baik.Keluarga kami jadi seperti pesantren.
Alhamdulillah sunnah ini sudah dilaksanakan setelah Raamadhan hingga hari ini.
Doakan kami istiqamah.
Banyak hal positif dari rutinitas i Tahajud berjamaah yang menurut saya perlu digalakan bagi semua kaluarga muslim.
Tahajud adalah shalat sunnah yg sangat dianjurkan.
Begitu banyak manfaat shalat tahajud bagi manusia.
Melatih kedispilinan, memeberi dampak yang baik bagi kesehatan juga mendekatkan diri kita pada Allah swt.
Dulu Khalifah Umar bin Khattab menganjurkan shalat Tarawih bersama yg sebelumnya tidak dilakukan oleh Nabi adalah dengan tujuan menyiarkan syiar bulan Ramadhan.Dan akhirnya Tarawih sampai hari ini menjadi hal yang sangat diutamakan.
Dalam sebuah penelitian, anak anak yg rajin shalat tahajud memiliki prestasi dan akhlak yg lebih baik dari pada yang tidak melaksanakan tahajud.
Semoga Pandemi Corona menajadi momen keluarga muslim untuk menanamkan nilai nilai religius dalam keluarga kita.
Wallahu a'lam bisahawab
16 Juli 2020
08 Juli, 2020
Kultum Selasa 7 Juli 2020
Dzikir
Dalam buku larisnya yang berjudul “The Female Brain”, Louanne Brizendine pada 2006 menyatakan bahwa perempuan mengeluarkan 20.000 kata perhari dibandingkan laki-laki yang hanya menggunakan rata-rata sebanyak 7.000 kata setiap harinya.
Hal ini juga sering disampaikan oleh Ibu Aisyah Dahlan Ahli Neurosains yang sering menyampaikan ceramah tentang Penguatan Keluarga.
Kira kira bagaimana kita menghabiskan 7000 dan 20.000 kata tersebut?
Struktur otak yang didesain Allah swt memang sudah demikian. Wanita dengan 20.000 katanya mencoba menyelesaikan masalah dengan cara berbicara agar lega, sementara laki laki cenderung diam dalam menyelesaikan masalahnya.
Celakanya banyak yang tergelincir dalam menghabiskan 20.000 kata tersebut, banyak yg terperosok ghibah, bicara ngalor ngidul yang gak jelas isinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثَرُ خَطَايَا إِبْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ
‘Mayoritas kesalahan anak Adam adalah pada lisannya.‘” (HR. Thabarani)
Allah sudah memberi pedoman tentang bagaimana mengatasi hal tersebut dalam surat annisa 114 sbb
_Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) *memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia*. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar_
Perkatan yg baik adalah yg berisi 3 hal, menyuruh org bersedekah , amar makruf nahi mungkar, dan mendamaikan manusia.
Usahakan perbincangan kita sehari hari adalah berkaitan dengan tiga hal tersebut.
Bagaimana menghabisakan 20.000 kata agar kita selamat?
Mari berusaha menggunakan 20.000 kata kita diantaranya dengan memperbanyak dzikir dan membaca alquran.
Ibnu Qayyim dalam Kitabnya _Al Wabilush Shoyyib_ menulis ada 81 manfaat Dzikir, Diantaranya adalah
_dzikir menyebabkan lisan semakin sibuk sehingga terhindar dari ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, perbuatan keji dan batil_
Ibnul Qayyim pernah mendengar gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
الذكر للقلب مثل الماء للسمك فكيف يكون حال السمك إذا فارق الماء ؟
“Dzikir pada hati semisal air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut lepas dari air?”
Maka perintah dalam Alquran adalah agar kita berdikir sebanyak-banyaknya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42)
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.
zikrullah ini bisa kita lakukan kapan dan di mana pun dalam setiap aktivitas.Sambil memasak, menyapu, nungguin lampu merah, menunggu delay pesawat, nungguin antrian di bank dll.
Dalam kondisi seperti itu, membaca istighfar, tasbih, dan tahmid mampu dilakukan setiap Muslimin. Bahkan, zikrullah bisa dilakukan wanita yang haid sekalipun. Jadi, zikrullah adalah ibadah yang mudah diamalkan. Hanya tinggal niat, tekad, dan kesungguhan yang luar biasa yang harus dihadirkan di dalam jiwa.
Al-Ghazali menjelaskan, zikrullah mengharuskan adanya *rasa suka dan cinta* kepada Allah Taala. Maka, tidak akan ada yang mengamalkannya ke cuali jiwa yang dipenuhi rasa suka dan cinta untuk selalu mengingat dan kembali kepada-Nya.
Kita kalo suka dengan seseorang pasti akan sering menyebut nyebut namanya.
Nabi Pernah menasehati Muadz Bin Jabal agar berdoa sebelum salam di waktu shalat agar berdoa sbb
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
*“Ya Allah, bantulah aku atas berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu”*
(HR. Abu Dawud & an-Nasai)
Dzikir
Dalam buku larisnya yang berjudul “The Female Brain”, Louanne Brizendine pada 2006 menyatakan bahwa perempuan mengeluarkan 20.000 kata perhari dibandingkan laki-laki yang hanya menggunakan rata-rata sebanyak 7.000 kata setiap harinya.
Hal ini juga sering disampaikan oleh Ibu Aisyah Dahlan Ahli Neurosains yang sering menyampaikan ceramah tentang Penguatan Keluarga.
Kira kira bagaimana kita menghabiskan 7000 dan 20.000 kata tersebut?
Struktur otak yang didesain Allah swt memang sudah demikian. Wanita dengan 20.000 katanya mencoba menyelesaikan masalah dengan cara berbicara agar lega, sementara laki laki cenderung diam dalam menyelesaikan masalahnya.
Celakanya banyak yang tergelincir dalam menghabiskan 20.000 kata tersebut, banyak yg terperosok ghibah, bicara ngalor ngidul yang gak jelas isinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثَرُ خَطَايَا إِبْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ
‘Mayoritas kesalahan anak Adam adalah pada lisannya.‘” (HR. Thabarani)
Allah sudah memberi pedoman tentang bagaimana mengatasi hal tersebut dalam surat annisa 114 sbb
_Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) *memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia*. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar_
Perkatan yg baik adalah yg berisi 3 hal, menyuruh org bersedekah , amar makruf nahi mungkar, dan mendamaikan manusia.
Usahakan perbincangan kita sehari hari adalah berkaitan dengan tiga hal tersebut.
Bagaimana menghabisakan 20.000 kata agar kita selamat?
Mari berusaha menggunakan 20.000 kata kita diantaranya dengan memperbanyak dzikir dan membaca alquran.
Ibnu Qayyim dalam Kitabnya _Al Wabilush Shoyyib_ menulis ada 81 manfaat Dzikir, Diantaranya adalah
_dzikir menyebabkan lisan semakin sibuk sehingga terhindar dari ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, perbuatan keji dan batil_
Ibnul Qayyim pernah mendengar gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
الذكر للقلب مثل الماء للسمك فكيف يكون حال السمك إذا فارق الماء ؟
“Dzikir pada hati semisal air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut lepas dari air?”
Maka perintah dalam Alquran adalah agar kita berdikir sebanyak-banyaknya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42)
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.
zikrullah ini bisa kita lakukan kapan dan di mana pun dalam setiap aktivitas.Sambil memasak, menyapu, nungguin lampu merah, menunggu delay pesawat, nungguin antrian di bank dll.
Dalam kondisi seperti itu, membaca istighfar, tasbih, dan tahmid mampu dilakukan setiap Muslimin. Bahkan, zikrullah bisa dilakukan wanita yang haid sekalipun. Jadi, zikrullah adalah ibadah yang mudah diamalkan. Hanya tinggal niat, tekad, dan kesungguhan yang luar biasa yang harus dihadirkan di dalam jiwa.
Al-Ghazali menjelaskan, zikrullah mengharuskan adanya *rasa suka dan cinta* kepada Allah Taala. Maka, tidak akan ada yang mengamalkannya ke cuali jiwa yang dipenuhi rasa suka dan cinta untuk selalu mengingat dan kembali kepada-Nya.
Kita kalo suka dengan seseorang pasti akan sering menyebut nyebut namanya.
Nabi Pernah menasehati Muadz Bin Jabal agar berdoa sebelum salam di waktu shalat agar berdoa sbb
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
*“Ya Allah, bantulah aku atas berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu”*
(HR. Abu Dawud & an-Nasai)
05 Juli, 2020
BELAJAR MENJADI PEMIMPIN
Kultum Subuh Oleh Abduh HIsyam
5/07/2020
Kultum pagi ini saya bicara tentang kepemimpinan. Di banyak pelatihan yang diadakan oleh organisasi pelajar misal IPM atau IMM, saya selalu menampilkan hal-hal yang tidak terkait dengan teori kepemimpinan, melainkan hal dasar yang terkait dengan tata cara berpenampilan yang baik.
Ada lima hal yang saya sampikan dalam pelatihan kepemimpinan: Berpakaian rapi, datang tepat waktu, duduk di depan, berjalan cepat, dan tidak menolak jika diberi kepercayaan.
Pertama, berpakaian rapi.
Pakaian acapkali dikenakan untuk menunjukkan siapa diri pemakainya. Orang banyak menilai seseorang dari cara seseorang berpakaian. Kerapian pakaian menjadi penting. Sehelai dasi yang hanya berharga 10.000,- membuat seeorang diperlakukan istimewa. Sebuah kopiah dan baju koko membuat seseorang dipaggil ustaz. Tiap tempat ada tatacaranya. Berpakaian saat menghadiri pesta pernikahan tentu beda dari upacara kematian. Saat datang ke rumah seseorang yang sedang berduka, tidak pantas kita berpakaian warna-warni menyolok, apalagi dengan aseseoris blink-blink. Saat pergi ke lembaga pendidikan atau lembaga keagamaan tentu pakaian yang kita kenakan haruslah yang menunjukkan kehormatan. Beda dengan yang kita pakai saat berlibur ke pantai.
Eyang Kakung pernah bercerita bahwa ia pernah diejek temannya karena pakaian yang dikenakananya. Ia saat usia sekolah tidak punya pakaian kecuali bekas milik kakaknya yang kedodoran. Eyang kakung jika ingat peristiwa itu merasa sakit hatinya.
Eyang Mas’udi selalu berpakaian rapi dan bersepatu walau hanya sekedar berkeliling pabrik genteng miliknya. Ke masjid ia selalu mengenakan sarung terbaik lengkap dengan ikat pinggang khas santri Gontor.
Kedua, datang tepat waktu.
Seorang pemimpin kata Buya Syafiie Marif, harus selangkah di depan dan seranting lebih tinggi. Seorang pemimpin diharapkan lebih baik dari orang kebanyakan. Maka imam selalu di depan karena bacaan dan agamanya lebih baik.
Di masyarakat kita yang tidak terbiasa menghargai waktu, bersikap tepat waktu adalah istimewa. Di Kebumen bayak acara selalu terlambat satu jam dari waktu yang telah ditetapkan. Selalu saja ada alasan pembenar bagi keterlambatan tersebut. Padahal keterlambatan bagi seorang guru dalam mengajar atau pejabat dalam bekerja adalah ibarat seorang pedagang mengurangi timbangan. Semua melanggar norma umum dan norma agama.
Ketiga, duduk di depan.
Saat kita diundang ke sebuah acara mewakili organisasi kita, maka kita harus duduk di tempat yang trehormat. Orang tidak melihat diri kita melainkan melihat organisasi kita.
Di pelbagai majelis banyak orang memilih duduk di belakang. Mereka beralasan agar jika mengantuk tak terlihat, atau agar leluasa mengobrol atau bermain hape. Itu perbuatan yang tidak menghormati majelis. Keberadaan kita di tempat duduk paling depan adalah sikap hormat kita kepada majelis yang telah mengundang kita.
Keempat, berjalan dengan cepat.
Jalan cepat merupakan cermin seseorang apakah ia seorang yang cekatan atau tidak. Saya sungguh prihatin dengan anak-anak muda yang selalu lambat dalam berjalan. Ia pasti lambat dalam bekerja. Sebagai bangsa yang harus banyak mengejar ketertinggalan dari bangsa lain, bangsa Indonesia harus mengubah cara berjalannya.
Bangsa Asia yang dikenal selalu berjalan cepat adalah bangsa Jepang. Konon masyarakat Jepang pada awalnya selalu lambat dalam berjalan. Mereka berubah usai sang Kaisar berkunjung ke Eropa. Beliau terkesan dengan orang-orang Inggris yang selalu berjalan cepat. Ia pun menganggarkan dana besar mendatangkan guru-guru dari Inggris untuk mengajari rakyt Jepang berjalan cepat. Kini kita dapat menyaksikan masyarakat Jepang yang selalu bergerak dengan cepat. Usai porak poranda dihancurkan bom atom Amerika, Jepang bangkit dan meninggalkan negara-negara lain termasuk Amerika.
Kelima, jangan menolak amanat.
Dalam sebah organisasi, penugasan adalah praktek perkaderan terbaik. Maka jika diberi kepercayaan menjadi pengurus, mengetuai sebuah acara, mewakili organisasi menghadiri rapat, atau berpidato, jangan sesekali menolak. Sekali kita menolak sebuah tugas, maka kepercayaan tidak lagi akan datang kepada kita. Sekali kita terima sebuah kepercayaan maka selamanya kita akan dipercaya.
Janga pernah berkata, “Maaf saya tidak berpengalaman,” jika diberi sebuah tanggungjawab. Itu pernyataan konyol. Banyak orang tanpa pengalaman terlebih dahulu dalam memegang sebuah jabatan. Atau “maaf saya tidak punya waktu.” O lala, semua orang waktunya sama: 24 jam. Jangan menolak sebuah amanat. Kerjakan saja. Jika salah dalam bekerja, segera perbaiki. Jika tidak ada ide, bertanya.
Kultum Subuh Oleh Abduh HIsyam
5/07/2020
Kultum pagi ini saya bicara tentang kepemimpinan. Di banyak pelatihan yang diadakan oleh organisasi pelajar misal IPM atau IMM, saya selalu menampilkan hal-hal yang tidak terkait dengan teori kepemimpinan, melainkan hal dasar yang terkait dengan tata cara berpenampilan yang baik.
Ada lima hal yang saya sampikan dalam pelatihan kepemimpinan: Berpakaian rapi, datang tepat waktu, duduk di depan, berjalan cepat, dan tidak menolak jika diberi kepercayaan.
Pertama, berpakaian rapi.
Pakaian acapkali dikenakan untuk menunjukkan siapa diri pemakainya. Orang banyak menilai seseorang dari cara seseorang berpakaian. Kerapian pakaian menjadi penting. Sehelai dasi yang hanya berharga 10.000,- membuat seeorang diperlakukan istimewa. Sebuah kopiah dan baju koko membuat seseorang dipaggil ustaz. Tiap tempat ada tatacaranya. Berpakaian saat menghadiri pesta pernikahan tentu beda dari upacara kematian. Saat datang ke rumah seseorang yang sedang berduka, tidak pantas kita berpakaian warna-warni menyolok, apalagi dengan aseseoris blink-blink. Saat pergi ke lembaga pendidikan atau lembaga keagamaan tentu pakaian yang kita kenakan haruslah yang menunjukkan kehormatan. Beda dengan yang kita pakai saat berlibur ke pantai.
Eyang Kakung pernah bercerita bahwa ia pernah diejek temannya karena pakaian yang dikenakananya. Ia saat usia sekolah tidak punya pakaian kecuali bekas milik kakaknya yang kedodoran. Eyang kakung jika ingat peristiwa itu merasa sakit hatinya.
Eyang Mas’udi selalu berpakaian rapi dan bersepatu walau hanya sekedar berkeliling pabrik genteng miliknya. Ke masjid ia selalu mengenakan sarung terbaik lengkap dengan ikat pinggang khas santri Gontor.
Kedua, datang tepat waktu.
Seorang pemimpin kata Buya Syafiie Marif, harus selangkah di depan dan seranting lebih tinggi. Seorang pemimpin diharapkan lebih baik dari orang kebanyakan. Maka imam selalu di depan karena bacaan dan agamanya lebih baik.
Di masyarakat kita yang tidak terbiasa menghargai waktu, bersikap tepat waktu adalah istimewa. Di Kebumen bayak acara selalu terlambat satu jam dari waktu yang telah ditetapkan. Selalu saja ada alasan pembenar bagi keterlambatan tersebut. Padahal keterlambatan bagi seorang guru dalam mengajar atau pejabat dalam bekerja adalah ibarat seorang pedagang mengurangi timbangan. Semua melanggar norma umum dan norma agama.
Ketiga, duduk di depan.
Saat kita diundang ke sebuah acara mewakili organisasi kita, maka kita harus duduk di tempat yang trehormat. Orang tidak melihat diri kita melainkan melihat organisasi kita.
Di pelbagai majelis banyak orang memilih duduk di belakang. Mereka beralasan agar jika mengantuk tak terlihat, atau agar leluasa mengobrol atau bermain hape. Itu perbuatan yang tidak menghormati majelis. Keberadaan kita di tempat duduk paling depan adalah sikap hormat kita kepada majelis yang telah mengundang kita.
Keempat, berjalan dengan cepat.
Jalan cepat merupakan cermin seseorang apakah ia seorang yang cekatan atau tidak. Saya sungguh prihatin dengan anak-anak muda yang selalu lambat dalam berjalan. Ia pasti lambat dalam bekerja. Sebagai bangsa yang harus banyak mengejar ketertinggalan dari bangsa lain, bangsa Indonesia harus mengubah cara berjalannya.
Bangsa Asia yang dikenal selalu berjalan cepat adalah bangsa Jepang. Konon masyarakat Jepang pada awalnya selalu lambat dalam berjalan. Mereka berubah usai sang Kaisar berkunjung ke Eropa. Beliau terkesan dengan orang-orang Inggris yang selalu berjalan cepat. Ia pun menganggarkan dana besar mendatangkan guru-guru dari Inggris untuk mengajari rakyt Jepang berjalan cepat. Kini kita dapat menyaksikan masyarakat Jepang yang selalu bergerak dengan cepat. Usai porak poranda dihancurkan bom atom Amerika, Jepang bangkit dan meninggalkan negara-negara lain termasuk Amerika.
Kelima, jangan menolak amanat.
Dalam sebah organisasi, penugasan adalah praktek perkaderan terbaik. Maka jika diberi kepercayaan menjadi pengurus, mengetuai sebuah acara, mewakili organisasi menghadiri rapat, atau berpidato, jangan sesekali menolak. Sekali kita menolak sebuah tugas, maka kepercayaan tidak lagi akan datang kepada kita. Sekali kita terima sebuah kepercayaan maka selamanya kita akan dipercaya.
Janga pernah berkata, “Maaf saya tidak berpengalaman,” jika diberi sebuah tanggungjawab. Itu pernyataan konyol. Banyak orang tanpa pengalaman terlebih dahulu dalam memegang sebuah jabatan. Atau “maaf saya tidak punya waktu.” O lala, semua orang waktunya sama: 24 jam. Jangan menolak sebuah amanat. Kerjakan saja. Jika salah dalam bekerja, segera perbaiki. Jika tidak ada ide, bertanya.
03 Juli, 2020
*Amal Sholeh*
_"Semua manusia celaka, kecuali ulama ( orang-orang yang berilmu). Para ulama inipun celaka, kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya. Dan yang disebutkan terakhir inipun celaka, kecuali mereka yang tulus ikhlas.''_
_Al Ghazali_
Kyai Dahlan ternyata sering menyampaikan pesan Ghazali diatas, termasuk dalam buku Pelajaran Ahmad Dahlan terdapat kutipan tersebut.
Ini sebagai nasehat bagi kita untuk beramal dengan ikhlas.
Amal yg diterima Allah adalah yg ikhlas dan sesuai Tuntunan Nabi.
Ahmad Dahlan juga mengingatkan agar kita memperhatikan kan amal amal wajib termasuk jihad.
Jihad mengorbankan jiwa dan harta adalah amalan wajib.
Tapi banyak yg melalaikan nya.
عَلَيْكُمْ بِالْجِهَادِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ –تَبَارَكَ وَتَعَالَى-، فَإِنَّ الْـجِهَادَ فِـيْ سَبِيْلِ اللهِ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْـجَنَّةِ ، يُذْهِبُ اللهُ بِهِ مِنَ الْهَمِّ وَالْغَمِّ. “Wajib atas kalian berjihad ( berjuang) di jalan Allah Tabaaraka wa Ta’ala, karena sesungguhnya jihad di jalan Allah itu merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu Surga, Allah akan menghilangkan dengannya dari kesedihan dan kesusahan.”[15]
Tentunya jihad sekarang bukan lagi berperang secara fisik, tetapi berperang melawan ketidak adilan, kebodohan, kemiskinan dan
menegakkan agama Islam dengan beramar makruf nahi mungkar sesuai Qur'an dan sunnah.
Dalam bab amal sholeh ini, Kyai Dahlan mengingatkan para ulama agar senantiasa mendakwahkan tentang perkara Aqidah, ibadah, Akhlak, dan adab menurut Qur 'an dan sunnah
Beliau juga mewanti wanti agar memberantas bid'ah dan menjauhi hal hal jahiliyah dan falsafah barat yang tidak percaya pada Tuhan , dan semua tingkah laku yg bertentangan dengan Al Qur'an dan Sunnah
_Marilah bersungguh sungguh berjihad untuk kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah_
Kultum 2 Juli 2020
_"Semua manusia celaka, kecuali ulama ( orang-orang yang berilmu). Para ulama inipun celaka, kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya. Dan yang disebutkan terakhir inipun celaka, kecuali mereka yang tulus ikhlas.''_
_Al Ghazali_
Kyai Dahlan ternyata sering menyampaikan pesan Ghazali diatas, termasuk dalam buku Pelajaran Ahmad Dahlan terdapat kutipan tersebut.
Ini sebagai nasehat bagi kita untuk beramal dengan ikhlas.
Amal yg diterima Allah adalah yg ikhlas dan sesuai Tuntunan Nabi.
Ahmad Dahlan juga mengingatkan agar kita memperhatikan kan amal amal wajib termasuk jihad.
Jihad mengorbankan jiwa dan harta adalah amalan wajib.
Tapi banyak yg melalaikan nya.
عَلَيْكُمْ بِالْجِهَادِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ –تَبَارَكَ وَتَعَالَى-، فَإِنَّ الْـجِهَادَ فِـيْ سَبِيْلِ اللهِ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْـجَنَّةِ ، يُذْهِبُ اللهُ بِهِ مِنَ الْهَمِّ وَالْغَمِّ. “Wajib atas kalian berjihad ( berjuang) di jalan Allah Tabaaraka wa Ta’ala, karena sesungguhnya jihad di jalan Allah itu merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu Surga, Allah akan menghilangkan dengannya dari kesedihan dan kesusahan.”[15]
Tentunya jihad sekarang bukan lagi berperang secara fisik, tetapi berperang melawan ketidak adilan, kebodohan, kemiskinan dan
menegakkan agama Islam dengan beramar makruf nahi mungkar sesuai Qur'an dan sunnah.
Dalam bab amal sholeh ini, Kyai Dahlan mengingatkan para ulama agar senantiasa mendakwahkan tentang perkara Aqidah, ibadah, Akhlak, dan adab menurut Qur 'an dan sunnah
Beliau juga mewanti wanti agar memberantas bid'ah dan menjauhi hal hal jahiliyah dan falsafah barat yang tidak percaya pada Tuhan , dan semua tingkah laku yg bertentangan dengan Al Qur'an dan Sunnah
_Marilah bersungguh sungguh berjihad untuk kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah_
Kultum 2 Juli 2020
KISAH TENTANG NAMA
Kultum oleh Abduh Hisyam
Selasa, 30 Juni 2020
Shakespeare mengatakan, “What is in a name?” Apa arti sebuah nama. Nabi mengajarkan kepada kita bahwa nama adalah doa. Pada sebuah nama tersimpan sebuah harapan dan cita-cita. Kita diperintahkan menamai anak kita dengan nama yang baik.
Saat lahir saya diberi nama Muhammad Abduh. Bagi orang Jawa nama Abduh terdengar aneh. Di sekolah dasar, saat saya memperkenalkan diri teman-temanku berteriak; “aduh..aduuuuh.” Demikian pula saat saya ikut mengaji di sebuah madrasah di sore hari. Tidak sedikit anak-anak mengejek namaku. Saya tentu sedih. Teman-temanku bernama Waluyo Rahmanto, Agus Susetianto, Rahmawan Pitoyo, Vivi Cahyaningsih, Laily Amaliyah atau Drajat Winanjar. Mereka tidak pernah diejek karena nama. Nama-nama mereka lebih mudah diterima daripada namaku.
Saat orang-orang memanggilku, kebanyakan mereka keliru memanggilku Abdul. Nama Abdul lebih popular daripada Abduh. Hingga kini masih ada orang-orang yang keliru tiap kali menyebut namaku. Di antara mereka menyebutku Afdoh. Ada pula yang memanggilku Ngabduh. Mereka terlalu fasih melafalkan huruf ‘ain sehingga menjadi nga.
Salah ucap ini bikin masalah. Suatu hari saya mendapat jadwal mengisi kultum usai tarawih di masjid PKU Muhammadiyah Sruweng. Saya cari nama saya di deretan huruf A. Tidak ketemu. Siapa tahu ada di uruf M, tidak ketemu juga. Saya pikir panitia lupa memberiku jadwal. Saat mereka saya tegur, mereka bersikeras menyantumkan namaku. Setelah bolak balik mencari, ternyata namaku ada di deretan huruf N. Tertulis namaku Ngabduh.
Karena merasa tidak nyaman dengan nama saya, saya tanyakan kepada ibuku arti nama Muhammad Abduh. Ibuku menjawab, Arti namamu “orang yang terpuji hamba Allah.” Saya pikir cukup bagus, tapi mengapa banyak orang tidak akrab dengan namaku. Tetap saja tiap hari anak-anak tetangga mengejekku. Saat aku berjalan, mereka pura-pura jatuh dan berteriak: “Aduh.” Sudahlah saya terima saja. Hingga suatu hari salah seorang pamanku Om Cacik menunjukkan kepadaku sebuah tulisan di majalah Panji Masyrkat tentang Syeikh Muhammad Abduh: “Penggagas Islam Modern di Mesir,” lengkap dengan fotonya, seorang lelaki tua bermata tajam, bersurban dan berjenggot. Wow! Ternyata Muhammad Abduh ini orang hebat. Sejak saat itu tumbuh kebanggaan dalam hati. Ibuku menamaiku Muhammad Abduh tentu agar saya menjadi pahlawan Islam sebagaimana tokoh pembaharu dari Mesir itu.
Suasana psikologisku berubah total ketika saya masuk Gontor. Tiap kali para guru membaca daftar nama murid, dan sampai kepada namaku, hampir semua guru pasti berkomentar positif tentang sosok Muhammad Abduh sang pemabahru Islam dari Mesir. Gontor adalah pesantren modern, sedangkan Abduh adalah tokoh modernis. Gagasan Abduh tentu sangat cocok dengan visi pendidikan Gontor. Komentar para guru ini memberikan motivasi kuat pada saya untuk belajar.
Sungguh jauh perbedaan antara lingkungan saat saya di sekolah umum dengan saat saya di Gontor. Di SD karena guru-guru dan kawan-kawan saya kebanyakan adalah abangan, mereka sangat asing dengan namaku. Namun di Gontor, nama Abduh menuai sanjung dan puji. Walau sanjung dan puji itu bukan buatku, namun saya ikut menikmatinya.
Ketidaknyamanan dengan nama pemberian orangtua dialami pula oleh seorang aktifis politik berkebangsaan Palestina, Edward Said. Di dalam memoarnya, Out of Place, kritikus sastra ini merasa asing dari namanya ssendiri. Di telinganya sendiri nama itu terdengar bodoh. Bagaimana mungkin seorang anak Arab bernama Edward, padahal teman-teman sekolahnya tidak ada yang menggunakan nama Eropa, seperti Omar Sharif (kelak aktor Hollywood), dan Hussein Talal (kelak raja Yordania). Nama mereka benar-benar Arab, tidak sebagaimana nama dirinya. Namun akhirnya ia nyaman saja dengan nama tersebut, apalagi setelah hijrah ke Amerika Serikat. Ia seolah memiliki dua identitas: Arab dan Eropa. Dan dengan identitas tersebut ia memperjuangkan nasib bangsa Palestina.
Paling tidak ada kesamaan antara saya dengan Edward Said.
Kultum oleh Abduh Hisyam
Selasa, 30 Juni 2020
Shakespeare mengatakan, “What is in a name?” Apa arti sebuah nama. Nabi mengajarkan kepada kita bahwa nama adalah doa. Pada sebuah nama tersimpan sebuah harapan dan cita-cita. Kita diperintahkan menamai anak kita dengan nama yang baik.
Saat lahir saya diberi nama Muhammad Abduh. Bagi orang Jawa nama Abduh terdengar aneh. Di sekolah dasar, saat saya memperkenalkan diri teman-temanku berteriak; “aduh..aduuuuh.” Demikian pula saat saya ikut mengaji di sebuah madrasah di sore hari. Tidak sedikit anak-anak mengejek namaku. Saya tentu sedih. Teman-temanku bernama Waluyo Rahmanto, Agus Susetianto, Rahmawan Pitoyo, Vivi Cahyaningsih, Laily Amaliyah atau Drajat Winanjar. Mereka tidak pernah diejek karena nama. Nama-nama mereka lebih mudah diterima daripada namaku.
Saat orang-orang memanggilku, kebanyakan mereka keliru memanggilku Abdul. Nama Abdul lebih popular daripada Abduh. Hingga kini masih ada orang-orang yang keliru tiap kali menyebut namaku. Di antara mereka menyebutku Afdoh. Ada pula yang memanggilku Ngabduh. Mereka terlalu fasih melafalkan huruf ‘ain sehingga menjadi nga.
Salah ucap ini bikin masalah. Suatu hari saya mendapat jadwal mengisi kultum usai tarawih di masjid PKU Muhammadiyah Sruweng. Saya cari nama saya di deretan huruf A. Tidak ketemu. Siapa tahu ada di uruf M, tidak ketemu juga. Saya pikir panitia lupa memberiku jadwal. Saat mereka saya tegur, mereka bersikeras menyantumkan namaku. Setelah bolak balik mencari, ternyata namaku ada di deretan huruf N. Tertulis namaku Ngabduh.
Karena merasa tidak nyaman dengan nama saya, saya tanyakan kepada ibuku arti nama Muhammad Abduh. Ibuku menjawab, Arti namamu “orang yang terpuji hamba Allah.” Saya pikir cukup bagus, tapi mengapa banyak orang tidak akrab dengan namaku. Tetap saja tiap hari anak-anak tetangga mengejekku. Saat aku berjalan, mereka pura-pura jatuh dan berteriak: “Aduh.” Sudahlah saya terima saja. Hingga suatu hari salah seorang pamanku Om Cacik menunjukkan kepadaku sebuah tulisan di majalah Panji Masyrkat tentang Syeikh Muhammad Abduh: “Penggagas Islam Modern di Mesir,” lengkap dengan fotonya, seorang lelaki tua bermata tajam, bersurban dan berjenggot. Wow! Ternyata Muhammad Abduh ini orang hebat. Sejak saat itu tumbuh kebanggaan dalam hati. Ibuku menamaiku Muhammad Abduh tentu agar saya menjadi pahlawan Islam sebagaimana tokoh pembaharu dari Mesir itu.
Suasana psikologisku berubah total ketika saya masuk Gontor. Tiap kali para guru membaca daftar nama murid, dan sampai kepada namaku, hampir semua guru pasti berkomentar positif tentang sosok Muhammad Abduh sang pemabahru Islam dari Mesir. Gontor adalah pesantren modern, sedangkan Abduh adalah tokoh modernis. Gagasan Abduh tentu sangat cocok dengan visi pendidikan Gontor. Komentar para guru ini memberikan motivasi kuat pada saya untuk belajar.
Sungguh jauh perbedaan antara lingkungan saat saya di sekolah umum dengan saat saya di Gontor. Di SD karena guru-guru dan kawan-kawan saya kebanyakan adalah abangan, mereka sangat asing dengan namaku. Namun di Gontor, nama Abduh menuai sanjung dan puji. Walau sanjung dan puji itu bukan buatku, namun saya ikut menikmatinya.
Ketidaknyamanan dengan nama pemberian orangtua dialami pula oleh seorang aktifis politik berkebangsaan Palestina, Edward Said. Di dalam memoarnya, Out of Place, kritikus sastra ini merasa asing dari namanya ssendiri. Di telinganya sendiri nama itu terdengar bodoh. Bagaimana mungkin seorang anak Arab bernama Edward, padahal teman-teman sekolahnya tidak ada yang menggunakan nama Eropa, seperti Omar Sharif (kelak aktor Hollywood), dan Hussein Talal (kelak raja Yordania). Nama mereka benar-benar Arab, tidak sebagaimana nama dirinya. Namun akhirnya ia nyaman saja dengan nama tersebut, apalagi setelah hijrah ke Amerika Serikat. Ia seolah memiliki dua identitas: Arab dan Eropa. Dan dengan identitas tersebut ia memperjuangkan nasib bangsa Palestina.
Paling tidak ada kesamaan antara saya dengan Edward Said.
Mulyadhi Kartanegara: Islam dan Kritik Atas Sains Modern
Kultum Nadia Elasalama
Materi kultum diambil dari pesan-pesan dalam kajian Prof. Mulyadhi Kartanegara. Sebagai seorang akademisi muslim, beliau terpanggil untuk mengkritik pemikiran sais modern—sebuah tanggungjawab moral. Baginya, sangat penting menyadari bahwa dampak dari sekularisasi ilmu sangat besar, karena tanpa disadari, Islam dan ilmu pengetahuan barat memiliki prinsip yang sangat berentangan. Sains sudah seperti agama, menjadikan orang percaya akan kebenarannya dan menggeser keberadaan Tuhan.
Apalagi pelajar-pelajar Islam masih jarang yang melakukan kritik terhadap nabi-nabi pengetahuan. Mereka cenderung hanya mengikuti dan menggunakan teori tersebut sebagai alat untuk memahami fenomena.
1. Kritik terhadap Sekularisme Sains
-Sains selalu berusaha meniadakan Tuhan, karena mengadakan Tuhan dianggap sebagai kebuntuan dalam memperoleh penjelasan ilmiah. Pada masa yunani kuno, para ilmuwan masih bertuhan dengan cara mencari sebab alam semesta. Namun semakin lama, semakin bangak ditemukan metode ilmiah yang bisa menjelaskan segalanya.
-Charles Darwin sebelumnya adalah kristen yang taat. Setelah ia menjadi ilmuwan, ia malah mengharamkan adanya sesuatu di luar realitas yang mempengaruhi proses evolusi.
-Hukum mekanik dianggap kebenaran final, banyak peryataan "Kalau mau sukses pelajari hukum fisika dan hiduplah dengan itu"
-Kritik Einstein terhadap sains: pengamatan ilmiah tidak sepenuhnya objektif, selalu ada campur tangan subjektif manusia. Hukum paling dasar dari sub-atom pun adalah prinsip ketidakpastian. Inilah inti untama yang sebenarnya mengatur. Contoh: Ketika mau meneliti sebuah partikel, ketika dipasang alat maka berubah menjadi gelombang. Maka hasil dari penemuan ilmiah tergantung pada tujuannya.
-Jalaluddin Rumi dulu sudah berupaya memahami bahwa Allah-lah pemilik bengkel sistem kerja alam semesta. Bukan determinisme (hukum sebab-akibat), namun ialah sifat kuasa Allah.
2. Kritik terhadap Materialisme
-menurut pandangan materialisme, yang paling fundamental adalah materi. Semuanya inti utama yang ada di alam semesta berasal dari materi. Padahal, menurut Islam segalanya berasa dari immateri (Tuhan).
-Seorang ilmuwan barat mengkritik materialisme yang mengatakan building block dari alam adalah atom, dan atom adalah materi. Sebenarnya, sebagian besar atom bersifat nonmateri. Atom tidak terdiri dari materi melulu. Kalau kita menolak keberadaan non-fisik, maka konsep atom tidak masuk akal.
-Fyodor Capra, di dalam quark, yang ada hanyalah hidden connection.
-Alam fisik, kematerialannya hilang, habis. Inilah yang mengingatkan kita pada Ibn Arabi bahwa alam semesta/dunia hanyalah bayangan. Apa yang disebut dunia fisik tidaklah nyata. Justru yang nyata adalah kehidupan non-fisik yang manusia tidak dapat ketahui keberadaannya. Yang awal adalah yang imaterial.
-Bergson: materi adalah kondensasi uap yang menguap dari ketel. Maka awalnya adalah dari non materi.
-Prof Mulyadhi awalnya sangat mengagumi pandangan psikologi Sigmund Freud, namun pandangan Freud lama kelamaan terlihat kalau ia berusaha menyingkirkan tuhan.
3. Kritik terhadap Positivisme
-Pandangan ini menyatakan bahwa segalanya harus dapat dibuktikan secara empiris. Menurut Prof Mulyadhi, Kaum Positivistik bilang "Jangan percaya pada apapun yang tidak bisa dibuktikan secara empiris." Namun apakah kata-kata mereka benar-benar empiris? Kan itu cuma ide. Pernyataan mereka sendiri pun tidaklah empiris, lantas kenapa harus dipercaya? Padahal, perkataan suara juga berasal dari makna (gagasan).
-Manusia selalu mengarapkan adanya bentuk fisik. Misalnya, air sering digambarkan berada dalam kendi. Makna dari kendi adalah air, dan inti yang penting adalah air yang ada di dalamnya (tidak terlihat).
-Dalam penelitian ilmiah, selalu ada subjektivitas ilmuwan yang menjadikan ilmu tidak pernah objektif. Ada latar belakang, ada yang membiayai, ada kemungkinan kedzaliman.
Upaya untuk melakukan kritik terhadap sains diperlukan, sebab tantangan sains sekarang jauh lebih besar daripada dahulu. Sains sekuler kini semakin berbahaya. Maka, apa solusinya? Islamisasi ilmu.
4. Islamisasi Ilmu (Islamisasi: usaha untuk mengislamkan ilmu-ilmu sekuler)
Sains modern sebenarnya banyak berasal dari Islam yang selalu berkaitan dengan spiritual, dilakukan oleh ilmuwan muslim dengan tujuan mulia. Karena terbawa ke barat, kemudian segala yang sifatnya nonmateri dihapuskan. Ilmu dianggap harus netral, universal, dan bebas nilai. Inilah yang menyebabkan sulitnya dilakukan islamisasi. Islamisasi mungkin dilakukan, karena dalam sains selalu ada unsur subjektif. Jika memungkinkan untuk dilakukan sekularisasi, maka mungkin pula dilakukan islamisasi.
Pertanyaan:
Perlukah melakukan islamisasi? Bernarkah sains modern berbahaya?
-> Sains modern berbahaya karena sangat bertentangan dengan Islam dan cenderung menolak ketuhanan, maka Islamisasi sangat perlu.
Karena bisa dilakukan netralisasi ilmu oleh barat (iptek dari Islam disesuaikan dengan nilai-nilai sekuler barat), apakah kita mau saja menerima produk sains sekuler? Sebagaimana mereka menghilangkan nilai-nilai Islam dari iptek, maka kita perlu mengislamkan sains barat.
Jangan merasa rendah diri dan khawatir Islamisasi ilmu tidak diakui karena kita punya epistemologi sendiri. Biarkan saja kalau itu dicaci, yang penting bermanfaat untuk umat Islam sendiri.
Beberapa pemikiran barat juga memiliki kritik sains modern, misalnya Humanistik Psikologi, yakni psikologi yang melibatkan psikologi pada hubungan manusia. Ini mengkritik psikologi behavioristik yang berbasis otak dan belum pada kesadaran nonfisik. Sedangkan dalam psikologi Islam, kualitas kesadaran adalah hubungan pada Allah (hal metafisik) dan kualitas tertinggi adalah ketika manusia menyadari hal yg metafisik.
Popper juga melakukan kritik atas metode induksi, yang hanya menerima hal-hal yang dapat dibuktikan kesalahannya. Karena sains barat menggunakan metode yang berusaha menghilangkan hal yang imaterial, maka gunakanlah metode nonfisik yang selaras dengan prinsip Islam: irfani, bayani, dan burhani.
_Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir"._ Manusia boleh memilih kafir atau mukmin. Karena orang barat memilih kafir, maka muncullah sains sekuler. Andai kita memilih beriman namun masih menganut sains sekuler, tentu akan sangat membahayakan umat Islam. Sehingga kita harus menambahkan metode ilmiah baru (yang sesuai dengan pandangan Islam) tanpa meninggalkan keunggulan dan hal positif yang telah ada dalam sains modern.
Impor peradaban Islam oleh peradaban Barat, impor peradaban Yunani oleh peradaban Islam, atau sebaliknya. Ini dinamakan naturalisasi ilmu. Sains dan teknologi Islam pun bisa diambil dari barat, karena pada zaman dulu juga begitu. Ini tidak masalah, sebab sejak masa lampau, teknologi dan sains dari dunia Islam sudah objektif dan bisa dipakai. Lihatlah Ibnu Sina, sangat diakui kehebatannya oleh Barat di bidang kesehatan.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan:
1. Jangan jauh dari sains modern. Kuasai dan tundukkanlah. Kalahkan dunia barat. Al Ghazali: jangan kritik sesuatu yg tidak kita kuasai.
2. Kuasai khasanah Islam. Jangan diabaikan, sebab konsep universitas dan dasar-dasar ilmu pengetahuan sebenarnya diadopsi Barat dari tradisi keilmuan Islam, tetapi muslim sendiri lebih kagum pada khazanah barat daripada khazanahnya sendiri. Biarkan saja kalau belum diakui oleh Barat, karena yang penting diakui dan berguna bagi umat Islam terlebih dahulu.
3. Secara naluriah, manusia itu beragama namun kebanyakan manusia menolaknya. Filsafat barat yang sifatnya sekuler membuat orang menjadi jauh dari agama. Namun apabila yang dipelajari adalah filsafat Islam dan diniatkan untuk menguatkan kemajuan Islam, insya Allah akan membawa berkah.
Kultum Nadia Elasalama
Materi kultum diambil dari pesan-pesan dalam kajian Prof. Mulyadhi Kartanegara. Sebagai seorang akademisi muslim, beliau terpanggil untuk mengkritik pemikiran sais modern—sebuah tanggungjawab moral. Baginya, sangat penting menyadari bahwa dampak dari sekularisasi ilmu sangat besar, karena tanpa disadari, Islam dan ilmu pengetahuan barat memiliki prinsip yang sangat berentangan. Sains sudah seperti agama, menjadikan orang percaya akan kebenarannya dan menggeser keberadaan Tuhan.
Apalagi pelajar-pelajar Islam masih jarang yang melakukan kritik terhadap nabi-nabi pengetahuan. Mereka cenderung hanya mengikuti dan menggunakan teori tersebut sebagai alat untuk memahami fenomena.
1. Kritik terhadap Sekularisme Sains
-Sains selalu berusaha meniadakan Tuhan, karena mengadakan Tuhan dianggap sebagai kebuntuan dalam memperoleh penjelasan ilmiah. Pada masa yunani kuno, para ilmuwan masih bertuhan dengan cara mencari sebab alam semesta. Namun semakin lama, semakin bangak ditemukan metode ilmiah yang bisa menjelaskan segalanya.
-Charles Darwin sebelumnya adalah kristen yang taat. Setelah ia menjadi ilmuwan, ia malah mengharamkan adanya sesuatu di luar realitas yang mempengaruhi proses evolusi.
-Hukum mekanik dianggap kebenaran final, banyak peryataan "Kalau mau sukses pelajari hukum fisika dan hiduplah dengan itu"
-Kritik Einstein terhadap sains: pengamatan ilmiah tidak sepenuhnya objektif, selalu ada campur tangan subjektif manusia. Hukum paling dasar dari sub-atom pun adalah prinsip ketidakpastian. Inilah inti untama yang sebenarnya mengatur. Contoh: Ketika mau meneliti sebuah partikel, ketika dipasang alat maka berubah menjadi gelombang. Maka hasil dari penemuan ilmiah tergantung pada tujuannya.
-Jalaluddin Rumi dulu sudah berupaya memahami bahwa Allah-lah pemilik bengkel sistem kerja alam semesta. Bukan determinisme (hukum sebab-akibat), namun ialah sifat kuasa Allah.
2. Kritik terhadap Materialisme
-menurut pandangan materialisme, yang paling fundamental adalah materi. Semuanya inti utama yang ada di alam semesta berasal dari materi. Padahal, menurut Islam segalanya berasa dari immateri (Tuhan).
-Seorang ilmuwan barat mengkritik materialisme yang mengatakan building block dari alam adalah atom, dan atom adalah materi. Sebenarnya, sebagian besar atom bersifat nonmateri. Atom tidak terdiri dari materi melulu. Kalau kita menolak keberadaan non-fisik, maka konsep atom tidak masuk akal.
-Fyodor Capra, di dalam quark, yang ada hanyalah hidden connection.
-Alam fisik, kematerialannya hilang, habis. Inilah yang mengingatkan kita pada Ibn Arabi bahwa alam semesta/dunia hanyalah bayangan. Apa yang disebut dunia fisik tidaklah nyata. Justru yang nyata adalah kehidupan non-fisik yang manusia tidak dapat ketahui keberadaannya. Yang awal adalah yang imaterial.
-Bergson: materi adalah kondensasi uap yang menguap dari ketel. Maka awalnya adalah dari non materi.
-Prof Mulyadhi awalnya sangat mengagumi pandangan psikologi Sigmund Freud, namun pandangan Freud lama kelamaan terlihat kalau ia berusaha menyingkirkan tuhan.
3. Kritik terhadap Positivisme
-Pandangan ini menyatakan bahwa segalanya harus dapat dibuktikan secara empiris. Menurut Prof Mulyadhi, Kaum Positivistik bilang "Jangan percaya pada apapun yang tidak bisa dibuktikan secara empiris." Namun apakah kata-kata mereka benar-benar empiris? Kan itu cuma ide. Pernyataan mereka sendiri pun tidaklah empiris, lantas kenapa harus dipercaya? Padahal, perkataan suara juga berasal dari makna (gagasan).
-Manusia selalu mengarapkan adanya bentuk fisik. Misalnya, air sering digambarkan berada dalam kendi. Makna dari kendi adalah air, dan inti yang penting adalah air yang ada di dalamnya (tidak terlihat).
-Dalam penelitian ilmiah, selalu ada subjektivitas ilmuwan yang menjadikan ilmu tidak pernah objektif. Ada latar belakang, ada yang membiayai, ada kemungkinan kedzaliman.
Upaya untuk melakukan kritik terhadap sains diperlukan, sebab tantangan sains sekarang jauh lebih besar daripada dahulu. Sains sekuler kini semakin berbahaya. Maka, apa solusinya? Islamisasi ilmu.
4. Islamisasi Ilmu (Islamisasi: usaha untuk mengislamkan ilmu-ilmu sekuler)
Sains modern sebenarnya banyak berasal dari Islam yang selalu berkaitan dengan spiritual, dilakukan oleh ilmuwan muslim dengan tujuan mulia. Karena terbawa ke barat, kemudian segala yang sifatnya nonmateri dihapuskan. Ilmu dianggap harus netral, universal, dan bebas nilai. Inilah yang menyebabkan sulitnya dilakukan islamisasi. Islamisasi mungkin dilakukan, karena dalam sains selalu ada unsur subjektif. Jika memungkinkan untuk dilakukan sekularisasi, maka mungkin pula dilakukan islamisasi.
Pertanyaan:
Perlukah melakukan islamisasi? Bernarkah sains modern berbahaya?
-> Sains modern berbahaya karena sangat bertentangan dengan Islam dan cenderung menolak ketuhanan, maka Islamisasi sangat perlu.
Karena bisa dilakukan netralisasi ilmu oleh barat (iptek dari Islam disesuaikan dengan nilai-nilai sekuler barat), apakah kita mau saja menerima produk sains sekuler? Sebagaimana mereka menghilangkan nilai-nilai Islam dari iptek, maka kita perlu mengislamkan sains barat.
Jangan merasa rendah diri dan khawatir Islamisasi ilmu tidak diakui karena kita punya epistemologi sendiri. Biarkan saja kalau itu dicaci, yang penting bermanfaat untuk umat Islam sendiri.
Beberapa pemikiran barat juga memiliki kritik sains modern, misalnya Humanistik Psikologi, yakni psikologi yang melibatkan psikologi pada hubungan manusia. Ini mengkritik psikologi behavioristik yang berbasis otak dan belum pada kesadaran nonfisik. Sedangkan dalam psikologi Islam, kualitas kesadaran adalah hubungan pada Allah (hal metafisik) dan kualitas tertinggi adalah ketika manusia menyadari hal yg metafisik.
Popper juga melakukan kritik atas metode induksi, yang hanya menerima hal-hal yang dapat dibuktikan kesalahannya. Karena sains barat menggunakan metode yang berusaha menghilangkan hal yang imaterial, maka gunakanlah metode nonfisik yang selaras dengan prinsip Islam: irfani, bayani, dan burhani.
_Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir"._ Manusia boleh memilih kafir atau mukmin. Karena orang barat memilih kafir, maka muncullah sains sekuler. Andai kita memilih beriman namun masih menganut sains sekuler, tentu akan sangat membahayakan umat Islam. Sehingga kita harus menambahkan metode ilmiah baru (yang sesuai dengan pandangan Islam) tanpa meninggalkan keunggulan dan hal positif yang telah ada dalam sains modern.
Impor peradaban Islam oleh peradaban Barat, impor peradaban Yunani oleh peradaban Islam, atau sebaliknya. Ini dinamakan naturalisasi ilmu. Sains dan teknologi Islam pun bisa diambil dari barat, karena pada zaman dulu juga begitu. Ini tidak masalah, sebab sejak masa lampau, teknologi dan sains dari dunia Islam sudah objektif dan bisa dipakai. Lihatlah Ibnu Sina, sangat diakui kehebatannya oleh Barat di bidang kesehatan.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan:
1. Jangan jauh dari sains modern. Kuasai dan tundukkanlah. Kalahkan dunia barat. Al Ghazali: jangan kritik sesuatu yg tidak kita kuasai.
2. Kuasai khasanah Islam. Jangan diabaikan, sebab konsep universitas dan dasar-dasar ilmu pengetahuan sebenarnya diadopsi Barat dari tradisi keilmuan Islam, tetapi muslim sendiri lebih kagum pada khazanah barat daripada khazanahnya sendiri. Biarkan saja kalau belum diakui oleh Barat, karena yang penting diakui dan berguna bagi umat Islam terlebih dahulu.
3. Secara naluriah, manusia itu beragama namun kebanyakan manusia menolaknya. Filsafat barat yang sifatnya sekuler membuat orang menjadi jauh dari agama. Namun apabila yang dipelajari adalah filsafat Islam dan diniatkan untuk menguatkan kemajuan Islam, insya Allah akan membawa berkah.
24 Juni, 2020
Jawaban Nadia kepada Bapak tentang Islam bukan sebagai Idiologi
Bismillah.
Dengan penuh keyakinan dan tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak setuju dengan pendapat Bapak. Barangkali teman-teman di grup ini juga merasakan keresahan yang serupa. Dalam tulisan ini, saya asumsikan pembaca adalah seorang muslim yang sepenuhnya yakin dan bangga bahwa Islam adalah agama yang paling benar dan paling baik, sehingga memudahkan kita untuk memahami melalui perspektif yang sama.
Jika Bapak melarang kami menjadikan Islam sebagai ideologi, di mana batas-batasnya?
1. Tampaknya ada sesat pikir dalam argumen _Islam sebagai agama dan jangan sebagai ideologi_. Saya kira, seseorang yang memeluk/menjadikan Islam sebagai agama, berarti sepenuhnya beriman serta menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya yang tertulis lengkap dalam Alquran dan sunnah. Ia percaya diri akan keislamannya. Tidaklah lagi ia butuh dan haus akan ideologi ciptaan manusia, sebab ia tahu dan yakin bahwa segala nilai positif dari ideologi-ideologi tersebut kalah jauh dengan syariat Islam yang telah mengatur segala aspek kehidupan manusia.
2. Jika seseorang beragama Islam namun menganut ideologi tertentu sebagai ideologi di samping agama Islam, berarti ada dualisme dalam pandangan hidupnya. Ia ragu-ragu akan kebenaran Islam sebagai pedoman hidup, sehingga butuh pandangan yang tampaknya lebih rasional, humanis, dan toleran. Konsekuensinya, akan muncul macam-macam pandangan seperti Islam liberal, Islam feminis, Islam komunis, dll. Padahal, antara keduanya punya kontradiksi yang mendasar. Dualisme seperti ini sering dianggap semu, karena cenderung mustahil untuk mendamaikan keduanya. Si penganut akan condong pada salah satu, sehingga kecenderungan pada yang satunya akan terhapus.
3. Bukankah berislam dan menjadikan ideologi lain sebagai pelengkap/tandingan(?) sama saja dengan menjadikan yang selain Allah sebagai berhala? Jika ditarik lebih jauh, pandangan ini dapat mengantarkan seseorang pada syirik aqidah.
4. Buya Hamka pernah memberikan analogi: bayangkan jika ada seorang anggota partai politik yang menganut ideologi berbeda dari ideologi partainya, tentu ia akan dianggap sebagai ancaman. Jika orang yang demikian semakin bertambah, tentulah partai tersebut bisa hancur sebab telah kehilangan identitasnya. Begitu juga dengan agama Islam. Jika seorang muslim menganut ideologi selain Islam, baginya itu bagus dan bermanfaat bagi umat Islam padahal sesungguhnya itu dapat menghancurkan Islam. Ia tidak sadar, bahwa cara terbaik untuk memperjuangkan agamanya adalah dengan meyakini kebenaran Islam secara total, kemudian mengupayakan seluruh tenaga dan pikiran (ikhtiar-ikhtiar halal duniawi) untuk berdakwah, mengajak orang untuk berbondong-bondong beriman dan berislam.
5. Islam adalah rahmat, maka bersyukurlah! tidak perlu khawatir Islam akan berbahaya dan otoritarian. Jika ada muslim yang otoriter, dzalim, aniaya, maka itu adalah sebab hawa nafsu manusia yang tidak berislam secara lurus. _Al islamu mahjubun bil muslimin (Kemuliaan Islam terhijab oleh umat muslim sendiri)._
6. Tampaknya tidak perlu juga kita mengatakan bahwa _Islam terbuka atas kritik dan boleh disalahkan._ Kritik terhadap Islam, bahkan tanpa perlu dipersilakan masuk, sudah ada sejak zaman Rasul. Kritik, keraguan, hingga perlawanan terhadap Islam merupakan hal niscaya dan memang inilah tantangan kita di dunia. Lantas, sudah seharusnya umat muslim hadir untuk membela Islam (murni), melawan kritik-kritik terhadap Islam, dan mengajak seluruh umat manusia untuk masuk ke dalam agama Islam, agama yang lurus, agama yang jauh lebih sempurna dibanding segala agama/pandangan/ideologi dunia. Karena memang inilah tugas seorang muslim.
Dengan penuh keyakinan dan tanpa mengurangi rasa hormat, saya tidak setuju dengan pendapat Bapak. Barangkali teman-teman di grup ini juga merasakan keresahan yang serupa. Dalam tulisan ini, saya asumsikan pembaca adalah seorang muslim yang sepenuhnya yakin dan bangga bahwa Islam adalah agama yang paling benar dan paling baik, sehingga memudahkan kita untuk memahami melalui perspektif yang sama.
Jika Bapak melarang kami menjadikan Islam sebagai ideologi, di mana batas-batasnya?
1. Tampaknya ada sesat pikir dalam argumen _Islam sebagai agama dan jangan sebagai ideologi_. Saya kira, seseorang yang memeluk/menjadikan Islam sebagai agama, berarti sepenuhnya beriman serta menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya yang tertulis lengkap dalam Alquran dan sunnah. Ia percaya diri akan keislamannya. Tidaklah lagi ia butuh dan haus akan ideologi ciptaan manusia, sebab ia tahu dan yakin bahwa segala nilai positif dari ideologi-ideologi tersebut kalah jauh dengan syariat Islam yang telah mengatur segala aspek kehidupan manusia.
2. Jika seseorang beragama Islam namun menganut ideologi tertentu sebagai ideologi di samping agama Islam, berarti ada dualisme dalam pandangan hidupnya. Ia ragu-ragu akan kebenaran Islam sebagai pedoman hidup, sehingga butuh pandangan yang tampaknya lebih rasional, humanis, dan toleran. Konsekuensinya, akan muncul macam-macam pandangan seperti Islam liberal, Islam feminis, Islam komunis, dll. Padahal, antara keduanya punya kontradiksi yang mendasar. Dualisme seperti ini sering dianggap semu, karena cenderung mustahil untuk mendamaikan keduanya. Si penganut akan condong pada salah satu, sehingga kecenderungan pada yang satunya akan terhapus.
3. Bukankah berislam dan menjadikan ideologi lain sebagai pelengkap/tandingan(?) sama saja dengan menjadikan yang selain Allah sebagai berhala? Jika ditarik lebih jauh, pandangan ini dapat mengantarkan seseorang pada syirik aqidah.
4. Buya Hamka pernah memberikan analogi: bayangkan jika ada seorang anggota partai politik yang menganut ideologi berbeda dari ideologi partainya, tentu ia akan dianggap sebagai ancaman. Jika orang yang demikian semakin bertambah, tentulah partai tersebut bisa hancur sebab telah kehilangan identitasnya. Begitu juga dengan agama Islam. Jika seorang muslim menganut ideologi selain Islam, baginya itu bagus dan bermanfaat bagi umat Islam padahal sesungguhnya itu dapat menghancurkan Islam. Ia tidak sadar, bahwa cara terbaik untuk memperjuangkan agamanya adalah dengan meyakini kebenaran Islam secara total, kemudian mengupayakan seluruh tenaga dan pikiran (ikhtiar-ikhtiar halal duniawi) untuk berdakwah, mengajak orang untuk berbondong-bondong beriman dan berislam.
5. Islam adalah rahmat, maka bersyukurlah! tidak perlu khawatir Islam akan berbahaya dan otoritarian. Jika ada muslim yang otoriter, dzalim, aniaya, maka itu adalah sebab hawa nafsu manusia yang tidak berislam secara lurus. _Al islamu mahjubun bil muslimin (Kemuliaan Islam terhijab oleh umat muslim sendiri)._
6. Tampaknya tidak perlu juga kita mengatakan bahwa _Islam terbuka atas kritik dan boleh disalahkan._ Kritik terhadap Islam, bahkan tanpa perlu dipersilakan masuk, sudah ada sejak zaman Rasul. Kritik, keraguan, hingga perlawanan terhadap Islam merupakan hal niscaya dan memang inilah tantangan kita di dunia. Lantas, sudah seharusnya umat muslim hadir untuk membela Islam (murni), melawan kritik-kritik terhadap Islam, dan mengajak seluruh umat manusia untuk masuk ke dalam agama Islam, agama yang lurus, agama yang jauh lebih sempurna dibanding segala agama/pandangan/ideologi dunia. Karena memang inilah tugas seorang muslim.
22 Juni, 2020
Dibalik Seminar Nasional Wanita Cerdas Penggerak Masyarakat
Pertama kali di hubungi oleh Prof Robandi cukup kaget juga. Tepatnya 6 Juni 2020.pesan nya tidak spesifik.
Begini Obrolan nya
[8/6 06.27] Imam robandi: Mbak Navi mengisi acara tanggal 20 Juni ya..?
[8/6 08.23] Navi Agustina: Maaf acara apa Prof?🙏😁
[8/6 08.24] Imam robandi: NATIONAL SYMPOSIUM FOR EMPOWERING
[8/6 08.28] Imam robandi: Okey ya...?
[8/6 08.30] Navi Agustina: Mengisi hiburan ya? Maaf tadi lagi ke belekang Prof😁
[8/6 08.31] Imam robandi: Materi, 8 menit..
[8/6 08.31] Navi Agustina: Insyaalllah Prof, Bismillah
Sejak saat itu sampai tanggal 20 Juni rasanya deg degan, gak karuan , makan tak enak , tidurpun tak nyenyak...hahaha
Meski sudah sering mengisi dan pidato di muka umum, entah kenapa, acara seminar yg berlabel "nasional" bikin saya panas dingin.
Apalagi dengan pembicara pembicara hebat seantero nusantara.
Ditambah lagi flayer nya ditulis "Wanita Cerdas Penggerak Masyarakat"
Tambah deh, antara bingung dan gak percaya, karena saya merasa gak cerdas, cuman lulusan s1, gak kayak Profesor, nulis aja jarang, saya hanya bisa berbuat sesuai kemampuan saya. seperti wanita wanita penggerak lain nya diluar sana yang tidak sempat diberi jatah bicara.
Wanita Cerdas, kesan yang muncul di benak saya Habibie, Einstein, dll.
Cerdas, kata Nabi adalah orang yang senantiasa memperhitungkan dirinya dan mepersiapkan bekal untuk akheratnya.
Nah..tepat sekali Nabi kita menjelaskan kata cerdas.
Salah satu hal yang membuat saya dan ribuan wanita pengegrak diluar sana bergerak di masyarakat adalah hanya dengan niat amal sholeh sebagai bekal di akherat nanti. itu aja gak lain.
Dalam surat an nahl 97 Allah berfirman, siapa beramal sholeh baik laki laki atau perempuan dan dalam keadaan beriman Allah akan memberi kehidupan yg baik dan memberi balasan yg lebih baik dari apa yg mereka kerjakan.
Dukungan Keluarga
Ini yang
utama, Suami dan anak anak luarbiasa dalam mendukung saya agar presentasi saya sukses.
Bicara dibatasi hanya 8 menit.Tahu sendiri kan, wanita kalo sudah diberi mic sering tidak bisa mengendalikan diri.
Benarlah kata Penelitian wanita bicara 20.000 kata, laki laki cukup 7000 kata
Alhamdulillah, lap top Jasmina aku pake, dan dia juga yg buat design nya.Dibanding yang lain tulisan saya paling super irit.
Judul sempat dikoreksi Profesor agarbkebih fokus.
Hari jumat sore, H-1 ada kegitan gladi kinclong, Dari jam 3 sire udah ready meski tampilnya menjelang maghrib. Hahaha
Hari H
Selepas Dhuha aku langsung memakai baju rapi layaknya mau ke kantor Aisyiyah.
Aku pilih baju batik majlis kader.
Yah karena aku wakil ketua yg membidangi majlis kader.Aku oleskan bedak dan lipstik secukupnya.
Acara demi acara dipandu oleh MC Mba Arum, dari Pembukaan, Pembacaan ayat suci alquran , mars Aisyiyah dan pidato profesor, sampai saatnya satu persatu wanita penggerak masyarakat berbicara.
Aku pun berbicara dengan berapi api...sampe sempat disemprit oleh sang moderator cantik mba nanik, kurang satu menit bu Navi....oke... aku akhiri dengan husnul khatimah🙏
*Wanita Terbaik*
Dalam Surat Attahrim 11-12 Allah memberi _perumpamaan_ wanita terbaik yg bisa menjadi teladan bagi orang orang beriman, yaitu Asiyah istri Fir'aun dan Maryam ibunda Nabi Isa as sbb
_Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika istri Fir’aun berkata: “Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim.” (Perumpamaan yang lain bagi orang-orang beriman adalah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (At-Tahrim: 11-12)_
Asiyah adalah istri Fir'aun, tapi tetap teguh menjaga keimanan nya pada Allah.Dia tidak terpengaruh dengan kekafiran Fir'aun suami nya sendiri.
Karena keteguhan iman nya, dia rela dihukum dan ketika menjalani hukuman, Asiyah berdoa : _"Ya Allah bangunkan aku sebuah rumah di surga"_
Bagi para wanita muslimah yang kurang beruntung, atau memiliki suami yang yang berakhlak buruk penting kiranya meneladani kisah Asiyah . Agar, kondisi demikian tidak membuatnya lemah, dan semakin jauh dari agama, akan tetapi sebaliknya, Ia malah lebih menjadi kokoh dan teguh pendirian.
Maryam, adalah Ibunda Nabi Isa as, Maryam disebut dalam Al quran sebagai wanita yang menjaga kehormatannya, dan taat beribadah.Maryam lebih suka berdiam diri mendekatkan diri pada Allah dibanding perempuan lain di masanya.
_Siapa wanita terbaik lainnya?_
Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam dalam sebuah hadits dari Imam Ahmad, menceritakan bahwa, Nabi membuat suatu garis di tanah sebanyak empat garis, lalu bertanya, "Tahukah kalian apakah ini?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: (ini menggambarkan)wanita-wanita ahli surga yang paling utama.(yaitu) Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim bekas istri Fir’aun.
Dari hadits diatas disebutkan wanita terbaik lainnya adalah Khadijah dan Fatimah
Khadijah adalah wanita pertama yg beriman pada Nabi, sekaligus dengan suka cita mendukung perjuangan suaminya memberikan harta dan jiwanya untuk perjuangan dakwah Nabi.
Fatimah, adalah putri Nabi, dikisahkan Fatimah adalah wanita yg taat beribadah dan suka bersedekah, meski Putri seorang Nabi, hidupnya sangatlah sederhana.
_Bagaimana dengan Aisyah?_
Dalam Hadits berikut Nabi bersabda
"كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيلد، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيد عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ"
Banyak dari kaum lelaki yang mencapai kesempurnaan, tetapi tiada yang mencapai kesempurnaan dari kaum wanita selain Asiah binti Muzahim bekas istri Fir’aun, Maryam binti Imran, dan Khadijah binti Khuwalid. Dan sesungguhnya _keutamaan Aisyah_ di atas kaum wanita sama dengan keutamaan makanan Sarid di atas makanan lainnya.
Aisyah
Aisyah juga seorang wanita terbaik yg bisa menjadi teladan bagi kaum wanita muslim
Keunggulan Aisyah selain cerdas, menguasai ilmu kedokteran, syair dan fiqih juga banyak meriwayatkan hadits, Aisyah juga sederhana dan banyak bersedekah.
Apa makna Allah memberi perumpamaan diatas?
Allah hendak menyampaikan kepada hamba hamba nya yg percaya, bahwa jika ingin mencontoh wanita terbaik, bukan dilihat dari kecantikan fisik atau dari harta, lihatlah dari segi _keimanan dan ketaqwaan_ nya kepada Allah.Wanita terbaik dalam pandangan Allah adalah wanita yg bisa menjaga kehormatannya, taat beribadah, memiliki hubungan yg baik dengan Allah ,d sabar, dan banyak
beramal sholeh untuk mencari keridhoan Allah semata.
Kultum 22 Juni 2020
Wallahu a'lam bishawab
Dalam Surat Attahrim 11-12 Allah memberi _perumpamaan_ wanita terbaik yg bisa menjadi teladan bagi orang orang beriman, yaitu Asiyah istri Fir'aun dan Maryam ibunda Nabi Isa as sbb
_Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika istri Fir’aun berkata: “Wahai Rabbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim.” (Perumpamaan yang lain bagi orang-orang beriman adalah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat. (At-Tahrim: 11-12)_
Asiyah adalah istri Fir'aun, tapi tetap teguh menjaga keimanan nya pada Allah.Dia tidak terpengaruh dengan kekafiran Fir'aun suami nya sendiri.
Karena keteguhan iman nya, dia rela dihukum dan ketika menjalani hukuman, Asiyah berdoa : _"Ya Allah bangunkan aku sebuah rumah di surga"_
Bagi para wanita muslimah yang kurang beruntung, atau memiliki suami yang yang berakhlak buruk penting kiranya meneladani kisah Asiyah . Agar, kondisi demikian tidak membuatnya lemah, dan semakin jauh dari agama, akan tetapi sebaliknya, Ia malah lebih menjadi kokoh dan teguh pendirian.
Maryam, adalah Ibunda Nabi Isa as, Maryam disebut dalam Al quran sebagai wanita yang menjaga kehormatannya, dan taat beribadah.Maryam lebih suka berdiam diri mendekatkan diri pada Allah dibanding perempuan lain di masanya.
_Siapa wanita terbaik lainnya?_
Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam dalam sebuah hadits dari Imam Ahmad, menceritakan bahwa, Nabi membuat suatu garis di tanah sebanyak empat garis, lalu bertanya, "Tahukah kalian apakah ini?" Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: (ini menggambarkan)wanita-wanita ahli surga yang paling utama.(yaitu) Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim bekas istri Fir’aun.
Dari hadits diatas disebutkan wanita terbaik lainnya adalah Khadijah dan Fatimah
Khadijah adalah wanita pertama yg beriman pada Nabi, sekaligus dengan suka cita mendukung perjuangan suaminya memberikan harta dan jiwanya untuk perjuangan dakwah Nabi.
Fatimah, adalah putri Nabi, dikisahkan Fatimah adalah wanita yg taat beribadah dan suka bersedekah, meski Putri seorang Nabi, hidupnya sangatlah sederhana.
_Bagaimana dengan Aisyah?_
Dalam Hadits berikut Nabi bersabda
"كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيلد، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيد عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ"
Banyak dari kaum lelaki yang mencapai kesempurnaan, tetapi tiada yang mencapai kesempurnaan dari kaum wanita selain Asiah binti Muzahim bekas istri Fir’aun, Maryam binti Imran, dan Khadijah binti Khuwalid. Dan sesungguhnya _keutamaan Aisyah_ di atas kaum wanita sama dengan keutamaan makanan Sarid di atas makanan lainnya.
Aisyah
Aisyah juga seorang wanita terbaik yg bisa menjadi teladan bagi kaum wanita muslim
Keunggulan Aisyah selain cerdas, menguasai ilmu kedokteran, syair dan fiqih juga banyak meriwayatkan hadits, Aisyah juga sederhana dan banyak bersedekah.
Apa makna Allah memberi perumpamaan diatas?
Allah hendak menyampaikan kepada hamba hamba nya yg percaya, bahwa jika ingin mencontoh wanita terbaik, bukan dilihat dari kecantikan fisik atau dari harta, lihatlah dari segi _keimanan dan ketaqwaan_ nya kepada Allah.Wanita terbaik dalam pandangan Allah adalah wanita yg bisa menjaga kehormatannya, taat beribadah, memiliki hubungan yg baik dengan Allah ,d sabar, dan banyak
beramal sholeh untuk mencari keridhoan Allah semata.
Kultum 22 Juni 2020
Wallahu a'lam bishawab
20 Juni, 2020
*Cara Allah Menghidupkan Hati yang Mati*
Kultum oleh Nadia Hisyam
_Mulailah memperbaiki kualitas diri dengan memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan Alquran, karena dari situ, kita dapat menjadi pribadi yang baik, yang mampu menebar kebaikan bagi umat manusia._
QS Fusshilat: 39
_Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu._
♦️ Ayat tersebut sebagai penjelas (fusshilat) kepada orang-orang yang belum meyakini bahwa Allah dapat menghidupkan kembali nyawa yang telah mati dan manusia kelak akan dibangkitkan kembali.
Contoh: Allah berkuasa menyuburkan kembali tanaman-tanaman pada musim panas, yang sebelumnya mati pada musim dingin.
♦️ Allah menjelaskan tentang orang-orang yang tidak mau beriman, tidak mendapatkan nur, hatinya telah mati dan mereka menghadapi pertanggungjawaban di hadapan Allah. Mulut, pendengaran, penglihatan, dan hati mereka bersaksi langsung kepada Allah tentang segala kesia-siaan yang mereka perbuat.
Allah juga mendeskripsikan tentang kondisi orang-orang yang beriman di hari kiamat, yang sangat bercahaya dan percaya diri terhadap apa yang telah diperbuat selama di dunia, segala yang telah diperjuangkan demi beribadah dan membela agama Allah.
♦️ Sebagaimana nyawa yang dapat dihidupnya dengan kuasa-Nya, tanah dan tanaman yang mengering dan subur kembali, begitu pula segala bagian tubuh manusia akan dihidupkan dan bersaksi atas apa yang diperbuat oleh pemiliknya selama ia hidup.
QS Al Kahfi: 45
_Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu._
♦️ Hati manusia seperti tanah yang disirami oleh hujan. Hujan dari Allah untuk tanah yang kering, sebagaimana ayat-ayat Alquran untuk hati manusia supaya hati itu hidup, baik, bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.
♦️ Hati yang disirami dengan Alquran hanya setahun sekali (saat ramadhan), sebulan sekali, atau kadang-kadang saja, tentu akan berbeda kualitasnya dengan hati yang selalu rutin diisi dengan Alquran. Maka, hidupkanlah hati dengan Alquran setiap saat.
♦️ Mari berdoa supaya hati kita selalu subur, terisi penuh oleh firman-firman Allah, ilmu, dan petunjuk untuk selalu beribadah dan berada di jalan-Nya.
_"Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)._
16 Juni, 2020
PENDIDKAN NALAR DAN KARAKTER
Kultum Subuh oleh Abduh Hisyam
Ahad, 15/06/2020
Saya beranggapan bahwa ke(tidak)tertiban masyarakat dalam kehdiupan sehari-hari terkait dengan pendidikan yang ia dapatkan di masa kanak-kanak. Jika seseorang dididik berdisiplin sejak kecil, di masa dewasa ia akan menjadi seorang yang sangat berdisiplin. Hasil dari sebuah pendidikan tidak dapat dilihat dalam jangka waktu setahun atau sepuluh tahun. Hasil pendidikan seseorang konon akan tampak setelah empatpuluh tahun. Keadaan orang-orang dewasa saat ini dibentuk oleh pendidikan yang mereka terima, yaitu saat mereka di sekolah.
Bupati Kebumen mendeklarasikan new normal, dan mengumumkan bahwa Kebumen telah zero covid-19. Bupati dan ketua DPRD mengajak beberapa orang pejabat pemkab secara demonstratif mencukur gundul kepala mereka. Masyarakat memandang bahwa Kebumen telah bebas dari pandemic sehingga mereka keluar rumah tanpa memperhatiakn protokol kesehatan. Tempat-tempat wisata dibuka, demikian pula tempat-tempat ibadah. Warga membludak di tempat-tempat wisata. Dua hari kemudian, kasus paparan virus kembali meningkat.
Masyarakat yang sadar kesehatan tentu bertanya-tanya, apa alasan sang bupati sehingga ia berani mengatakan bahwa Kebumen telah terbebas dari pandemic covid-19, padahal virus masih tersebar dan tidak ada jaminan tidak menulari warga. Sebuah keputusan yang diambil tanpa landasan ilmiah. Secara akal sehat diketahui bahwa virus corona tidak akan hilang, apalagi saat vaksin penangkalnya belum ditemukan. Keputusan bahwa Kebumen bebas covid-19 diambil berdasarkan nalar ataukah nafsu belaka? Jangan-jangan para pejabat kabupaten ini tidak punya nalar.
Tanpa pernyataan bahwa Kebumen zero-covid-19 pun, masyarakat sangat abai terhadap protokol kesehatan. Mereka tidak peduli dengan physical distancing, dan sama sekali tidak mengenakan alat pelindung diri (APD). Saat melihat seorang pekerja di pabriknya tidak mengenakan masker, ibu saya bertanya kepada sang pekerja, dan dijawab dengan enteng bahwa virus corona sudah hilang. Persepsi bahwa virus telah hilang di Kebumen ini banyak dipegang warga. Akibatnya sia-sia segala upaya yang telah dilakukan selama tiga bulan. Pandemi bukan semakin reda namun semakin marak.
Sebagai pengamat pendidikan dan masyarakat, saya melihat bahwa kejadian di Kebumen adalah cermin dari pendidikan di sekolah-sekolah selama ini. Sekolah belum mampu membuat masyarakat bernalar. Saya teringat hasil PISA yang dicapai para pelajar Indonesia tahun 2018. Dari 76 negara yang diteliti, nilai para pelajar Indonesia adalah di peringkat 66. Para pelajar kita menempati sepuluh besar paling jeblok. Nilai-nilai mereka jeblok di bidang membaca (371), matematika (379), dan sains (396).
Matematika adalah pelajaran untuk melatih para siswa bernalar. Jika nilai matematika rendah, berarti kemampuan mereka dalam bernalar rendah pula. Itu tercermin dalam tindakan
pejabat pemerintahan. Mereka bekerja tanpa nalar. Padahal bernalar adalah perintah alquran:
أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
Apakah kamu tidak berfikir (Alan’am/6: 50)
أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
Apakah kamu tidak bernalar (Albaqarah/2:44)
Sains adalah pelajaran untuk melatih para siswa mengamati fenomena alam. Para siswa dilatih agar senantiasa menggunakan data empiris dalam memutuskan sesuatu. Jika seseorang tidak terbiasa memperhatikan data-data ilmiah maka keputusan yang ia ambil akan keliru, termasuk memutuskan Kebumen bebas covid-19. Sebuah keputusan tanpa dasar ilmiah sama sekali.
Memperhatikan fenomena alam adalah kewajiban agama, sebagaimana disebut dalam alquran:
أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلۡإِبِلِ كَيۡفَ خُلِقَتۡ ١٧
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan (Alghasyiyah/88:17)
وَإِلَى ٱلسَّمَآءِ كَيۡفَ رُفِعَتۡ ١٨
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan (Aghasyiyah/88:18)
وَإِلَى ٱلۡجِبَالِ كَيۡفَ نُصِبَتۡ ١٩
Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan (Alghasyiyah/88:19)
Slogan Kebumen adalah Beriman: bersih, indah, aman. Beriman berarti mendasari segala tindakan atas nilai-nilai agama: adil, ihsan, menggunakan nalar.
Kita melihat masyarakat di masa pandemi ini banyak tidak mengikuti protokol kesehatan. Mereka tidak mengenakan masker, berkerumun dan saling berjabat tangan, seoalah mereka steril dari virus. Saya melihat ketidaktertiban ini adalah hasil dari pendidikan di negeri ini yang tidak pernah mengajari para siswa untuk bersikap tertib. Di jalanan tidak tertib, juga di rumah dan di sekolah.
Penanaman agar para siswa tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan, dan berperilaku sopan adalah hal-hal yang berperan penting dalam kehidupan. Namun saya khawatir itu semua tidak pernah ditanamkan oleh para guru kepada anak-anak didiknya. Jika kini terjadi polusi di sungai, laut, dan udara, itu karena di sekolah tidak pernah ada pendidikan membuang sampah pada tempatnya.
Pembentukan karakter dan budi pekerti luhur mesti dimulai sejak dini. Jika sudah jadi pejabat, sudah terlambat.
Kultum Subuh oleh Abduh Hisyam
Ahad, 15/06/2020
Saya beranggapan bahwa ke(tidak)tertiban masyarakat dalam kehdiupan sehari-hari terkait dengan pendidikan yang ia dapatkan di masa kanak-kanak. Jika seseorang dididik berdisiplin sejak kecil, di masa dewasa ia akan menjadi seorang yang sangat berdisiplin. Hasil dari sebuah pendidikan tidak dapat dilihat dalam jangka waktu setahun atau sepuluh tahun. Hasil pendidikan seseorang konon akan tampak setelah empatpuluh tahun. Keadaan orang-orang dewasa saat ini dibentuk oleh pendidikan yang mereka terima, yaitu saat mereka di sekolah.
Bupati Kebumen mendeklarasikan new normal, dan mengumumkan bahwa Kebumen telah zero covid-19. Bupati dan ketua DPRD mengajak beberapa orang pejabat pemkab secara demonstratif mencukur gundul kepala mereka. Masyarakat memandang bahwa Kebumen telah bebas dari pandemic sehingga mereka keluar rumah tanpa memperhatiakn protokol kesehatan. Tempat-tempat wisata dibuka, demikian pula tempat-tempat ibadah. Warga membludak di tempat-tempat wisata. Dua hari kemudian, kasus paparan virus kembali meningkat.
Masyarakat yang sadar kesehatan tentu bertanya-tanya, apa alasan sang bupati sehingga ia berani mengatakan bahwa Kebumen telah terbebas dari pandemic covid-19, padahal virus masih tersebar dan tidak ada jaminan tidak menulari warga. Sebuah keputusan yang diambil tanpa landasan ilmiah. Secara akal sehat diketahui bahwa virus corona tidak akan hilang, apalagi saat vaksin penangkalnya belum ditemukan. Keputusan bahwa Kebumen bebas covid-19 diambil berdasarkan nalar ataukah nafsu belaka? Jangan-jangan para pejabat kabupaten ini tidak punya nalar.
Tanpa pernyataan bahwa Kebumen zero-covid-19 pun, masyarakat sangat abai terhadap protokol kesehatan. Mereka tidak peduli dengan physical distancing, dan sama sekali tidak mengenakan alat pelindung diri (APD). Saat melihat seorang pekerja di pabriknya tidak mengenakan masker, ibu saya bertanya kepada sang pekerja, dan dijawab dengan enteng bahwa virus corona sudah hilang. Persepsi bahwa virus telah hilang di Kebumen ini banyak dipegang warga. Akibatnya sia-sia segala upaya yang telah dilakukan selama tiga bulan. Pandemi bukan semakin reda namun semakin marak.
Sebagai pengamat pendidikan dan masyarakat, saya melihat bahwa kejadian di Kebumen adalah cermin dari pendidikan di sekolah-sekolah selama ini. Sekolah belum mampu membuat masyarakat bernalar. Saya teringat hasil PISA yang dicapai para pelajar Indonesia tahun 2018. Dari 76 negara yang diteliti, nilai para pelajar Indonesia adalah di peringkat 66. Para pelajar kita menempati sepuluh besar paling jeblok. Nilai-nilai mereka jeblok di bidang membaca (371), matematika (379), dan sains (396).
Matematika adalah pelajaran untuk melatih para siswa bernalar. Jika nilai matematika rendah, berarti kemampuan mereka dalam bernalar rendah pula. Itu tercermin dalam tindakan
pejabat pemerintahan. Mereka bekerja tanpa nalar. Padahal bernalar adalah perintah alquran:
أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
Apakah kamu tidak berfikir (Alan’am/6: 50)
أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
Apakah kamu tidak bernalar (Albaqarah/2:44)
Sains adalah pelajaran untuk melatih para siswa mengamati fenomena alam. Para siswa dilatih agar senantiasa menggunakan data empiris dalam memutuskan sesuatu. Jika seseorang tidak terbiasa memperhatikan data-data ilmiah maka keputusan yang ia ambil akan keliru, termasuk memutuskan Kebumen bebas covid-19. Sebuah keputusan tanpa dasar ilmiah sama sekali.
Memperhatikan fenomena alam adalah kewajiban agama, sebagaimana disebut dalam alquran:
أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى ٱلۡإِبِلِ كَيۡفَ خُلِقَتۡ ١٧
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan (Alghasyiyah/88:17)
وَإِلَى ٱلسَّمَآءِ كَيۡفَ رُفِعَتۡ ١٨
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan (Aghasyiyah/88:18)
وَإِلَى ٱلۡجِبَالِ كَيۡفَ نُصِبَتۡ ١٩
Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan (Alghasyiyah/88:19)
Slogan Kebumen adalah Beriman: bersih, indah, aman. Beriman berarti mendasari segala tindakan atas nilai-nilai agama: adil, ihsan, menggunakan nalar.
Kita melihat masyarakat di masa pandemi ini banyak tidak mengikuti protokol kesehatan. Mereka tidak mengenakan masker, berkerumun dan saling berjabat tangan, seoalah mereka steril dari virus. Saya melihat ketidaktertiban ini adalah hasil dari pendidikan di negeri ini yang tidak pernah mengajari para siswa untuk bersikap tertib. Di jalanan tidak tertib, juga di rumah dan di sekolah.
Penanaman agar para siswa tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan, dan berperilaku sopan adalah hal-hal yang berperan penting dalam kehidupan. Namun saya khawatir itu semua tidak pernah ditanamkan oleh para guru kepada anak-anak didiknya. Jika kini terjadi polusi di sungai, laut, dan udara, itu karena di sekolah tidak pernah ada pendidikan membuang sampah pada tempatnya.
Pembentukan karakter dan budi pekerti luhur mesti dimulai sejak dini. Jika sudah jadi pejabat, sudah terlambat.
12 Juni, 2020
Kultum Subuh
12/6/2020
Navi Agustina
*Keutamaan Sifat Tawadhu*
Allah SWT berfirman, *Dan berendah hati lah (tawadhu) kamu terhadap orang-orang yang beriman,"*
(QS 15: 88).
Dalam Ihya' Ulumuddin, diriwayatkan bahwa suatu ketika Yunus bin 'Ubaid, Ayyub As-Sakhtiani dan al-Hasan al- Basri mendiskusikan arti tawadhu.
Hasan berkata, "Tahukah kamu apa itu tawadhu? Tawadhu ialah saat kamu keluar dari rumah dan menjumpai seorang Muslim lalu kamu melihat bahwa orang tersebut memiliki kelebihan daripada dirimu sendiri."
Manfaat Sifat Tawadhu
1. Mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.
2. Menjadikan adil, disayangi orang2 di bumi
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ /rendah hati , melainkan Allah akan meninggikannya.”
(HR. Muslim no. 2588).
Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat.
Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia.
Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 142)
Tawadhu’ juga merupakan akhlak mulia dari para nabi.
Nabi Musa ‘ membantu memberi minum pada hewan ternak dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta.
Sifat tawadhu’ Nabi Isa ditunjukkan dalam perkataannya dalam Al quran
وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا
“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”
(QS. Maryam: 32).
Lihatlah sifat mulia para nabi tersebut. Karena sifat tawadhu’, mereka menjadi mulia di _dunia dan di akhirat_
Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi kita. Beliau pernah bersabda,
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.”
(HR. Muslim no. 2865).
Nabi Muhammad.saw sendiri suka memberi salam pada anak anak kecil juga kepada para hamba sahaya, dan menyapa mereka.
Nabi Muhammad juga tidak sungkan untuk membantu pekerjaan istrinya, memperbaiki sepatu, manjahit ,.mengangkut air dll.
Pernah seorang sahabat ketika shalat dan membaca samiallahu liman hamidah rabbana wa lakal hamdu si sahabat berdoa hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiihi
Lalu Nabi menyanpaikan kan bahwa ketika dia berdoa dg lafal tersebut para Malaikat mengerumuninya.
Disini Nabi menyampaikan kebenaran meski itu datang dari orang yg ilmunya di bawah Nabi. itulah sifat Tawadhu
Para Nabi adalah orang orang yang dekat dengan orang miskin.
Ketika Raja Heraklius menanyakan kepada Abu Sufyan bagaimana sifat Nabi, Abu Sufyan menjawab, Nabi menyuruh shalat lima waktu, membayar zakat, silaturahmi dan Nabi dekat dengan orang miskin.
Begitu mendengar jawaban Abu Sufyan Heraklius menjawab...
Berarti memang Muhammad adalah sorang Nabi.
Lawan sifat tawadhu adalah sombong.
Sombong adalah tidak mau menerima kebenaran dan meremehkan manusia.
Firaun, Namrud , Qarun, adalah orang orang yg sombong karena _menolak kebenaran dan meremehkan manusia_ .Mereka meremehkan peringatan para Nabi, bahkan para Nabi dimusuhi.
Nasehat bagus dari beliau Sufyan bin ‘Uyainah yang mengatakan
_“Siapa yang maksiatnya karena syahwat_ maka taubat akan membebaskan dirinya.
Buktinya saja Nabi Adam ‘alaihis salam bermaksiat karena nafsu syahwatnya, lalu ia bersitighfar (memohon ampun pada Allah), Allah pun akhirnya mengampuninya.
Namun, jika siapa yang _maksiatnya karena sifat sombong_
(lawan dari tawadhu’), khawatirlah karena laknat Allah akan menimpanya.
Ingatlah bahwa Iblis itu bermaksiat karena sombong (takabbur), lantas Allah pun melaknatnya.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
*Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu. (HR. Muslim)*
Kultum 12/6/2020
Sumber : Kitab Riyadushalihin
Republika
Muslim or id
12/6/2020
Navi Agustina
*Keutamaan Sifat Tawadhu*
Allah SWT berfirman, *Dan berendah hati lah (tawadhu) kamu terhadap orang-orang yang beriman,"*
(QS 15: 88).
Dalam Ihya' Ulumuddin, diriwayatkan bahwa suatu ketika Yunus bin 'Ubaid, Ayyub As-Sakhtiani dan al-Hasan al- Basri mendiskusikan arti tawadhu.
Hasan berkata, "Tahukah kamu apa itu tawadhu? Tawadhu ialah saat kamu keluar dari rumah dan menjumpai seorang Muslim lalu kamu melihat bahwa orang tersebut memiliki kelebihan daripada dirimu sendiri."
Manfaat Sifat Tawadhu
1. Mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.
2. Menjadikan adil, disayangi orang2 di bumi
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ /rendah hati , melainkan Allah akan meninggikannya.”
(HR. Muslim no. 2588).
Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat.
Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia.
Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16: 142)
Tawadhu’ juga merupakan akhlak mulia dari para nabi.
Nabi Musa ‘ membantu memberi minum pada hewan ternak dalam rangka menolong dua orang wanita yang ayahnya sudah tua renta.
Sifat tawadhu’ Nabi Isa ditunjukkan dalam perkataannya dalam Al quran
وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا
“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”
(QS. Maryam: 32).
Lihatlah sifat mulia para nabi tersebut. Karena sifat tawadhu’, mereka menjadi mulia di _dunia dan di akhirat_
Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi kita. Beliau pernah bersabda,
وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ
“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.”
(HR. Muslim no. 2865).
Nabi Muhammad.saw sendiri suka memberi salam pada anak anak kecil juga kepada para hamba sahaya, dan menyapa mereka.
Nabi Muhammad juga tidak sungkan untuk membantu pekerjaan istrinya, memperbaiki sepatu, manjahit ,.mengangkut air dll.
Pernah seorang sahabat ketika shalat dan membaca samiallahu liman hamidah rabbana wa lakal hamdu si sahabat berdoa hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiihi
Lalu Nabi menyanpaikan kan bahwa ketika dia berdoa dg lafal tersebut para Malaikat mengerumuninya.
Disini Nabi menyampaikan kebenaran meski itu datang dari orang yg ilmunya di bawah Nabi. itulah sifat Tawadhu
Para Nabi adalah orang orang yang dekat dengan orang miskin.
Ketika Raja Heraklius menanyakan kepada Abu Sufyan bagaimana sifat Nabi, Abu Sufyan menjawab, Nabi menyuruh shalat lima waktu, membayar zakat, silaturahmi dan Nabi dekat dengan orang miskin.
Begitu mendengar jawaban Abu Sufyan Heraklius menjawab...
Berarti memang Muhammad adalah sorang Nabi.
Lawan sifat tawadhu adalah sombong.
Sombong adalah tidak mau menerima kebenaran dan meremehkan manusia.
Firaun, Namrud , Qarun, adalah orang orang yg sombong karena _menolak kebenaran dan meremehkan manusia_ .Mereka meremehkan peringatan para Nabi, bahkan para Nabi dimusuhi.
Nasehat bagus dari beliau Sufyan bin ‘Uyainah yang mengatakan
_“Siapa yang maksiatnya karena syahwat_ maka taubat akan membebaskan dirinya.
Buktinya saja Nabi Adam ‘alaihis salam bermaksiat karena nafsu syahwatnya, lalu ia bersitighfar (memohon ampun pada Allah), Allah pun akhirnya mengampuninya.
Namun, jika siapa yang _maksiatnya karena sifat sombong_
(lawan dari tawadhu’), khawatirlah karena laknat Allah akan menimpanya.
Ingatlah bahwa Iblis itu bermaksiat karena sombong (takabbur), lantas Allah pun melaknatnya.”
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
*Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu. (HR. Muslim)*
Kultum 12/6/2020
Sumber : Kitab Riyadushalihin
Republika
Muslim or id
*Do Not Let Me To Myself*
Kultum Oleh Nadia Hisyam
Nasihat seorang ayah (manusia terbaik: Rasulullah) kepada putrinya (perempuan pemuka surga: Fatimah), untuk membaca sebuah doa tiap pagi dan petang, yaitu:
_Ya hayyu ya qayyum birahmatika astaghistu aslihli sya'ni kullahu wala taqilni ila nafsi tharfata 'ain_
1. Sebutan yang komprehensif
_Ya hayyu_: wahai Rabb Yang Maha Hidup
-Allah adalah sumber kehidupan yang selalu hidup (yang mengawali, mengakhiri, dan membangkitkan)
_Ya qayyum_: wahai Rabb yang berdiri sendiri, tidak butuh segala sesuatu
•Allah bukan hanya menghidupkan, tapi juga mengontrol dan memelihara setiap saat. Semua rezeki makhluk diatur oleh Allah.
•_Ya hayyu ya qayyum_ ada di ayat kursi dan surat thaha. Jika berdoa dengan menyebut nama tersebut akan langsung diijabah (diriwayatkan oleh Anas)
2. Kekuasaan yang komprehensif
_Bi rahmatika astaghistu_: dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan
•Rahmat Allah meliputi segala sesuatu (surga, ampunan, dan pertolongan dunia & akhirat).
3. Permohonan yang komprehensif
_Aslihli sya'ni kullahu_: perbaiki semua urusanku
•Kita meminta agar semua urusan kita diperbaiki baik itu agama, dunia, dan akhirat.
4. Tenang dan menerima
_Wala taqilni ila nafsi tharfata 'ain_: dan jangan serahkan kepadaku sekalipun sekejap mata
•Kenapa kita serahkan semua pada Allah? Karena ada hal di luar kuasa kita yang kita tidak mampu atur. Urusan mengedipkan mata setiap detik, detak jantung, tarikan nafas, aliran darah, seluruhnya sama sekali di luar kendali kita dan kita tidak bisa mengaturnya sendiri. Apalagi hal-hal yang di luar kendali. Maka kita tenang dan yakin bahwa Allah, yang Maha Bijaksana, tahu yang terbaik untuk kita karena ilmu kita tidak ada apa-apanya. Percaya bahwa Allah punya ketetapan terbaik, lebih sempurna dibanding apa yang kita anggap baik. Maka yang harus kita lakukan adalah memaksimalkan/berikhtiar pada hal-hal yang bisa kita kontrol.
•Taat dan menerima dengan melaksanakan yang bisa kita kontrol, adalah bentuk ibadah juga. Pondasi tawakkal menurut Hatim Al Assam:
1. rezeki tidak mungkin tertukar, maka aku merasa aman
2. amalan kita tidak mungkin dilakukan orang lain, maka aku harus sibuk mengerjakannya
3. kematian yang datang tiba-tiba mengharuskan aku harus bersegera beribadah
4. Allah selalu mengawasi, maka aku selalu merasa malu.
Kultum Oleh Nadia Hisyam
Nasihat seorang ayah (manusia terbaik: Rasulullah) kepada putrinya (perempuan pemuka surga: Fatimah), untuk membaca sebuah doa tiap pagi dan petang, yaitu:
_Ya hayyu ya qayyum birahmatika astaghistu aslihli sya'ni kullahu wala taqilni ila nafsi tharfata 'ain_
1. Sebutan yang komprehensif
_Ya hayyu_: wahai Rabb Yang Maha Hidup
-Allah adalah sumber kehidupan yang selalu hidup (yang mengawali, mengakhiri, dan membangkitkan)
_Ya qayyum_: wahai Rabb yang berdiri sendiri, tidak butuh segala sesuatu
•Allah bukan hanya menghidupkan, tapi juga mengontrol dan memelihara setiap saat. Semua rezeki makhluk diatur oleh Allah.
•_Ya hayyu ya qayyum_ ada di ayat kursi dan surat thaha. Jika berdoa dengan menyebut nama tersebut akan langsung diijabah (diriwayatkan oleh Anas)
2. Kekuasaan yang komprehensif
_Bi rahmatika astaghistu_: dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan
•Rahmat Allah meliputi segala sesuatu (surga, ampunan, dan pertolongan dunia & akhirat).
3. Permohonan yang komprehensif
_Aslihli sya'ni kullahu_: perbaiki semua urusanku
•Kita meminta agar semua urusan kita diperbaiki baik itu agama, dunia, dan akhirat.
4. Tenang dan menerima
_Wala taqilni ila nafsi tharfata 'ain_: dan jangan serahkan kepadaku sekalipun sekejap mata
•Kenapa kita serahkan semua pada Allah? Karena ada hal di luar kuasa kita yang kita tidak mampu atur. Urusan mengedipkan mata setiap detik, detak jantung, tarikan nafas, aliran darah, seluruhnya sama sekali di luar kendali kita dan kita tidak bisa mengaturnya sendiri. Apalagi hal-hal yang di luar kendali. Maka kita tenang dan yakin bahwa Allah, yang Maha Bijaksana, tahu yang terbaik untuk kita karena ilmu kita tidak ada apa-apanya. Percaya bahwa Allah punya ketetapan terbaik, lebih sempurna dibanding apa yang kita anggap baik. Maka yang harus kita lakukan adalah memaksimalkan/berikhtiar pada hal-hal yang bisa kita kontrol.
•Taat dan menerima dengan melaksanakan yang bisa kita kontrol, adalah bentuk ibadah juga. Pondasi tawakkal menurut Hatim Al Assam:
1. rezeki tidak mungkin tertukar, maka aku merasa aman
2. amalan kita tidak mungkin dilakukan orang lain, maka aku harus sibuk mengerjakannya
3. kematian yang datang tiba-tiba mengharuskan aku harus bersegera beribadah
4. Allah selalu mengawasi, maka aku selalu merasa malu.
06 Juni, 2020
Hadits Seputar Shalat
HADITS SEPUTAR SALAT
Kultum oleh Hasan Bayuni
6/06/2020
ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ
"bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an" (Almuzamil/73:20)
Apa yang dimaksud dengan "yang mudah"?
Surat atau ayat apakah yang mudah dibaca? Tidak ada penjalasan. Ada beberapa hadits yang mengisahkan kepda kita apa saja yang dibaca Rasulullah tiap-tiap salat.
Fakta yang didapat dari hadits berbeda-beda. Penyampai hadits pun dapat keliru baik disengaja atau tidak disengaja.
Ada hadits yang mengisahkan kepada kita bahwa pada waktu mengimami salat Id dan salat Jumat nabi membaca surat "Al A'la" di rakaat pertama dan "alghasyiyah" di rakaat kedua.
Di dalam hadits dikatakan bahwa Nabi membaca: "sabih isma rabbika al 'ala"
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
(Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi)
dan "hal ataka haditsul ghasyiyah."
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ
(Sudah sampaikah kepadamu berita tentang hari kiamat)
Di masa Rasulullah surat-surat belum diberi nama sebagaimana Kita kenal sekarang.
Dari Abdullah ibn Umar, "Umar pernah bertanya kepada seorang sahabat bernama Al-Laitsi. Apa yang dibaca Rasulullah saat salat Idul Fitri. Ia menjawab: "Qaf Wal Quran almajid."
ق ۚ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ
(Qaaf. Demi Al-Qur'an yang mulia)
Maksudnya Surat Qaf/50.
Serta "iqtarabat as sa'ah wa insyaqqal qamar." Yang dimaksud adalah Surat Alqamar/54.
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah.
Ada hadits lain yang mengisahkan bahwa nabi saat salat Subuh membaca "iza syamsu kuwirat."
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
(Apabila matahari digulung)
Yang dimaksud adalah Surat Attakwir/81.
Tidak ada kewajiban untuk membaca surat tertentub dalam salat. Surat yang dibaca Nabi berbeda-beda dalam mengerjakan salat.
Salat jamaah adalah bagaikan model sebuah kepemimpinan. Nabi diriwayatkan usai mengakhir salat dengan salam segera berbalik untuk melihat keadaan makmum. Beliau ingin tahu siapa anggota jamaah yang tidak hadir. Adakah orang asing (musafir) yang ikut salat berjamaah.
Apa yang dilakukan Nabi adalah sebuah kepedulian. Seorang pemimpin, apakah itu raja, president atau walikota harus sering melihat keadaan rakyatnya.
Imam yang baik, jika tahu ada salah seorang jamaahnya sedang tidak enak badan akan mempercepat gerakan salat dan membaca surat pendek agar tidak memberatkan makmum yang sakit.
Demikian beberapa hadits yang menjelaskan tentang ayat ke 19 dari surat Almuzamil/73, "faqrau ma tayassara min Alquran."
Kultum oleh Hasan Bayuni
6/06/2020
ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ
"bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an" (Almuzamil/73:20)
Apa yang dimaksud dengan "yang mudah"?
Surat atau ayat apakah yang mudah dibaca? Tidak ada penjalasan. Ada beberapa hadits yang mengisahkan kepda kita apa saja yang dibaca Rasulullah tiap-tiap salat.
Fakta yang didapat dari hadits berbeda-beda. Penyampai hadits pun dapat keliru baik disengaja atau tidak disengaja.
Ada hadits yang mengisahkan kepada kita bahwa pada waktu mengimami salat Id dan salat Jumat nabi membaca surat "Al A'la" di rakaat pertama dan "alghasyiyah" di rakaat kedua.
Di dalam hadits dikatakan bahwa Nabi membaca: "sabih isma rabbika al 'ala"
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
(Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi)
dan "hal ataka haditsul ghasyiyah."
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ
(Sudah sampaikah kepadamu berita tentang hari kiamat)
Di masa Rasulullah surat-surat belum diberi nama sebagaimana Kita kenal sekarang.
Dari Abdullah ibn Umar, "Umar pernah bertanya kepada seorang sahabat bernama Al-Laitsi. Apa yang dibaca Rasulullah saat salat Idul Fitri. Ia menjawab: "Qaf Wal Quran almajid."
ق ۚ وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ
(Qaaf. Demi Al-Qur'an yang mulia)
Maksudnya Surat Qaf/50.
Serta "iqtarabat as sa'ah wa insyaqqal qamar." Yang dimaksud adalah Surat Alqamar/54.
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah.
Ada hadits lain yang mengisahkan bahwa nabi saat salat Subuh membaca "iza syamsu kuwirat."
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
(Apabila matahari digulung)
Yang dimaksud adalah Surat Attakwir/81.
Tidak ada kewajiban untuk membaca surat tertentub dalam salat. Surat yang dibaca Nabi berbeda-beda dalam mengerjakan salat.
Salat jamaah adalah bagaikan model sebuah kepemimpinan. Nabi diriwayatkan usai mengakhir salat dengan salam segera berbalik untuk melihat keadaan makmum. Beliau ingin tahu siapa anggota jamaah yang tidak hadir. Adakah orang asing (musafir) yang ikut salat berjamaah.
Apa yang dilakukan Nabi adalah sebuah kepedulian. Seorang pemimpin, apakah itu raja, president atau walikota harus sering melihat keadaan rakyatnya.
Imam yang baik, jika tahu ada salah seorang jamaahnya sedang tidak enak badan akan mempercepat gerakan salat dan membaca surat pendek agar tidak memberatkan makmum yang sakit.
Demikian beberapa hadits yang menjelaskan tentang ayat ke 19 dari surat Almuzamil/73, "faqrau ma tayassara min Alquran."
Teladan Keluarga 1
TELADAN KELUARGA (1)
Kuliah Subuh oleh Abduh Hisyam
5/06/2020
Allah telah memberikan kepda umat manusia dua tokoh teladan yang perilaku, sifat dan perbuatannya dapat menjadi panduan dalam kehidupan sehari-hari. Dua orang tokoh tersebut adalah Nabi Ibrahim as dan Muhammad saw.
قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim (Almumtahanah/60:4)
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (Alahzab/33:21)
Manusia tidak akan tersesat dan tidak akan galau dalam menjalani pahit getirnya hidup jika mau mempelajari riwayat hidup dua orang Nabi Allah yang sangat berpengaruh itu. Nabi Ibrahim adalah tokoh yang sangat kuat dalam memegang prinsip tauhid dan berjiwa pengorbanan tinggi, serta Nabi Muhammad adalah seorang yang sangat baik akhlaknya, lemah lembut, namun siap bertempur melawan kezaliman dan ketidakadilan.
Di tingkat kenegaraan, kita punya para pahlawan yang harus diteladani perjuangannnya oleh generasi muda bangsa. Sudah berapa banyak pahlawan nasional yang kehidupannya dipelajari oleh generasi muda kita?
Di dalam keluarga, setiap orang hendaknya dikenalkan dengan sosok keluarga yang menjadi teladan agar memotivasi para anggota keluarga untuk berbuat baik, gigih dan tidak pantang menyerah. Menceritakan kehidupan kakek buyut kita yang hidup di zaman penjajahan dan berjuang menolong orang banyak, umpamanya, akan menimbulkan kekaguman dan imajinasi tentang sosok idola di dalam keluarga. Sosok kakek atau bapak adalah sosok yang nyata dan sangat dekat sehingga menirunya bukan suatu hal mustahil.
Pada subuh ini saya mengenalkan sosok kakek buyut anak-anak saya bernama Haji Moeflich. Beliau adalah kepala desa Jabres selama 40 tahun lebih sejak masa penjajahan Belanda. Beliau menjadi pemimpin di desanya melalui pergolakan zaman yang tidak menentu: zaman penjajahan Belanda, zaman Jeoang, zaman Kemerdekaan, zaman pergolakan local (AOI), zaman demokrasi liberal, masa Orde Lama, dan masa orde Baru. Lima zaman ia lalui dengan penuh suka duka. Namun sosok mbah HM, begitu beliau dipanggil, adalah seorang yang penuh senyum, jenaka dan selalu riang. Tubuhnya kecil namun kekar dan kuat. Di masa mudanya beliau adalah seniman pemain biola yang amat piawai.
Ketika saya pertama kali tiba di Kebumen, orang mengenal saya sebagai sales mesin pres genteng buatan Tegal. Tiap hari pekerjaan saya adalah bertamu dari satu pabrik ke pabrik lain, menawarkan mesin produk perusahaan Bapak saya di Tegal. Dengan cepat saya akrab dengan warga Kebumen, terutama keluarga Jabres. Mungkin karena setiap kali saya berkunjung saya selalu bicara tentang dakwah dan Muhammadiyah. Maka saya cepat dikenal di keluarga pengusaha genteng Jabres yang sebagian besar adalah anak-anak Mbah HM.
Pada suatu hari saya mengantarkan mesin pesanan mbah HM. Mesin itu tiba saat hari sudah gelap, dan hujan turun. Saat tiba di rumah Mbah HM, beliau meminta saya menurunkan mesin keesokan pagi saja, karena sudah malam. Mesin itu bobotnya hampir tujuh kwintal. Sangat berat dan dibutuhkan beberpa orang berbadan kuat untuk menurunkannya. Malam hari karyawan sudah tidak ada. Namun saya katakan bahwa mesin harus dibongkar malam ini juga, karena truck pengangkutnya harus segera kembali ke Tegal untuk digunakan bekerja besok pagi. Mbah HM mempersilakan namun saya harus cari sendiri tenaga yang akan menurunkan. Mbah HM kemudian bergumam,”Hubbu Dunya حب الدنيا. (berlebihan dalam cinta dunia) Ngoyo,” sambil geleng-geleng kepala. Sejam kemudian saya sudah berada di rumah beiau yang juga menjadi kantor, dan saya katakan bahwa saya sudah menurunkan mesin di tempat yang telah ditentukan. Belaiu terkejut mendengar saya telah menurunkan dengan cepat. Ia mengangguk-anggukkan kepala dan sambil tersnyum berkata, “Ihris li dunyaka kaannaka ta’isyu Abadan. Wa’mal li akhiratika ka’annaka tamutu ghadan.”
احرس لدنياك كانك تعيش ابدا واعمل لاخرتك كانك تموت غدا
Jaga kehidupan duniamu seolah engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah engkau akan mati esok hari.
Sungguh saya sangat terkesan keada beliau. Dari hadits yang beiau ucapkan, beliau tentu seorang yang cukup alim atau paling tidak pernah mengenyam pendidikan agama walau tidak formal.
Sebelum pamit dari rumah belaiu, kami sempat berbincang-bincang tentang Amien Rais, sosok yang sedang menjadi berita di mana-mana karena artikelnya yang bertajuk “Suksesi 1997: Sebuah Keharusan.” Saya paling banyak bicara , dan beliau menjadi pendengar yang sesekali menimpali dengan kata: “wah!” “Oh!”. Saya kemudian pamit, setelah menghabiskan secangkir kopi, tentu saja.
Kuliah Subuh oleh Abduh Hisyam
5/06/2020
Allah telah memberikan kepda umat manusia dua tokoh teladan yang perilaku, sifat dan perbuatannya dapat menjadi panduan dalam kehidupan sehari-hari. Dua orang tokoh tersebut adalah Nabi Ibrahim as dan Muhammad saw.
قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim (Almumtahanah/60:4)
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (Alahzab/33:21)
Manusia tidak akan tersesat dan tidak akan galau dalam menjalani pahit getirnya hidup jika mau mempelajari riwayat hidup dua orang Nabi Allah yang sangat berpengaruh itu. Nabi Ibrahim adalah tokoh yang sangat kuat dalam memegang prinsip tauhid dan berjiwa pengorbanan tinggi, serta Nabi Muhammad adalah seorang yang sangat baik akhlaknya, lemah lembut, namun siap bertempur melawan kezaliman dan ketidakadilan.
Di tingkat kenegaraan, kita punya para pahlawan yang harus diteladani perjuangannnya oleh generasi muda bangsa. Sudah berapa banyak pahlawan nasional yang kehidupannya dipelajari oleh generasi muda kita?
Di dalam keluarga, setiap orang hendaknya dikenalkan dengan sosok keluarga yang menjadi teladan agar memotivasi para anggota keluarga untuk berbuat baik, gigih dan tidak pantang menyerah. Menceritakan kehidupan kakek buyut kita yang hidup di zaman penjajahan dan berjuang menolong orang banyak, umpamanya, akan menimbulkan kekaguman dan imajinasi tentang sosok idola di dalam keluarga. Sosok kakek atau bapak adalah sosok yang nyata dan sangat dekat sehingga menirunya bukan suatu hal mustahil.
Pada subuh ini saya mengenalkan sosok kakek buyut anak-anak saya bernama Haji Moeflich. Beliau adalah kepala desa Jabres selama 40 tahun lebih sejak masa penjajahan Belanda. Beliau menjadi pemimpin di desanya melalui pergolakan zaman yang tidak menentu: zaman penjajahan Belanda, zaman Jeoang, zaman Kemerdekaan, zaman pergolakan local (AOI), zaman demokrasi liberal, masa Orde Lama, dan masa orde Baru. Lima zaman ia lalui dengan penuh suka duka. Namun sosok mbah HM, begitu beliau dipanggil, adalah seorang yang penuh senyum, jenaka dan selalu riang. Tubuhnya kecil namun kekar dan kuat. Di masa mudanya beliau adalah seniman pemain biola yang amat piawai.
Ketika saya pertama kali tiba di Kebumen, orang mengenal saya sebagai sales mesin pres genteng buatan Tegal. Tiap hari pekerjaan saya adalah bertamu dari satu pabrik ke pabrik lain, menawarkan mesin produk perusahaan Bapak saya di Tegal. Dengan cepat saya akrab dengan warga Kebumen, terutama keluarga Jabres. Mungkin karena setiap kali saya berkunjung saya selalu bicara tentang dakwah dan Muhammadiyah. Maka saya cepat dikenal di keluarga pengusaha genteng Jabres yang sebagian besar adalah anak-anak Mbah HM.
Pada suatu hari saya mengantarkan mesin pesanan mbah HM. Mesin itu tiba saat hari sudah gelap, dan hujan turun. Saat tiba di rumah Mbah HM, beliau meminta saya menurunkan mesin keesokan pagi saja, karena sudah malam. Mesin itu bobotnya hampir tujuh kwintal. Sangat berat dan dibutuhkan beberpa orang berbadan kuat untuk menurunkannya. Malam hari karyawan sudah tidak ada. Namun saya katakan bahwa mesin harus dibongkar malam ini juga, karena truck pengangkutnya harus segera kembali ke Tegal untuk digunakan bekerja besok pagi. Mbah HM mempersilakan namun saya harus cari sendiri tenaga yang akan menurunkan. Mbah HM kemudian bergumam,”Hubbu Dunya حب الدنيا. (berlebihan dalam cinta dunia) Ngoyo,” sambil geleng-geleng kepala. Sejam kemudian saya sudah berada di rumah beiau yang juga menjadi kantor, dan saya katakan bahwa saya sudah menurunkan mesin di tempat yang telah ditentukan. Belaiu terkejut mendengar saya telah menurunkan dengan cepat. Ia mengangguk-anggukkan kepala dan sambil tersnyum berkata, “Ihris li dunyaka kaannaka ta’isyu Abadan. Wa’mal li akhiratika ka’annaka tamutu ghadan.”
احرس لدنياك كانك تعيش ابدا واعمل لاخرتك كانك تموت غدا
Jaga kehidupan duniamu seolah engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah engkau akan mati esok hari.
Sungguh saya sangat terkesan keada beliau. Dari hadits yang beiau ucapkan, beliau tentu seorang yang cukup alim atau paling tidak pernah mengenyam pendidikan agama walau tidak formal.
Sebelum pamit dari rumah belaiu, kami sempat berbincang-bincang tentang Amien Rais, sosok yang sedang menjadi berita di mana-mana karena artikelnya yang bertajuk “Suksesi 1997: Sebuah Keharusan.” Saya paling banyak bicara , dan beliau menjadi pendengar yang sesekali menimpali dengan kata: “wah!” “Oh!”. Saya kemudian pamit, setelah menghabiskan secangkir kopi, tentu saja.
Teladan Keluarga 2
TELADAN KELUARGA 2
Kultum oleh Abduh Hisyam
5/06/2020
Pada suatu hari di tahun 1995 saya diminta menyampaikan khutbah Jumat di masjid Nurul Islam di Pasar Tengok Sruweng. Usai salat Jumat saya dibisiki oleh mbah HM, bahwa saya lain kali jika berkhutbah sebaiknya mengenakan sarung. Saya saat itu mengenakan celana panjang, kemeja batik dan kopiah. Pakaian saya sudah sah saha dan sudah sangat sopan, namuan seorang khatib Jumat di desa sepantasnya mengenakan sarung. Pakaian yang saya kenakan adalah pakaian priyayi.. Cocoknya untuk para guru. Saya tersenyum. Mbah HM mengingatkan kepada saya agar memperhatikan suasana kultur masyarkaat desa agar saya, sebagai mubaligh, lebih mudah diterima.
Pakaian saya sudah syar’I namun tidak ma’ruf. Kebiasaan dan kearifan lokal harus menjadi perhatian dalam menyampaikan petuah-petuah agama.
Hingga beberapa saat nasehat mbah HM itu selalu terngiang di telinga, bahwa penguasaan akan budaya menjadi hal sangat penting dalam berdakwah. Saya sampaikan kepada pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kebumen saat itu agar mengadakan Training Mubaligh Muda. Teman-teman setuju dan menugasi saya menjadi ketua panitia training tersebut. Pesertanya adalah para pemuda se-kabupaten Kebumen. Acara diadakan di masjid Nurul Islam dan gedung TPQ di lingkungan masjid. Pesertanya cukup banyak, ada empatpuluh orang. Di antara yang menjadi pemateri adalah Drs. Tafsir dosen dari IAIN Walisanga Semarang.
Karena sibuk mengatur tempat training, pembicara serta penggandaan materi, serta minimnya personil panitia, saya tidak sempat menyampaikan surat perijinan kepada aparat pemerintah, termasuk Polsek Sruweng yang letak kantornya hanya sepelemparan batu saja.
Saat itu, tahun 1996, rejim Orde Baru sedang berada di puncak kekuasaannya. Semua kegiatan masyarakat dimata-matai oleh negara. Tidak mudah menyelenggarakan pertemuan atau rapat-rapat. Semua pertemuan harus telebih dahulu mengajukan ijin kepada RT, RW, Desa, dan Polsek seerta Koramil. Jika tanpa ijin, sebuah pertemuan sudah pasti dianggap illegal dan dibubarkan. Bukan hanya sekedar dibubarkan, para peserta rapat dapat dituduh mengadakan rapat rahasia untuk merongrong kewibawaan pemerintah serta dapat dianggap musuh negara. Bukan itu saja, cap musuh Pancasila dapat menghinggapi mereka yang berani mengadakan pertemuan tanpa ijin.
Kami panitia sangat gelisah. Bayangan acara dibubarka paksa sudah di depan mata. Tiba-tiba salah seorang kawan, mas Yulies Suharyadi berkata dengan seenaknya. “Kalau nanti ada aparat datang menanyakan ijin pertemuan Training Tabligh ini, bilang saja bahwa kita sudah diijinkan oleh mbah HM.” Saya dan beberapa teman tertawa mendengar usulan itu, namun kami sepakat dan merasa lega. Ya, bukankah mbah HM adalah sosok yang sangat disegani di Sruweng ini?
Benar saja, training berlangsung dengan lancer dan aman. Aparat kepolisian tidak ada yang berani mengusik acara kami, hanya karena kami mengatakan didukung oleh Mbah HM. Mendenagar jawaban itu pak Polisi tidak bernai berbuat apa-apa,. Mereka segan kepada mbah HM.
Kultum oleh Abduh Hisyam
5/06/2020
Pada suatu hari di tahun 1995 saya diminta menyampaikan khutbah Jumat di masjid Nurul Islam di Pasar Tengok Sruweng. Usai salat Jumat saya dibisiki oleh mbah HM, bahwa saya lain kali jika berkhutbah sebaiknya mengenakan sarung. Saya saat itu mengenakan celana panjang, kemeja batik dan kopiah. Pakaian saya sudah sah saha dan sudah sangat sopan, namuan seorang khatib Jumat di desa sepantasnya mengenakan sarung. Pakaian yang saya kenakan adalah pakaian priyayi.. Cocoknya untuk para guru. Saya tersenyum. Mbah HM mengingatkan kepada saya agar memperhatikan suasana kultur masyarkaat desa agar saya, sebagai mubaligh, lebih mudah diterima.
Pakaian saya sudah syar’I namun tidak ma’ruf. Kebiasaan dan kearifan lokal harus menjadi perhatian dalam menyampaikan petuah-petuah agama.
Hingga beberapa saat nasehat mbah HM itu selalu terngiang di telinga, bahwa penguasaan akan budaya menjadi hal sangat penting dalam berdakwah. Saya sampaikan kepada pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kebumen saat itu agar mengadakan Training Mubaligh Muda. Teman-teman setuju dan menugasi saya menjadi ketua panitia training tersebut. Pesertanya adalah para pemuda se-kabupaten Kebumen. Acara diadakan di masjid Nurul Islam dan gedung TPQ di lingkungan masjid. Pesertanya cukup banyak, ada empatpuluh orang. Di antara yang menjadi pemateri adalah Drs. Tafsir dosen dari IAIN Walisanga Semarang.
Karena sibuk mengatur tempat training, pembicara serta penggandaan materi, serta minimnya personil panitia, saya tidak sempat menyampaikan surat perijinan kepada aparat pemerintah, termasuk Polsek Sruweng yang letak kantornya hanya sepelemparan batu saja.
Saat itu, tahun 1996, rejim Orde Baru sedang berada di puncak kekuasaannya. Semua kegiatan masyarakat dimata-matai oleh negara. Tidak mudah menyelenggarakan pertemuan atau rapat-rapat. Semua pertemuan harus telebih dahulu mengajukan ijin kepada RT, RW, Desa, dan Polsek seerta Koramil. Jika tanpa ijin, sebuah pertemuan sudah pasti dianggap illegal dan dibubarkan. Bukan hanya sekedar dibubarkan, para peserta rapat dapat dituduh mengadakan rapat rahasia untuk merongrong kewibawaan pemerintah serta dapat dianggap musuh negara. Bukan itu saja, cap musuh Pancasila dapat menghinggapi mereka yang berani mengadakan pertemuan tanpa ijin.
Kami panitia sangat gelisah. Bayangan acara dibubarka paksa sudah di depan mata. Tiba-tiba salah seorang kawan, mas Yulies Suharyadi berkata dengan seenaknya. “Kalau nanti ada aparat datang menanyakan ijin pertemuan Training Tabligh ini, bilang saja bahwa kita sudah diijinkan oleh mbah HM.” Saya dan beberapa teman tertawa mendengar usulan itu, namun kami sepakat dan merasa lega. Ya, bukankah mbah HM adalah sosok yang sangat disegani di Sruweng ini?
Benar saja, training berlangsung dengan lancer dan aman. Aparat kepolisian tidak ada yang berani mengusik acara kami, hanya karena kami mengatakan didukung oleh Mbah HM. Mendenagar jawaban itu pak Polisi tidak bernai berbuat apa-apa,. Mereka segan kepada mbah HM.
5 Yang Merusak Hati
LIMA PERKARA YANG MERUSAK HATI
Kultum Subuh oleh Navi agustina
07/06/2020
Ada orang merancang program kerja bagus untuk hidupnya, namun sebelum programnya terwujud ia sudah melupakannya dan melakukan hal-hal yang menyimpang bahkan bertentangan dengan rencana yang telah ia susun. Ada seorang anak yang sejak kecil dididik orangtuanya dengan baik, namun menjelang dewasa ia bagai orang tak terpelajar, hidupnya tidak teratur dan acapkali membahayakan diri dan lingkungannya. Mengapa hal ini terjadi?
Menurut Buya Hamka, berbeloknya seseorang dari jalur kebaikan menuju ke jalur keburukan adalah karena tekad yang sudah tertanam sejak awal meluntur. Hati yang teguh mulai melemah, sehingga kandas di tengah jalan. Dalam buku “Kesepaduan antara Iman dan Amal Saleh” Buya Hamka membahas tentang masalah rusaknya hati ini dengan merujuk kepada kitab “Madarij as Salikin” karya Ibnu Qayim Aljauzi. Menurut Ibnu Qayim ada lima hal yang dapat merusak hati.
PERTAMA, salah memilih teman.
Sebagai zon politikon, manusia tidak dapat hidup seorang diri. Ia tergantung kepada sesamanya. Seseorang yang hidup menyendiri, kejiwaannya tidak sempurna. Ia harus dibantu dan membantu, dipengaruhi dan mempengaruhi orang lain. Jika orang yang berada di lingkunga kita baik, maka kita cenderung menjadi baik. Ibarat pepatah, ‘berteman dengan saudagar ikan, badan kita amis. Berteman dengan penjual cendana, badan kita wangi.”
Memilih teman atau pasangan hidup sangat penting. Secara akal sehat kita dapat menilai apakah seseorang baik atau tidak. Ada orang yang cocok diajak bersenang-senang, namun tidak dapat diajak bekerjasama. Ada yang selalu datang kepada kita saat kita senang, namun saat kita susah mereka menghilang.
Kejujuran, empati, kehalusan budi, adalah nilai-nilai yang harus kita perhatikan saat mendekati seseorang untuk dijadikan teman. Dalam mencari pasangan hidup orangtua kita secara tradisional mengajarkan kita untuk memperhatikan “bobot, bibit, bebet’ (akhlak, latarbelakang keluarga, harta). Kriteria kebanyakan orang dalam memilih pasangan hidup adalah kecantikan, harta, keuturunan, dan agama. Nabi mengajarkan kepada kita agar menomorsatukan agama sebelum ketampanan, harta, dan keturunan.
Teman dapat membawa seseorang kepada kebaikan, disiplin, senang bekerja menolong orang yang menderita. Teman dapat pula membuat seseorang jahat, hidup tidak teratur, malas dan tidak peduli kepada orang lain. Kelak karena perbuatannya yang tidak baik maka seseorang akan terjerumus ke dalam api neraka. Pada saat itu ia akan menyesal karena telah melakukan perbuatan dosa akibat bujukan teman. Dan ia berkata:
يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا ٢٨
Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku) (Alfurqan/25:28)
Walau orang-orang jahat itu pada saat berjaya adalah berteman, kelak jika mereka diajukan ke meja hijau, maka masing-masing diri mereka akan mengatakan diri mereka tidak bersalah. Mereka akan saling tuding dan saling menyalahkan.
ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ ٦٧
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa (Zukhruf/43:67)
KEDUA, hidup dalam angan-angan.
Seseorang harus mempunyai cita-cita setinggi langit. Dan untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi itu, ia harus realistis dengan bekerja sesuai kemampuan. Jangan sampai seseorang hanya mengkhayalkan kehidupan yang penuh kenikmatan namun ia tak kunjung bergerak untuk menggapai impiannya. Demikian pula dengan seseorang yang menginginkan kehidupan bahagia, ia memulai kebahagiaan itu dari dirinya sendiri, dan tidak dapat mengharapkan orang lain membahagiakan dirinya. Banyak orang ingin mempunyai pendamping hidup yang tampan, cerdas, dan kaya. Sungguh sempurna pasangannya itu bak Raden Kamajaya. Namun itu semua hanya ada dalam angan-angan. Tidak pernah ada di dunia nyata, karena manusia tak ada yang sempurna. Ia mungkin tampan, cerdas, namun tidak kaya. Kaya, pintar, namun tidak tampan. Tampan, kaya, namun bodoh. Selalu saja berkekurangan.
Di dalam perjuangan, ada saja orang yang tidak berfikir untuk kepentingan bersama, yang selalu diimpikan adalah keuntungan pribadi. Ibarat kaum muslimin yang ikut dalam Perang Uhud. Banyak di antara anggota pasukan Nabi yang hanya berfikir untuk mendpatkan harta rampasan perang. Motivasi mereka bukan untuk membela agama Allah, melainkan untuk mendpatkan harta. Akibatnya, semangat tempur mereka meredup saat mereka melihat harta milik musuh tercecer di medan tempur, padahal pertempuran belum usai. Angan-angan untuk mendapatkan harta telah mrusak hati mereka.
KETIGA, bergantung kepada selain Allah.
Manusia senantiasa merindukan zat maha besar yang dapat menjadi tempat bergantung atau berlindung. Ada kerinduan kepada Yang Kudus, kata Rudolf Otto. Manusia merindukan sesuatu yang misterius, mengagumkan, dan menumbuhkan pesona (misterium, tremendum, fasinatum). Zat itu oleh orang-orang beragama disebut Tuhan. Seorang ahli sejarah agama bernama Mircea Eliade menamakan kecenderungan ini dengan nama homo religiusis. Alquran menyebutnya dengan “fitrah.” Kerinduan akan yang maha kuat, maha kaya dan maha kudus itu harus mendapatkan pedoman atau petunjuk yang benar, karena jika tidak maka manusia akan menjadikan apa pun yang menakutkan sebagai obyek sesembahan.
Setelah bekerja demi meraih cita-cita, maka ia harus pasrah kepada Allah semata. Mereka yang memasrahkan dirinya kepada selain Allah sudah pasti akan celaka. Karena segala sesuatu selain Allah adalah nisbi dan bersifat sementara. Hanya Allah yang mutlak dan kekal. Seseorang yang bergantung kepada manusia, maka nasibnya hanya akan menjadi budak manusia lain. Sungguh rugi manusia seperti ini.
KEEMPAT, banyak makan.
Semua makhluk hdiup pasti butuh makan. Pangan adalah kebutuhan yang sangat pokok. Sebelum membutuhkan apa pun, seorang manusia harus terpenuhi kebutuhan pangannnya. Meskipun demikian manusia tidak boleh berlebihan dalam mengkonsumsi makanan.
Rasulullah bersabda, “Kita adalah sekelompok orang yang tidak akan makan sebelum lapar, dan jika makan tak pernah kenyang.” Konon perut kita harus diisi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga untuk udara.
كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ
makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan (Ala’raf/7:31)
Mereka yang berlebihan saat makan menunjukkan watak rakus. Ia akan mengambil yang melebihi kebutuhannya, dan tidak berpikir ada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan daripada dirinya. Dalam kepemilikan, ia akan mengambil semua. Ia ingin memonopoli perdagangan, menguasai lahan seluas-luasnya dan tidak berbagi untuk orang lain. Ia menganggap kebahagiaannya tergantung kepada semakin banyak harta yang ia miliki. Orientasi hidupnya adalah “memiliki,” tidak ada jiwa qana’ah, dan dampaknya adalah keserakahan dan kerakusan.
Dahlan Iskan dalam kolomnya bercerita tentang kerabatnya yang gemuk karena banyak makan. Beratnya mencapai satu kwintal lebih. Saat meninggal dunia, para petugas sulit untuk menanganinya. Karena saat ini musim pandemik, maka dibutuhkan hazmat untuk membungkus jenasah, namun tidak ada hazmat yang cukup dikenakan karena badan yang sangat besar. Untuk mengangkatnya, para petugas sungguh kesulitan. Peti mati yang digunakan pun tidak ada yang cukup sehingga dibutuhkan peti mati ukuran khusus. Betapa menyulitkan.
Di tahun 1998, saat awal reformasi, pak Hisyam Adnan bertanya kepada seorang dokter saraf di kota Tegal tentang pilihan politiknya. Ia mengatakan belum memutuskan akan memilih partai apa. Saat itu, parpol masih sangat kuat. Yang dipilih adalah partai, bukan caleg. Sang dokter mengatakan, “Yang jelas saya tidak akan memilih partai …, karena ketuanya berperut besar.” Pak Hisyam kaget dan geli mendengar jawaban sang dokter dan bertanya mengapa. Sang dokter manjelaskan bahwa orang berperut besar menandakan ia tidak mampu mengendalikan diri saat makan. Oang yang tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri tidak layak menjadi pemimpin. Wah, masuk akal juga.
Umar bin Khattab pernah menegur salah seorang warga Madinah yagn berperut gendut, karena mereka yang berperut gendut cenderung lamban dalam bergerak dan sulit melakukan gerakan salat.
5. Terlalu banyak tidur.
Orang yang terlalu banyak tidur berarti telah menyia-nyiakan hidupnya. Seorang raja kapal Yunani, Aristoteles Onnasis mengatakan bahwa jika rata-rata orang tidur selama delapan jam, ia hanya tidur selama tujuh jam. Ia sengaja mengurangi lama tidurnya satu jam sehari, karna ia ingin mempunyai lebih banyak waktu dari kebanyakan orang. Jika dalam sehari seseorang mengurangi waktu tidurnya satu jam, dalam setahun ia memiliki kelebihan 360 jam atau 15 hari. Kelebihan hari ini adalah sebuah karunia.
Bapak H. Mas’udi selama hidupnya senantiasa mengajarkan kepada anak-anaknya agar tidur tidak terlalu malam, dan bangun lebih awal daripada orng kebanakan. Beliau selalu menasehati sambil mengutip sebuah kata mutiara, “Early to sleep, early to rise, make healthy wealthy and wise.”
Dalam Alquran disebutkan bahwa tidur diciptakan agar manusia beristirahat.
وَجَعَلۡنَا نَوۡمَكُمۡ سُبَاتٗا ٩
dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat (Annaba/78:9)
Jika ia sudah cukup bristirahat maka tidak perlu lama-lama seseorang tidur.
Demikian lima hal yang merusak hati.
Kultum Subuh oleh Navi agustina
07/06/2020
Ada orang merancang program kerja bagus untuk hidupnya, namun sebelum programnya terwujud ia sudah melupakannya dan melakukan hal-hal yang menyimpang bahkan bertentangan dengan rencana yang telah ia susun. Ada seorang anak yang sejak kecil dididik orangtuanya dengan baik, namun menjelang dewasa ia bagai orang tak terpelajar, hidupnya tidak teratur dan acapkali membahayakan diri dan lingkungannya. Mengapa hal ini terjadi?
Menurut Buya Hamka, berbeloknya seseorang dari jalur kebaikan menuju ke jalur keburukan adalah karena tekad yang sudah tertanam sejak awal meluntur. Hati yang teguh mulai melemah, sehingga kandas di tengah jalan. Dalam buku “Kesepaduan antara Iman dan Amal Saleh” Buya Hamka membahas tentang masalah rusaknya hati ini dengan merujuk kepada kitab “Madarij as Salikin” karya Ibnu Qayim Aljauzi. Menurut Ibnu Qayim ada lima hal yang dapat merusak hati.
PERTAMA, salah memilih teman.
Sebagai zon politikon, manusia tidak dapat hidup seorang diri. Ia tergantung kepada sesamanya. Seseorang yang hidup menyendiri, kejiwaannya tidak sempurna. Ia harus dibantu dan membantu, dipengaruhi dan mempengaruhi orang lain. Jika orang yang berada di lingkunga kita baik, maka kita cenderung menjadi baik. Ibarat pepatah, ‘berteman dengan saudagar ikan, badan kita amis. Berteman dengan penjual cendana, badan kita wangi.”
Memilih teman atau pasangan hidup sangat penting. Secara akal sehat kita dapat menilai apakah seseorang baik atau tidak. Ada orang yang cocok diajak bersenang-senang, namun tidak dapat diajak bekerjasama. Ada yang selalu datang kepada kita saat kita senang, namun saat kita susah mereka menghilang.
Kejujuran, empati, kehalusan budi, adalah nilai-nilai yang harus kita perhatikan saat mendekati seseorang untuk dijadikan teman. Dalam mencari pasangan hidup orangtua kita secara tradisional mengajarkan kita untuk memperhatikan “bobot, bibit, bebet’ (akhlak, latarbelakang keluarga, harta). Kriteria kebanyakan orang dalam memilih pasangan hidup adalah kecantikan, harta, keuturunan, dan agama. Nabi mengajarkan kepada kita agar menomorsatukan agama sebelum ketampanan, harta, dan keturunan.
Teman dapat membawa seseorang kepada kebaikan, disiplin, senang bekerja menolong orang yang menderita. Teman dapat pula membuat seseorang jahat, hidup tidak teratur, malas dan tidak peduli kepada orang lain. Kelak karena perbuatannya yang tidak baik maka seseorang akan terjerumus ke dalam api neraka. Pada saat itu ia akan menyesal karena telah melakukan perbuatan dosa akibat bujukan teman. Dan ia berkata:
يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلٗا ٢٨
Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku) (Alfurqan/25:28)
Walau orang-orang jahat itu pada saat berjaya adalah berteman, kelak jika mereka diajukan ke meja hijau, maka masing-masing diri mereka akan mengatakan diri mereka tidak bersalah. Mereka akan saling tuding dan saling menyalahkan.
ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ ٦٧
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa (Zukhruf/43:67)
KEDUA, hidup dalam angan-angan.
Seseorang harus mempunyai cita-cita setinggi langit. Dan untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi itu, ia harus realistis dengan bekerja sesuai kemampuan. Jangan sampai seseorang hanya mengkhayalkan kehidupan yang penuh kenikmatan namun ia tak kunjung bergerak untuk menggapai impiannya. Demikian pula dengan seseorang yang menginginkan kehidupan bahagia, ia memulai kebahagiaan itu dari dirinya sendiri, dan tidak dapat mengharapkan orang lain membahagiakan dirinya. Banyak orang ingin mempunyai pendamping hidup yang tampan, cerdas, dan kaya. Sungguh sempurna pasangannya itu bak Raden Kamajaya. Namun itu semua hanya ada dalam angan-angan. Tidak pernah ada di dunia nyata, karena manusia tak ada yang sempurna. Ia mungkin tampan, cerdas, namun tidak kaya. Kaya, pintar, namun tidak tampan. Tampan, kaya, namun bodoh. Selalu saja berkekurangan.
Di dalam perjuangan, ada saja orang yang tidak berfikir untuk kepentingan bersama, yang selalu diimpikan adalah keuntungan pribadi. Ibarat kaum muslimin yang ikut dalam Perang Uhud. Banyak di antara anggota pasukan Nabi yang hanya berfikir untuk mendpatkan harta rampasan perang. Motivasi mereka bukan untuk membela agama Allah, melainkan untuk mendpatkan harta. Akibatnya, semangat tempur mereka meredup saat mereka melihat harta milik musuh tercecer di medan tempur, padahal pertempuran belum usai. Angan-angan untuk mendapatkan harta telah mrusak hati mereka.
KETIGA, bergantung kepada selain Allah.
Manusia senantiasa merindukan zat maha besar yang dapat menjadi tempat bergantung atau berlindung. Ada kerinduan kepada Yang Kudus, kata Rudolf Otto. Manusia merindukan sesuatu yang misterius, mengagumkan, dan menumbuhkan pesona (misterium, tremendum, fasinatum). Zat itu oleh orang-orang beragama disebut Tuhan. Seorang ahli sejarah agama bernama Mircea Eliade menamakan kecenderungan ini dengan nama homo religiusis. Alquran menyebutnya dengan “fitrah.” Kerinduan akan yang maha kuat, maha kaya dan maha kudus itu harus mendapatkan pedoman atau petunjuk yang benar, karena jika tidak maka manusia akan menjadikan apa pun yang menakutkan sebagai obyek sesembahan.
Setelah bekerja demi meraih cita-cita, maka ia harus pasrah kepada Allah semata. Mereka yang memasrahkan dirinya kepada selain Allah sudah pasti akan celaka. Karena segala sesuatu selain Allah adalah nisbi dan bersifat sementara. Hanya Allah yang mutlak dan kekal. Seseorang yang bergantung kepada manusia, maka nasibnya hanya akan menjadi budak manusia lain. Sungguh rugi manusia seperti ini.
KEEMPAT, banyak makan.
Semua makhluk hdiup pasti butuh makan. Pangan adalah kebutuhan yang sangat pokok. Sebelum membutuhkan apa pun, seorang manusia harus terpenuhi kebutuhan pangannnya. Meskipun demikian manusia tidak boleh berlebihan dalam mengkonsumsi makanan.
Rasulullah bersabda, “Kita adalah sekelompok orang yang tidak akan makan sebelum lapar, dan jika makan tak pernah kenyang.” Konon perut kita harus diisi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga untuk udara.
كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ
makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan (Ala’raf/7:31)
Mereka yang berlebihan saat makan menunjukkan watak rakus. Ia akan mengambil yang melebihi kebutuhannya, dan tidak berpikir ada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan daripada dirinya. Dalam kepemilikan, ia akan mengambil semua. Ia ingin memonopoli perdagangan, menguasai lahan seluas-luasnya dan tidak berbagi untuk orang lain. Ia menganggap kebahagiaannya tergantung kepada semakin banyak harta yang ia miliki. Orientasi hidupnya adalah “memiliki,” tidak ada jiwa qana’ah, dan dampaknya adalah keserakahan dan kerakusan.
Dahlan Iskan dalam kolomnya bercerita tentang kerabatnya yang gemuk karena banyak makan. Beratnya mencapai satu kwintal lebih. Saat meninggal dunia, para petugas sulit untuk menanganinya. Karena saat ini musim pandemik, maka dibutuhkan hazmat untuk membungkus jenasah, namun tidak ada hazmat yang cukup dikenakan karena badan yang sangat besar. Untuk mengangkatnya, para petugas sungguh kesulitan. Peti mati yang digunakan pun tidak ada yang cukup sehingga dibutuhkan peti mati ukuran khusus. Betapa menyulitkan.
Di tahun 1998, saat awal reformasi, pak Hisyam Adnan bertanya kepada seorang dokter saraf di kota Tegal tentang pilihan politiknya. Ia mengatakan belum memutuskan akan memilih partai apa. Saat itu, parpol masih sangat kuat. Yang dipilih adalah partai, bukan caleg. Sang dokter mengatakan, “Yang jelas saya tidak akan memilih partai …, karena ketuanya berperut besar.” Pak Hisyam kaget dan geli mendengar jawaban sang dokter dan bertanya mengapa. Sang dokter manjelaskan bahwa orang berperut besar menandakan ia tidak mampu mengendalikan diri saat makan. Oang yang tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri tidak layak menjadi pemimpin. Wah, masuk akal juga.
Umar bin Khattab pernah menegur salah seorang warga Madinah yagn berperut gendut, karena mereka yang berperut gendut cenderung lamban dalam bergerak dan sulit melakukan gerakan salat.
5. Terlalu banyak tidur.
Orang yang terlalu banyak tidur berarti telah menyia-nyiakan hidupnya. Seorang raja kapal Yunani, Aristoteles Onnasis mengatakan bahwa jika rata-rata orang tidur selama delapan jam, ia hanya tidur selama tujuh jam. Ia sengaja mengurangi lama tidurnya satu jam sehari, karna ia ingin mempunyai lebih banyak waktu dari kebanyakan orang. Jika dalam sehari seseorang mengurangi waktu tidurnya satu jam, dalam setahun ia memiliki kelebihan 360 jam atau 15 hari. Kelebihan hari ini adalah sebuah karunia.
Bapak H. Mas’udi selama hidupnya senantiasa mengajarkan kepada anak-anaknya agar tidur tidak terlalu malam, dan bangun lebih awal daripada orng kebanakan. Beliau selalu menasehati sambil mengutip sebuah kata mutiara, “Early to sleep, early to rise, make healthy wealthy and wise.”
Dalam Alquran disebutkan bahwa tidur diciptakan agar manusia beristirahat.
وَجَعَلۡنَا نَوۡمَكُمۡ سُبَاتٗا ٩
dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat (Annaba/78:9)
Jika ia sudah cukup bristirahat maka tidak perlu lama-lama seseorang tidur.
Demikian lima hal yang merusak hati.
Langganan:
Postingan (Atom)









